Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

JANGAN DIBESAR-BESARKAN

JANGAN DIBESAR-BESARKAN Pagi itu aku mencari pulpen yang kemarin kupakai untuk menulis di buku biru. Tidak ketemu. Aku bongkar laci, angkat tumpukan kertas, bahkan sempat membuka tempat pensil yang jarang kupakai. Pulpen itu ternyata ada di bawah buku catatan. Ibu melihat dari pintu. “Nyari apa?” “Pulpen.” “Dari tadi?” “Iya.” “Yang di tanganmu?” Aku melihat tangan sendiri. Pulpen yang kucari ternyata sudah kugenggam. Ibu tertawa. “Nah. Kadang yang dicari memang sudah ada.” “Kadang yang nyari juga nggak sadar.” “Makanya jangan dibesar-besarkan.” Aku ikut tertawa, lalu memasukkan pulpen ke saku. Kalimat itu terdengar biasa. Aku tidak memikirkannya lagi sampai siang. Di warung, Dims sedang duduk sambil memainkan tutup botol di atas meja. Begitu aku datang, dia langsung menggeser kursi dengan kakinya. “Duduk.” “Ada apa?” “Enggak ada apa-apa.” “Terus kenapa manggil?” “Siapa yang manggil?” “Lu.” “Oh.” Dia mengangguk santai. “Ya udah, duduk aja.” Aku duduk. Pemilik warung menaruh dua gelas te...

AKU MULAI MENCATAT

AKU MULAI MENCATAT Buku itu kutemukan pagi itu, waktu sedang mencari pulpen di laci meja. Sampulnya biru tua, ujungnya sudah mengelupas. Beberapa halaman belakang masih ada nomor telepon yang sudah tidak kuhubungi, dan satu daftar belanja yang entah dibuat kapan. Ibu sedang di dapur. “Mau nulis surat?” “Enggak.” “Terus?” “Nyatet.” Ibu menoleh. “Nyatet apa? Punya utang?” “Enggak juga.” “Terus?” Aku diam sebentar. “Takut lupa.” “Kalau takut lupa, ya jangan lupa.” “Kalau segampang itu, orang nggak perlu kalender, Bu.” Ibu tertawa kecil, lalu kembali ke piring-piringnya. “Ya gimana. Ibu juga nggak bisa bantu soal itu.” Aku membuka halaman kosong dan menulis tanggal. Di bawahnya: Kemarin — aku melihat bengkel Pak Hadi dalam keadaan tertutup. Aku berhenti, membaca ulang. Kata melihat terasa lebih pas daripada langsung menulis bengkel itu tertutup. Aku tidak tahu kenapa, tapi kubiarkan. Aku belum tahu buku ini nantinya cuma akan jadi tempat menyimpan ingatanku sendiri atau berpindah ke tangan...

KEBETULAN PERTAMA

KEBETULAN PERTAMA Besoknya aku bangun lebih siang dari biasanya. Tidak ada rencana khusus. Semalam aku sempat membalas pesan terakhir Dims dengan satu pertanyaan — “Yang mana?” — tapi dia tidak menjawab lagi sampai pagi. Dari dapur terdengar suara piring beradu. Aku keluar kamar dan mendapati Ibu sedang menuang minyak ke botol kecil, konsentrasi penuh supaya tidak tumpah. “Bangun juga.” “Iya.” “Tidurnya jam berapa?” “Lupa.” “Pantes.” Dia tidak menoleh, tapi aku tahu dia sudah menilai dari nada suaranya sendiri. Aku mengambil gelas, mengisinya dengan air. Di atas meja, kabel charger yang kupakai beberapa hari terakhir masih tergeletak — ujungnya sudah terkelupas sedikit, dan kalau ditekuk ke arah tertentu, pengisian masih bisa masuk. “Charger lu masih begitu?” “Masih bisa.” “Kalau masih bisa, kenapa tiap ngecas harus dicari-cari posisinya?” Aku tidak punya jawaban yang lebih baik dari diam. Ibu sudah melanjutkan sendiri. “Sekalian beli. Minyak sama sabun juga, yang biasa.” “Charger yang...

PERCAKAPAN DI TEMPAT YANG BIASA

PERCAKAPAN DI TEMPAT YANG BIASA Tukang cukur langganan Dims letaknya dekat pangkalan ojek, di antara warung kelontong dan bengkel kecil yang pintunya selalu terbuka meskipun sering tidak kelihatan ada orang bekerja di dalamnya. Tempatnya cuma punya satu kursi cukur, satu kipas angin berdiri yang kepalanya miring ke kanan, dan radio kecil di atas lemari kaca. Suaranya kadang tertutup dengung mesin cukur, kadang kalah oleh motor yang lewat di depan. “Tipis aja, Bang,” kata Dims sambil duduk. Tukang cukur mengangguk. Tangannya sudah mengambil sisir sebelum Dims selesai membenarkan posisi duduk. Aku menempati bangku panjang dekat pintu. Di sampingku ada seorang bapak tua dengan koran terbuka di tangan. Dari tadi halaman yang dibacanya tidak berpindah. “Pak, itu dari tadi halaman yang sama,” kataku. Dia menurunkan koran sedikit. “Kena air.” “Basah?” “Dikit. Lagi dikeringin.” Dia mengangkat ujung kertasnya, memeriksa bagian yang terlipat, lalu melanjutkan membaca. Radio di atas lemari tiba-t...

