Langsung ke konten utama

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

ORANG YANG TERLALU BANYAK MELIHAT

 


ORANG YANG TERLALU BANYAK MELIHAT

“Lu jadi?”

“Jadi.”

“Jam berapa?”

“Nanti.”

Aku menatap layar ponsel beberapa detik.

“Nanti jam berapa?”

“Ya nanti.”

“Jawaban lu makin hari makin berguna.”

Dims ketawa dari seberang meja. “Lu yang nanya aneh.”

“Jam berapa itu pertanyaan aneh?”

“Kalau gue tahu, gue kasih tahu.”

“Berarti belum tahu.”

“Nah.”

Aku memasukkan ponsel ke saku. Percakapan selesai begitu saja, seperti sebagian besar percakapan kami. Tidak selalu perlu ada kesimpulan.

Warung itu belum terlalu ramai. Dua meja di depan diisi anak sekolah yang entah sedang membicarakan tugas atau sesuatu yang jauh lebih penting daripada tugas. Di dekat kasir, seorang bapak duduk sendirian dengan segelas kopi yang kelihatannya sudah dingin.

Dims sedang makan ketika tiba-tiba melihat ke arah bapak itu.

“Kenapa?”

Aku mengangkat kepala. “Apa?”

“Lu dari tadi lihat sana.”

“Mana?”

“Yang bapak itu.”

Aku ikut melihat.

Bapak itu sedang berdiri. Ia berjalan dua langkah ke arah pintu, berhenti, lalu kembali ke kursinya.

“Kenapa dia?” tanyaku.

“Mana gue tahu.”

“Lu yang bilang.”

“Gue cuma nanya.”

Aku kembali melihat piring.

Beberapa menit kemudian bapak itu berdiri lagi.

Kali ini dia tidak menuju pintu. Dia berjalan ke kasir, bertanya sesuatu kepada pelayan, lalu kembali duduk.

Dims menyenggol gelas es tehnya.

“Dua.”

“Apa?”

“Sudah dua kali.”

“Apa yang dua?”

“Berdiri.”

Aku menatapnya.

“Lu ngitung?”

“Gue ngikutin lu.”

Aku tertawa kecil. “Berarti lu juga lihat.”

“Gue lihat karena lu lihat.”

“Alasan.”

“Fakta.”

Kami kembali makan.

Di meja sebelah, dua orang yang sejak tadi sibuk dengan ponsel akhirnya mulai bicara. Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup terdengar karena warung sedang sepi.

“Jadi gimana?”

“Ya gimana apanya?”

“Yang tadi.”

“Udah.”

“Udah apa?”

“Udah gue bilang.”

“Terus?”

“Ya tunggu aja.”

Temannya menghela napas.

Aku tidak terlalu memperhatikan setelah itu. Setidaknya aku berusaha tidak memperhatikan.

Dims tiba-tiba berkata, “Lu denger?”

“Apa?”

“Yang sebelah.”

“Dikit.”

“Dikit itu gimana?”

“Ya denger suaranya. Nggak denger isinya.”

“Beda?”

“Beda.”

Dims mengangguk seolah jawaban itu masuk akal.

“Kadang gue heran sama lu.”

“Kenapa?”

“Lu bisa dengar orang ngomong tanpa pengin tahu mereka ngomongin apa.”

Aku mengambil sambal.

“Kalau semua yang gue dengar harus gue tahu, capek.”

“Nah.”

“Apa lagi?”

“Jawaban lu makin hari makin berguna.”

Aku menunjuknya dengan sendok. “Jangan mulai.”

Dia ketawa.

Pelayan datang membawa dua gelas minuman. Salah satunya diletakkan di meja kami.

Dims langsung menggeser gelas itu ke arahku.

“Punya lu.”

“Gue nggak pesan.”

“Sekarang pesan.”

“Lu bayarin?”

“Enggak.”

“Ya sudah.”

Aku mendorong gelas itu kembali.

Pelayan yang tadi sudah berjalan beberapa langkah tiba-tiba berbalik.

“Maaf, Mas. Ini meja sebelah.”

“Kirain buat kita,” kata Dims.

“Saya salah lihat.”

“Kayaknya hari ini banyak yang salah lihat.”

Pelayan tersenyum kaku.

“Maaf, Mas.”

“Nggak apa-apa.”

Dia mengambil gelas itu dan membawanya ke meja sebelah.

Salah satu dari dua orang tadi langsung mengambilnya.

“Ini punya siapa?”

