ORANG YANG TERLALU BANYAK MELIHAT
“Lu jadi?”
“Jadi.”
“Jam berapa?”
“Nanti.”
Aku menatap layar ponsel beberapa detik.
“Nanti jam berapa?”
“Ya nanti.”
“Jawaban lu makin hari makin berguna.”
Dims ketawa dari seberang meja. “Lu yang nanya aneh.”
“Jam berapa itu pertanyaan aneh?”
“Kalau gue tahu, gue kasih tahu.”
“Berarti belum tahu.”
“Nah.”
Aku memasukkan ponsel ke saku. Percakapan selesai begitu saja, seperti sebagian besar percakapan kami. Tidak selalu perlu ada kesimpulan.
Warung itu belum terlalu ramai. Dua meja di depan diisi anak sekolah yang entah sedang membicarakan tugas atau sesuatu yang jauh lebih penting daripada tugas. Di dekat kasir, seorang bapak duduk sendirian dengan segelas kopi yang kelihatannya sudah dingin.
Dims sedang makan ketika tiba-tiba melihat ke arah bapak itu.
“Kenapa?”
Aku mengangkat kepala. “Apa?”
“Lu dari tadi lihat sana.”
“Mana?”
“Yang bapak itu.”
Aku ikut melihat.
Bapak itu sedang berdiri. Ia berjalan dua langkah ke arah pintu, berhenti, lalu kembali ke kursinya.
“Kenapa dia?” tanyaku.
“Mana gue tahu.”
“Lu yang bilang.”
“Gue cuma nanya.”
Aku kembali melihat piring.
Beberapa menit kemudian bapak itu berdiri lagi.
Kali ini dia tidak menuju pintu. Dia berjalan ke kasir, bertanya sesuatu kepada pelayan, lalu kembali duduk.
Dims menyenggol gelas es tehnya.
“Dua.”
“Apa?”
“Sudah dua kali.”
“Apa yang dua?”
“Berdiri.”
Aku menatapnya.
“Lu ngitung?”
“Gue ngikutin lu.”
Aku tertawa kecil. “Berarti lu juga lihat.”
“Gue lihat karena lu lihat.”
“Alasan.”
“Fakta.”
Kami kembali makan.
Di meja sebelah, dua orang yang sejak tadi sibuk dengan ponsel akhirnya mulai bicara. Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup terdengar karena warung sedang sepi.
“Jadi gimana?”
“Ya gimana apanya?”
“Yang tadi.”
“Udah.”
“Udah apa?”
“Udah gue bilang.”
“Terus?”
“Ya tunggu aja.”
Temannya menghela napas.
Aku tidak terlalu memperhatikan setelah itu. Setidaknya aku berusaha tidak memperhatikan.
Dims tiba-tiba berkata, “Lu denger?”
“Apa?”
“Yang sebelah.”
“Dikit.”
“Dikit itu gimana?”
“Ya denger suaranya. Nggak denger isinya.”
“Beda?”
“Beda.”
Dims mengangguk seolah jawaban itu masuk akal.
“Kadang gue heran sama lu.”
“Kenapa?”
“Lu bisa dengar orang ngomong tanpa pengin tahu mereka ngomongin apa.”
Aku mengambil sambal.
“Kalau semua yang gue dengar harus gue tahu, capek.”
“Nah.”
“Apa lagi?”
“Jawaban lu makin hari makin berguna.”
Aku menunjuknya dengan sendok. “Jangan mulai.”
Dia ketawa.
Pelayan datang membawa dua gelas minuman. Salah satunya diletakkan di meja kami.
Dims langsung menggeser gelas itu ke arahku.
“Punya lu.”
“Gue nggak pesan.”
“Sekarang pesan.”
“Lu bayarin?”
“Enggak.”
“Ya sudah.”
Aku mendorong gelas itu kembali.
Pelayan yang tadi sudah berjalan beberapa langkah tiba-tiba berbalik.
“Maaf, Mas. Ini meja sebelah.”
“Kirain buat kita,” kata Dims.
“Saya salah lihat.”
“Kayaknya hari ini banyak yang salah lihat.”
Pelayan tersenyum kaku.
“Maaf, Mas.”
“Nggak apa-apa.”
Dia mengambil gelas itu dan membawanya ke meja sebelah.
Salah satu dari dua orang tadi langsung mengambilnya.
