ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...
AKU TIDAK INGAT PERSIS Aku baru sadar ada yang salah dengan ingatanku ketika Ibu bertanya soal sandal. “Dek.” “Hm?” “Sandal kamu yang hitam di mana?” Aku sedang duduk di ruang tengah sambil mencari charger di bawah meja. “Di luar, mungkin.” “Yang mana?” “Yang hitam.” Ibu diam. “Yang hitam kan ada dua.” Aku berhenti mencari. “Dua?” “Iya.” Aku melihat ke teras. Di sana memang ada dua pasang sandal hitam. Aku menunjuk yang sebelah kiri. “Yang itu.” “Yakin?” “Kayaknya.” Ibu mengambil sandal itu, membaliknya sebentar, lalu membawanya masuk. “Ini punya adikmu.” “Oh.” “Yang punya kamu yang satunya.” Aku melihat sandal satunya. Bentuknya hampir sama. “Ya sudah, yang itu.” Ibu menatapku. “Lu tidur kurang, ya?” “Enggak.” “Terus?” “Lupa.” “Baru sandal.” “Iya.” Ibu masuk ke kamar sambil membawa dua sandal tadi. Aku kembali mencari charger. Beberapa menit kemudian baru ketemu. Di atas meja. Tempat yang sejak tadi sebenarnya paling dekat dengan tanganku. Aku me...