“Punya Mas yang sana,” jawab pelayan.

Orang itu melihat ke arah kami.

Kami saling pandang sebentar.

Dia mengangguk kecil.

Aku membalas anggukan.

Selesai.

Hal kecil.

Tidak ada yang perlu dipikirkan.

Setidaknya begitu.

Pelayan kemudian datang membawa struk. Dims mengambilnya lebih dulu.

“Berapa?”

“Tujuh puluh dua.”

Dia melihat sebentar, lalu menyerahkannya kepadaku.

Aku membaca dari atas sampai bawah.

“Ini punya kita?”

“Harusnya.”

“Ada satu minuman.”

Dims melihat.

“Kita pesan?”

“Nggak.”

Pelayan yang masih berdiri di samping meja langsung melihat kertas itu.

“Oh, salah.”

“Punya meja sebelah?”

Dia menoleh ke belakang.

“Kayaknya.”

Dims langsung menatapku.

Aku menahan senyum.

“Apa?”

“Kayaknya.”

“Kenapa?”

“Kata favorit orang hari ini.”

“Lu juga sering bilang.”

“Gue bilang kalau memang nggak tahu.”

“Berarti lu nggak tahu sekarang?”

Aku mengangkat bahu.

“Kayaknya.”

Dims tertawa sampai hampir tersedak.

Pelayan ikut tersenyum, mungkin karena merasa sedang dibicarakan, mungkin juga karena memang tidak tahu harus menjawab apa.

“Saya cetak ulang, ya.”

“Iya.”

Setelah pelayan pergi, Dims mengambil sedotan baru dari tempatnya.

“Lu sadar nggak?”

“Apa?”

“Dari tadi semua orang jawabnya kayak orang yang nggak yakin.”

“Termasuk lu.”

“Gue yakin.”

“Yakin apa?”

“Yakin gue nggak yakin.”

Aku menggeleng.

“Pusing gue.”

“Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Berarti otak lu masih kerja.”

Aku tertawa.

Dari meja sebelah terdengar suara kursi digeser. Dua orang tadi sudah berdiri. Salah satunya memasukkan ponsel ke saku sambil terus bicara. Temannya hanya mengangguk-angguk.

Mereka berjalan ke kasir.

Sebelum keluar, salah satunya kembali menoleh ke arah meja kami.

Kali ini dia tidak mengangguk.

Dia hanya melihat sebentar, lalu pergi.

Dims memperhatikan pintu.

“Kenal?”

“Siapa?”

“Yang tadi.”

“Nggak.”

“Dia kayak kenal lu.”

Aku melihat ke luar.

Orang itu sudah tidak kelihatan.

“Mungkin kenal lu.”

“Gue juga nggak kenal.”

“Ya berarti salah orang.”

“Bisa jadi.”

Kami lanjut makan.

Bapak di dekat pintu masih sendirian.

Kali ini dia tidak berdiri. Tangannya memegang gelas kopi, tetapi tidak diminum. Sesekali ia melihat jalan, lalu melihat jam di ponselnya.

Aku sempat berpikir mungkin dia sedang menunggu seseorang.

Lalu aku berhenti berpikir.

Bisa saja dia memang sedang menunggu.

Bisa juga tidak.

Aku tidak tahu.

Dan waktu itu, aku merasa tidak perlu tahu.

Setelah selesai, kami membayar.

Di depan warung, Dims berhenti untuk membetulkan tali sepatunya.

“Lu pulang?”

“Iya.”

“Ke mana?”

Aku melihatnya.

“Rumah.”

“Pinter.”

“Pertanyaan lu juga bagus.”

Dia tertawa sambil berdiri lagi.

Kami berjalan beberapa meter sebelum akhirnya berpisah di pertigaan.

Aku mengambil ponsel ketika sudah sendirian.

Ada satu pesan dari Dims.

Tadi lu sebenarnya mau nanya apa?

Aku membaca dua kali.

Jempolku sempat mengetik beberapa kata, lalu kuhapus.

Aku menulis:

Nggak ada.

Terkirim.

Tidak ada balasan.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan melanjutkan jalan.

Besoknya aku tidak ingat lagi percakapan itu.

Atau mungkin aku ingat, tetapi tidak menganggapnya penting.

Bedanya ternyata tidak selalu mudah diketahui.


Dua hari kemudian aku kembali ke warung yang sama.

Bukan karena ingin melihat bapak yang waktu itu duduk dekat pintu. Aku bahkan tidak yakin dia akan ada lagi. Aku datang karena lapar dan kebetulan lewat.