AKU TIDAK INGAT PERSIS

AKU TIDAK INGAT PERSIS Aku baru sadar ada yang salah dengan ingatanku ketika Ibu bertanya soal sandal. “Dek.” “Hm?” “Sandal kamu yang hitam di mana?” Aku sedang duduk di ruang tengah sambil mencari charger di bawah meja. “Di luar, mungkin.” “Yang mana?” “Yang hitam.” Ibu diam. “Yang hitam kan ada dua.” Aku berhenti mencari. “Dua?” “Iya.” Aku melihat ke teras. Di sana memang ada dua pasang sandal hitam. Aku menunjuk yang sebelah kiri. “Yang itu.” “Yakin?” “Kayaknya.” Ibu mengambil sandal itu, membaliknya sebentar, lalu membawanya masuk. “Ini punya adikmu.” “Oh.” “Yang punya kamu yang satunya.” Aku melihat sandal satunya. Bentuknya hampir sama. “Ya sudah, yang itu.” Ibu menatapku. “Lu tidur kurang, ya?” “Enggak.” “Terus?” “Lupa.” “Baru sandal.” “Iya.” Ibu masuk ke kamar sambil membawa dua sandal tadi. Aku kembali mencari charger. Beberapa menit kemudian baru ketemu. Di atas meja. Tempat yang sejak tadi sebenarnya paling dekat dengan tanganku. Aku me...

HAL YANG SEHARUSNYA BIASA

HAL YANG SEHARUSNYA BIASA Sabtu siang, Dims sudah berdiri di depan rumah ketika aku keluar. Motor menyala. Helm satu tergantung di spion, satu lagi dipakai olehnya. Kaosnya kusut di bagian belakang, mungkin karena baru bangun atau memang dari tadi begitu. Dia melihatku dari atas motor. “Lama.” “Aku baru keluar.” “Makanya.” “Lu datangnya kapan?” “Baru.” “Berarti kita sama-sama baru.” Dims menatapku beberapa detik. “Lu kalau pagi-pagi emang begini?” “Ini siang.” Dia melihat jam tangannya. “Wah.” “Apa?” “Lebih parah.” Aku mengambil helm dari jok belakang. “Jadi ke mana?” “Ke rumah Bang Ucup.” “Ngapain?” “Ambil barang.” “Barang apa?” “Barang gue.” “Jawaban lu kalau disuruh bikin formulir pasti pendek-pendek.” “Biar cepat.” Aku memakai helm. “Bang Ucup rumahnya yang mana?” “Yang ada pohonnya.” Aku menatapnya. “Di sini semua rumah ada pohon.” “Ya cari yang paling banyak.” “Informasi lu membantu sekali.” “Makanya ikut.” Aku naik. Motor bergerak keluar dari gang. Di depan rumah sebelah, seoran...

ORANG YANG TERLALU BANYAK MELIHAT

  ORANG YANG TERLALU BANYAK MELIHAT “Lu jadi?” “Jadi.” “Jam berapa?” “Nanti.” Aku menatap layar ponsel beberapa detik. “Nanti jam berapa?” “Ya nanti.” “Jawaban lu makin hari makin berguna.” Dims ketawa dari seberang meja. “Lu yang nanya aneh.” “Jam berapa itu pertanyaan aneh?” “Kalau gue tahu, gue kasih tahu.” “Berarti belum tahu.” “Nah.” Aku memasukkan ponsel ke saku. Percakapan selesai begitu saja, seperti sebagian besar percakapan kami. Tidak selalu perlu ada kesimpulan. Warung itu belum terlalu ramai. Dua meja di depan diisi anak sekolah yang entah sedang membicarakan tugas atau sesuatu yang jauh lebih penting daripada tugas. Di dekat kasir, seorang bapak duduk sendirian dengan segelas kopi yang kelihatannya sudah dingin. Dims sedang makan ketika tiba-tiba melihat ke arah bapak itu. “Kenapa?” Aku mengangkat kepala. “Apa?” “Lu dari tadi lihat sana.” “Mana?” “Yang bapak itu.” Aku ikut melihat. Bapak itu sedang berdiri. Ia berjalan dua langkah ke arah pintu,...

TRUST ME? NO. WATCH ME.

  PROLOG TRUST ME? NO. WATCH ME. Aku pernah mengira orang yang paling sulit dipahami adalah orang yang banyak bicara. Ternyata bukan. Yang sulit justru orang yang jawabannya pendek. “Udah.” “Gak tahu.” “Biasa.” “Lupain aja.” Empat kata yang bisa mengakhiri percakapan dengan rapi. Aku tahu karena beberapa kali aku juga menggunakannya. ____________________________________________________________________ Sore itu aku duduk di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari jalan besar. Kursinya plastik. Meja-mejanya penuh bekas goresan. Kipas di langit-langit berputar sambil mengeluarkan suara tek... tek... tek... setiap beberapa detik. Aku datang terlambat. Temanku sudah hampir selesai makan. “Lu dari mana?” “Rumah.” “Dari rumah selama itu?” Aku duduk. “Iya.” Dia tertawa. “Jawaban macam apa itu?” “Pertanyaannya juga begitu.” Dia menggeleng sambil mendorong satu gelas ke arahku. “Minum.” Aku meminumnya. Dingin. Terlalu manis. Kami ngobrol soal kerjaan, uang, orang yang baru menikah, harga ...