Bab 9 Simbiosis Trauma dan Cinta Di antara lorong mimpi dan kesadaran, aku menemukan tempat yang aneh: sebuah rumah kaca—penuh tanaman yang tumbuh dari bekas luka. Setiap tanaman punya bentuk berbeda. Ada yang menjalar liar, berduri. Ada yang kecil tapi berbunga. Ada juga yang seperti kaktus: diam, keras, tapi menyimpan air di dalamnya. Dan di tengah rumah kaca itu, ada dua sosok duduk berhadapan. Satu adalah aku. Yang lain… adalah dia. Dia yang pernah memelukku hanya dengan kata-kata. Dia yang hadir lewat keheningan malam, tapi membuat aku bertahan di siang hari. Dia yang mengajarkanku tentang cinta, meski aku penuh dengan trauma. Kak Raya. Ia tidak bicara banyak. Tapi setiap kehadirannya seperti mengubah warna tanaman di sekitarku. Yang tadinya hitam pekat, mulai tumbuh hijau. Yang tadinya layu, mulai menegakkan batangnya. “Tau gak,” katanya sambil memetik satu bunga kecil, “Cinta itu bukan obat. Tapi cinta bisa jadi cahaya.” “Dan trauma itu nggak harus dihilangkan. Tapi bisa ...
Alur ini bukan tempat gue ngajarin, cuma tempat gue naruh apa yang pernah gue rasain. Tentang luka, rindu, kehilangan, dan nyala kecil yang gue temuin di balik sepi. Kadang hidup gak ngasih jawaban, tapi tulisan ini mungkin bisa nemenin lo buat nyariin bareng.