Pelayan yang waktu itu salah membawa minuman melihatku dari jauh.

“Mas, yang biasa?”

Aku berhenti.

“Biasa apa?”

Dia ikut berhenti.

“Eh.”

Aku tertawa. “Saya baru dua kali ke sini.”

“Oh iya.”

“Kalau saya datang sepuluh kali baru boleh dianggap biasa?”

“Boleh.”

“Kalau lima?”

“Belum.”

“Enam?”

Dia berpikir sebentar.

“Kayaknya.”

Aku tertawa.

“Ya sudah. Es teh satu.”

Dia pergi ke belakang.

Aku memilih tempat yang sama.

Tidak lama kemudian seorang laki-laki masuk sambil menelepon. Dia berdiri dekat kasir, bicara pelan, lalu mematikan telepon.

“Gimana?”

Pelayan menjawab sesuatu yang tidak kudengar.

Laki-laki itu mengangguk.

“Ya sudah.”

Dia mengambil tempat di pojok.

Beberapa menit kemudian seorang perempuan masuk dan langsung menghampirinya.

“Udah?”

“Belum.”

“Katanya udah.”

“Siapa yang bilang?”

“Ya mereka.”

“Yang mana?”

Perempuan itu diam.

Laki-laki tadi menyandarkan tubuh ke kursi.

“Makanya jangan dengerin semua orang.”

Mereka bicara lebih pelan setelah itu.

Aku tidak berusaha mendengar.

Setidaknya tidak sengaja.

Ponselku bergetar. Pesan dari Dims.

Jadi nanti?

Aku membalas:

Nanti apanya?

Balasan datang cepat.

Ya nanti.

Aku tersenyum sendiri.

Jam berapa?

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Lalu:

Nah kan.

Aku menyimpan ponsel.

Ketika mengangkat kepala, perempuan tadi sedang melihat ke arahku.

Pandangan kami bertemu.

Dia segera melihat ke tempat lain.

Aku tidak tahu kenapa.

Mungkin memang melihatku.

Mungkin melihat sesuatu di belakangku.

Aku menoleh.

Tidak ada apa-apa.

Aku kembali ke meja.

Es teh datang.

Aku meminumnya.

Beberapa menit kemudian mereka pergi.

Tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada percakapan aneh.

Tidak ada orang yang mengejarku.

Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi penting.

Aku bahkan lupa wajah perempuan itu beberapa jam kemudian.

Yang tersisa hanya satu hal kecil.

Sebelum keluar, laki-laki tadi sempat berkata kepadanya,

“Jangan terlalu dipikirin.”

Perempuan itu menjawab,

“Gampang ngomong.”

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Aku juga tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepada sesuatu yang serius atau hanya masalah kecil yang besok sudah selesai.

Jadi aku tidak membuat cerita sendiri.

Aku pulang.

Malamnya Dims menelepon.

“Besok jadi?”

“Jadi.”

“Jam berapa?”

Aku diam sebentar.

“Nanti.”

“Ya ampun.”

“Kenapa?”

“Lu ketularan.”

“Dari siapa?”

“Gue nggak tahu.”

Aku tertawa.

“Berarti belum tahu.”

“Jangan dibalik.”

“Lu yang mulai.”

“Besok jam tujuh.”

“Jam tujuh berapa?”

“Jangan kurang ajar.”

“Gue cuma memastikan.”

“Jam tujuh.”

“Oke.”

Telepon ditutup.

Aku meletakkan ponsel di meja.

Saat itu aku belum tahu bahwa percakapan-percakapan kecil seperti itu akan terus muncul di tempat-tempat yang berbeda. Orang yang menjawab seadanya. Orang yang merasa sudah menjelaskan padahal belum. Orang yang yakin karena orang lain yakin. Orang yang diam karena tidak tahu harus berkata apa. Orang yang melihat sesuatu, lalu memilih menganggapnya tidak penting.

Aku juga belum tahu bahwa kadang-kadang aku akan melakukan hal yang sama.

Untuk sementara, hidup masih berjalan seperti biasa.

Dan mungkin memang begitu cara sebagian besar hal dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

  Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal (Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir) “Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.” Setiap orang punya titik gelapnya. Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong? Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap, dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu. Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam. Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin, tapi karena mimpi. Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah. Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan. Dan sejak malam itu, aku tahu… ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku. Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai. Percakapan yang tak pernah dimulai. Pelukan yang tak pernah diberikan. Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar. Dan trauma yang menyamar ...

