ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...
MONOKROSO Deklarasi Otonomi Jiwa Penulis: Syahrul Izhar Ramdhani (Rulsflow) alurindo.blogspot.com Abstrak: Monokroso bukan sekadar sebuah istilah, melainkan sebuah gagasan tentang otonomi jiwa. Ia lahir dari pengalaman manusia ketika harus berhadapan dengan kehilangan, luka, harapan, dan kebisingan dunia yang perlahan mengambil alih arah hidupnya. Tulisan ini bukan menawarkan teori baru, melainkan mengajak pembaca merenungkan satu pertanyaan sederhana: siapa yang sebenarnya memimpin kehidupan kita? Monokroso adalah nama bagi keadaan ketika kesadaran mengambil kembali kemudi, bukan untuk menguasai orang lain, melainkan untuk memimpin diri sendiri. Tidak semua revolusi terjadi di jalan. Sebagian lahir di dalam dada. Tidak ada teriakan. Tidak ada bendera. Tidak ada kerumunan. Hanya ada satu manusia yang akhirnya berhenti menyerahkan arah hidupnya kepada suara-suara dari luar. Ketika Jiwa Kehilangan Kemudi...