“Ini punya siapa?”
“Punya Mas yang sana,” jawab pelayan.
Orang itu melihat ke arah kami.
Kami saling pandang sebentar.
Dia mengangguk kecil.
Aku membalas anggukan.
Selesai.
Hal kecil.
Tidak ada yang perlu dipikirkan.
Setidaknya begitu.
Pelayan kemudian datang membawa struk. Dims mengambilnya lebih dulu.
“Berapa?”
“Tujuh puluh dua.”
Dia melihat sebentar, lalu menyerahkannya kepadaku.
Aku membaca dari atas sampai bawah.
“Ini punya kita?”
“Harusnya.”
“Ada satu minuman.”
Dims melihat.
“Kita pesan?”
“Nggak.”
Pelayan yang masih berdiri di samping meja langsung melihat kertas itu.
“Oh, salah.”
“Punya meja sebelah?”
Dia menoleh ke belakang.
“Kayaknya.”
Dims langsung menatapku.
Aku menahan senyum.
“Apa?”
“Kayaknya.”
“Kenapa?”
“Kata favorit orang hari ini.”
“Lu juga sering bilang.”
“Gue bilang kalau memang nggak tahu.”
“Berarti lu nggak tahu sekarang?”
Aku mengangkat bahu.
“Kayaknya.”
Dims tertawa sampai hampir tersedak.
Pelayan ikut tersenyum, mungkin karena merasa sedang dibicarakan, mungkin juga karena memang tidak tahu harus menjawab apa.
“Saya cetak ulang, ya.”
“Iya.”
Setelah pelayan pergi, Dims mengambil sedotan baru dari tempatnya.
“Lu sadar nggak?”
“Apa?”
“Dari tadi semua orang jawabnya kayak orang yang nggak yakin.”
“Termasuk lu.”
“Gue yakin.”
“Yakin apa?”
“Yakin gue nggak yakin.”
Aku menggeleng.
“Pusing gue.”
“Bagus.”
“Bagus apanya?”
“Berarti otak lu masih kerja.”
Aku tertawa.
Dari meja sebelah terdengar suara kursi digeser. Dua orang tadi sudah berdiri. Salah satunya memasukkan ponsel ke saku sambil terus bicara. Temannya hanya mengangguk-angguk.
Mereka berjalan ke kasir.
Sebelum keluar, salah satunya kembali menoleh ke arah meja kami.
Kali ini dia tidak mengangguk.
Dia hanya melihat sebentar, lalu pergi.
Dims memperhatikan pintu.
“Kenal?”
“Siapa?”
“Yang tadi.”
“Nggak.”
“Dia kayak kenal lu.”
Aku melihat ke luar.
Orang itu sudah tidak kelihatan.
“Mungkin kenal lu.”
“Gue juga nggak kenal.”
“Ya berarti salah orang.”
“Bisa jadi.”
Kami lanjut makan.
Bapak di dekat pintu masih sendirian.
Kali ini dia tidak berdiri. Tangannya memegang gelas kopi, tetapi tidak diminum. Sesekali ia melihat jalan, lalu melihat jam di ponselnya.
Aku sempat berpikir mungkin dia sedang menunggu seseorang.
Lalu aku berhenti berpikir.
Bisa saja dia memang sedang menunggu.
Bisa juga tidak.
Aku tidak tahu.
Dan waktu itu, aku merasa tidak perlu tahu.
Setelah selesai, kami membayar.
Di depan warung, Dims berhenti untuk membetulkan tali sepatunya.
“Lu pulang?”
“Iya.”
“Ke mana?”
Aku melihatnya.
“Rumah.”
“Pinter.”
“Pertanyaan lu juga bagus.”
Dia tertawa sambil berdiri lagi.
Kami berjalan beberapa meter sebelum akhirnya berpisah di pertigaan.
Aku mengambil ponsel ketika sudah sendirian.
Ada satu pesan dari Dims.
Tadi lu sebenarnya mau nanya apa?
Aku membaca dua kali.
Jempolku sempat mengetik beberapa kata, lalu kuhapus.
Aku menulis:
Nggak ada.
Terkirim.
Tidak ada balasan.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan melanjutkan jalan.
Besoknya aku tidak ingat lagi percakapan itu.
Atau mungkin aku ingat, tetapi tidak menganggapnya penting.