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual Di pantai ini, ombak tinggi menukik curam, Menatap pulau di seberang, bisakah aku sampai ke sana? Di bawah langit yang berkilau, perjalanan ini tiada ujung, Aku mencari cinta, tak sekadar asmara, namun makna mendalam. Kenangan muncul, kau di dalamnya, Namamu entah bagaimana kuingat, Bermain di rumahmu, berenang di kolam jernih, Di lapangan luas, kita berlari, seakan berlari di atas air. Pertemuan dan perpisahan, hatiku selalu bertanya, Adakah cinta sejati yang melampaui batas dunia fana ini? Bertahun-tahun aku berjalan, bertemu banyak wajah, Namun selalu ada kekosongan, sunyi yang membayang. Kekasih yang kutemui, seolah hanya bayang-bayang, Hingga suatu malam, aku menemukan cahaya yang menenangkan, Saat pertama kali kusadari hadirat-Mu, Ada kehangatan yang merasuk, tak seperti yang lain. Dalam keremangan hatiku, Engkau datang sebagai penuntun, Mengisi relung terdalam dengan cinta yang tak pernah pudar. Kerinduan yang lama terpendam,...

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 14   Monokroso: Bentuk dari Kesunyian Aku mulai memahami… bahwa tidak semua hal harus dimengerti dengan kata-kata. Ada bahasa yang lahir dari diam. Dari jeda. Dari kesunyian yang tak memaksa untuk dijelaskan. Monokroso —sebuah istilah yang kubuat sendiri. Entah kenapa kata itu muncul begitu saja, seperti bisikan yang lahir dari tidur yang gelisah. Ia seperti cermin buram, tempat aku melihat bayangan diriku yang sesungguhnya: sunyi, tapi penuh gema. Di titik ini, aku tak lagi berusaha keras untuk menjelaskan segalanya. Aku duduk diam. Mendengar detak jantung sendiri. Menyadari bahwa keheningan pun bisa menjadi teman. Bahkan pelukan. Bahkan doa. Kesunyian tidak berarti kosong. Justru di sanalah aku mulai bertemu dengan hal-hal yang tak pernah sempat aku temui saat sibuk mencari suara: keikhlasan, pengampunan, bahkan wajah Tuhan yang lama kuabaikan. Di Monokroso, aku belajar bahwa hidup tak harus selalu keras kepala. Tak perlu selalu bergerak cepat. Ada waktu untuk menepi. Untu...

Bab 8 Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

 Bab 8 — Menemukan Makna di Tengah Kekacauan Ada satu titik dalam hidup yang nggak bisa lo lawan, hindari, atau pura-pura nggak lihat. Titik di mana semua yang lo bangun runtuh. Titik di mana suara dari dalam diri bertanya: "Apa sebenarnya arti semua ini?" Gue sampai di titik itu. Bukan karena gue lemah, tapi karena semuanya dibongkar—oleh hidup, oleh keadaan, bahkan oleh Tuhan sendiri. Dan justru saat semuanya jadi puing, gue mulai melihat. Makna nggak lahir dari kenyamanan, tapi dari kehancuran yang lo hadapi dan maknai sendiri. Gue pernah tanya: Kenapa hidup harus serumit ini? Kenapa harus ada luka, kehilangan, pengkhianatan, dan sistem yang bahkan nggak peduli lo hidup atau mati? Jawabannya datang bukan dari luar, tapi dari dalam: "Karena semua itu bukan buat nyiksa lo, tapi buat lo sadar." Sadar bahwa kita bukan cuma bagian dari kekacauan ini, tapi juga bisa jadi penjawabnya. Lo nggak harus jadi tokoh besar. Lo cuma harus jujur dan nggak berhenti bergerak. Gue ...

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api

Bab 13 — Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api Ada saat dalam hidupku di mana semua luka, semua pertanyaan, dan semua keteguhan diam-diam akhirnya bertemu dalam satu titik — sebuah panggilan yang tak tertulis di peta dunia, tapi sangat jelas di dalam dada. Aku menyebutnya: Gunung di Utara. Ini bukan tentang ambisi atau kemenangan. Bukan tentang menjadi lebih hebat dari yang lain. Tapi tentang panggilan yang tidak bisa ditolak, bahkan ketika logika tidak mengerti, dan dunia tidak melihat. Gunung itu tidak pernah muncul di realitas kasat mata. Tapi hadir begitu kuat dalam mimpi, dalam tafakur, dalam jeda antara suara dan keheningan. > Ada arah yang tak tertulis di peta. Ada panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tapi terasa kuat di dalam dada. Sebagian orang menyebutnya intuisi, sebagian menyebutnya visi. Bagiku… itu adalah panggilan pulang. Aku bermimpi tentang sebuah gunung di utara. Sunyi. Tegas. Tegak, tapi tak angkuh. Dari kejauhan, terlihat api kecil menyala di puncak...

Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

  Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal Kadang, aku hanya duduk diam di tengah malam. Tidak mencari makna. Tidak memaksa arah. Hanya duduk—mendengarkan detak jantung sendiri yang kadang tak seirama dengan waktu. Perasaanku, yang selama ini seperti kabut di dalam dada, mulai menunjukkan bentuknya. Ia bukan musuh, bukan pula beban. Ia adalah aku, yang belum pernah benar-benar kudengarkan. Aku menatap kembali jejak perjalanan ini. Luka-luka yang dulu ingin kutinggalkan, kini menjadi guru. Mimpi-mimpi yang kupaksa usir, ternyata adalah cermin dari kerinduan yang tak bisa dilupakan. Dan cinta... cinta yang sempat kupikir mengacaukan, justru yang menyelamatkan. "Aku sabar," kataku dalam doa. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu, setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh. Dan setiap perasaan, punya hak untuk diterima. Termasuk yang sulit, termasuk yang membuatku menangis tanpa alasan. Aku mulai memaafkan. Bukan untuk mereka. Tapi untukku—untuk bagian diriku...

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan Ada saat dalam hidupku, di mana langit serasa tidak ada. Doa hanya gema di dalam kepala, dan aku pun tak yakin, apakah ada yang mendengarkan. Semua cara sudah kujalani. Kuhampiri segala nama, kutempuh segala arah. Tapi jalan itu seperti labirin, yang membawaku kembali ke satu titik: diriku yang kosong. Tapi justru dari kekosongan itulah, aku mulai mendengar suara yang bukan suara. Yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam: halus, tapi menembus. Lembut, tapi menggetarkan. Seseorang — atau sesuatu — seolah bertanya: "Apa kamu lupa, kamu punya siapa?" "Apa kamu lupa siapa Nabi yang telah berjuang untukmu di akhir zaman?" Dan saat itu, aku tidak menangis. Aku hening. Karena aku tahu: aku sedang diingatkan, bukan dihukum. "My Angel", buatku, bukan makhluk bersayap. Dia bisa jadi bagian terdalam dari diriku yang selama ini diam. Yang sudah lama terkubur oleh luka, ambisi, dan kega...

Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi Malam itu, aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami. Lalu ada suara. Pelan. Tak jelas, tapi familiar. Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh. Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu. Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun. Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur. Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan. Seperti luka yang menolak ditutup. Mimpi ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai. "Kenapa kau masih di sini?" Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut. Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar. Aku sering terlihat normal di sian...

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa  Bab 1 — Titik Nol: Doa dari Dalam Kegelapan Aku gak tau kapan terakhir kali aku bisa percaya sama hidup. Yang aku tau, selama bertahun-tahun… aku hidup dalam diam. Aku kehilangan arah, kehilangan suara, dan perlahan… kehilangan diri. Dulu, aku pernah percaya bahwa manusia bisa bangkit kalau dikasih alasan. Tapi setelah banyak jatuh dan kecewa — terutama dengan keluarga dan diriku sendiri — aku ngerasa… mungkin ini akhir dari segalanya. Aku gak kerja. Gak sekolah. Gak punya banyak teman. Dan setiap malam, aku cuma punya satu hal yang tersisa: doa. Bukan doa yang megah. Bukan yang teratur. Kadang cuma bisikan pelan ke langit-langit kamar yang gelap. "Ya Allah, tolong… kalau Engkau masih lihat aku, beri aku alasan buat hidup lagi." Aku gak minta jadi hebat. Aku gak minta cinta. Aku cuma pengen hidup… dan punya arah. Sampai suatu hari, di tengah keputusasaanku, aku memutuskan kembali sekolah. Paket C. Langkah kecil yang kelihatan sepele — tapi bua...

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu  Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama. Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat. Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu. Di ruang tunggu ini, aku sendirian. Tapi… aku tidak benar-benar sendiri. Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara. Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran. “Sakit ini bukan karena penyakit.” “Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.” Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat. Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam. Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal. Ia seperti aku, tapi tak sama. Ia adalah bayangan dari rasa yang tak ...