ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...
Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual Di pantai ini, ombak tinggi menukik curam, Menatap pulau di seberang, bisakah aku sampai ke sana? Di bawah langit yang berkilau, perjalanan ini tiada ujung, Aku mencari cinta, tak sekadar asmara, namun makna mendalam. Kenangan muncul, kau di dalamnya, Namamu entah bagaimana kuingat, Bermain di rumahmu, berenang di kolam jernih, Di lapangan luas, kita berlari, seakan berlari di atas air. Pertemuan dan perpisahan, hatiku selalu bertanya, Adakah cinta sejati yang melampaui batas dunia fana ini? Bertahun-tahun aku berjalan, bertemu banyak wajah, Namun selalu ada kekosongan, sunyi yang membayang. Kekasih yang kutemui, seolah hanya bayang-bayang, Hingga suatu malam, aku menemukan cahaya yang menenangkan, Saat pertama kali kusadari hadirat-Mu, Ada kehangatan yang merasuk, tak seperti yang lain. Dalam keremangan hatiku, Engkau datang sebagai penuntun, Mengisi relung terdalam dengan cinta yang tak pernah pudar. Kerinduan yang lama terpendam,...