Bedanya ternyata tidak selalu mudah diketahui.
Dua hari kemudian aku kembali ke warung yang sama.
Bukan karena ingin melihat bapak yang waktu itu duduk dekat pintu. Aku bahkan tidak yakin dia akan ada lagi. Aku datang karena lapar dan kebetulan lewat.
Pelayan yang waktu itu salah membawa minuman melihatku dari jauh.
“Mas, yang biasa?”
Aku berhenti.
“Biasa apa?”
Dia ikut berhenti.
“Eh.”
Aku tertawa. “Saya baru dua kali ke sini.”
“Oh iya.”
“Kalau saya datang sepuluh kali baru boleh dianggap biasa?”
“Boleh.”
“Kalau lima?”
“Belum.”
“Enam?”
Dia berpikir sebentar.
“Kayaknya.”
Aku tertawa.
“Ya sudah. Es teh satu.”
Dia pergi ke belakang.
Aku memilih tempat yang sama.
Tidak lama kemudian seorang laki-laki masuk sambil menelepon. Dia berdiri dekat kasir, bicara pelan, lalu mematikan telepon.
“Gimana?”
Pelayan menjawab sesuatu yang tidak kudengar.
Laki-laki itu mengangguk.
“Ya sudah.”
Dia mengambil tempat di pojok.
Beberapa menit kemudian seorang perempuan masuk dan langsung menghampirinya.
“Udah?”
“Belum.”
“Katanya udah.”
“Siapa yang bilang?”
“Ya mereka.”
“Yang mana?”
Perempuan itu diam.
Laki-laki tadi menyandarkan tubuh ke kursi.
“Makanya jangan dengerin semua orang.”
Mereka bicara lebih pelan setelah itu.
Aku tidak berusaha mendengar.
Setidaknya tidak sengaja.
Ponselku bergetar. Pesan dari Dims.
Jadi nanti?
Aku membalas:
Nanti apanya?
Balasan datang cepat.
Ya nanti.
Aku tersenyum sendiri.
Jam berapa?
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Lalu:
Nah kan.
Aku menyimpan ponsel.
Ketika mengangkat kepala, perempuan tadi sedang melihat ke arahku.
Pandangan kami bertemu.
Dia segera melihat ke tempat lain.
Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin memang melihatku.
Mungkin melihat sesuatu di belakangku.
Aku menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Aku kembali ke meja.
Es teh datang.
Aku meminumnya.
Beberapa menit kemudian mereka pergi.
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada percakapan aneh.
Tidak ada orang yang mengejarku.
Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi penting.
Aku bahkan lupa wajah perempuan itu beberapa jam kemudian.
Yang tersisa hanya satu hal kecil.
Sebelum keluar, laki-laki tadi sempat berkata kepadanya,
“Jangan terlalu dipikirin.”
Perempuan itu menjawab,
“Gampang ngomong.”
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Aku juga tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepada sesuatu yang serius atau hanya masalah kecil yang besok sudah selesai.
Jadi aku tidak membuat cerita sendiri.
Aku pulang.
Malamnya Dims menelepon.
“Besok jadi?”
“Jadi.”
“Jam berapa?”
Aku diam sebentar.
“Nanti.”
“Ya ampun.”
“Kenapa?”
“Lu ketularan.”
“Dari siapa?”
“Gue nggak tahu.”
Aku tertawa.
“Berarti belum tahu.”
“Jangan dibalik.”
“Lu yang mulai.”
“Besok jam tujuh.”
“Jam tujuh berapa?”
“Jangan kurang ajar.”
“Gue cuma memastikan.”
“Jam tujuh.”
“Oke.”
Telepon ditutup.
Aku meletakkan ponsel di meja.
Saat itu aku belum tahu bahwa percakapan-percakapan kecil seperti itu akan terus muncul di tempat-tempat yang berbeda. Orang yang menjawab seadanya. Orang yang merasa sudah menjelaskan padahal belum. Orang yang yakin karena orang lain yakin. Orang yang diam karena tidak tahu harus berkata apa. Orang yang melihat sesuatu, lalu memilih menganggapnya tidak penting.
Aku juga belum tahu bahwa kadang-kadang aku akan melakukan hal yang sama.
Untuk sementara, hidup masih berjalan seperti biasa.
Dan mungkin memang begitu cara sebagian besar hal dimulai.

Komentar
Posting Komentar