AKU TIDAK INGAT PERSIS
Aku baru sadar ada yang salah dengan ingatanku ketika Ibu bertanya soal sandal.
“Dek.”
“Hm?”
“Sandal kamu yang hitam di mana?”
Aku sedang duduk di ruang tengah sambil mencari charger di bawah meja.
“Di luar, mungkin.”
“Yang mana?”
“Yang hitam.”
Ibu diam.
“Yang hitam kan ada dua.”
Aku berhenti mencari.
“Dua?”
“Iya.”
Aku melihat ke teras.
Di sana memang ada dua pasang sandal hitam.
Aku menunjuk yang sebelah kiri.
“Yang itu.”
“Yakin?”
“Kayaknya.”
Ibu mengambil sandal itu, membaliknya sebentar, lalu membawanya masuk.
“Ini punya adikmu.”
“Oh.”
“Yang punya kamu yang satunya.”
Aku melihat sandal satunya.
Bentuknya hampir sama.
“Ya sudah, yang itu.”
Ibu menatapku.
“Lu tidur kurang, ya?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Lupa.”
“Baru sandal.”
“Iya.”
Ibu masuk ke kamar sambil membawa dua sandal tadi.
Aku kembali mencari charger.
Beberapa menit kemudian baru ketemu.
Di atas meja.
Tempat yang sejak tadi sebenarnya paling dekat dengan tanganku.
Aku menatap charger itu sebentar.
“Pantes.”
Aku sendiri tidak tahu pantes apa.
Siangnya Dims datang lagi.
Kali ini dia tidak naik motor.
Dia berdiri di depan pagar sambil memegang helm.
“Keluar.”
“Ke mana?”
“Sebentar.”
“Sebentar itu berapa lama?”
“Ya sebentar.”
Aku mengambil sandal.
Dari dalam kamar Ibu berteriak.
“Dek!”
“Iya?”
“Kalau pergi jangan lama-lama!”
“Iya!”
Dims menunggu sampai aku keluar.
“Lu tadi mau makan?”
“Sudah.”
“Jam berapa?”
Aku berpikir.
“Siang.”
“Jam berapa?”
“Kenapa?”
“Gue nanya.”
“Sekitar dua belas.”
Dims melihat jam di ponselnya.
“Sekarang jam satu lewat.”
“Berarti sekitar dua belas.”
“Sekitar?”
“Iya.”
“Lu kalau ngasih waktu kenapa selalu sekitar?”
“Memangnya harus sampai menit?”
“Enggak.”
Dia memasukkan ponsel ke saku.
“Gue cuma nanya.”
Kami berjalan keluar gang.
Di ujung jalan, Dims berhenti.
“Lu inget kemarin?”
“Yang mana?”
Dia menatapku.
“Nah.”
“Apa?”
“Enggak.”
Kami lanjut berjalan.
Aku mencoba mengingat.
Kemarin.
Bang Ucup.
Tas hitam.
Kabel.
Pak Hadi.
Motor.
Warung.
Perempuan.
Pesan dari Dims.
Sampai situ masih jelas.
Atau setidaknya terasa jelas.
“Lu kemarin pulang sama siapa?” tanya Dims.
“Sama lu?”
“Enggak.”
Aku menoleh.
“Bukan?”
“Gue pulang duluan.”
Aku diam.
“Terus gue pulang sama siapa?”
Dims mengangkat bahu.
“Sendiri kali.”
“Kok gue nggak inget?”
“Ya gue juga nggak tahu.”
Kami sampai di depan sebuah toko kelontong.
Dims membeli rokok.
Aku berdiri di sampingnya.
Pemilik toko mengenali Dims.
“Eh, kemarin jadi?”
Dims menoleh.
“Yang mana, Pak?”
“Yang lu bilang.”
“Oh.”
Dims tertawa kecil.
“Nanti.”
Pemilik toko mengangguk seperti sudah mengerti.
Aku tidak bertanya.
Kami berjalan lagi.
Setelah beberapa langkah, Dims berkata,
“Lu sekarang kalau nggak tahu diam.”
“Emang kenapa?”
“Dulu lu cerewet.”
“Gue masih cerewet.”
“Enggak.”
“Buktinya gue ngomong.”
“Ngomong sama nanya beda.”
Aku tersenyum.
“Lu kangen gue nanya?”
“Enggak juga.”
“Berarti aman.”
Dims tertawa.
Kami berhenti di sebuah bengkel kecil.
Seorang laki-laki sedang membungkuk di samping motor dengan kunci pas di tangan.
“Bang,” kata Dims.
“Hmm?”
“Yang kemarin gimana?”
Laki-laki itu melihatku.
“Ini?”
“Teman.”
“Yang kemarin juga?”
Dims tertawa.
“Beda.”
Aku ikut tersenyum.
Laki-laki itu kembali melihat motornya.
“Yang kemarin sudah diambil.”
“Jam berapa?”
“Pagi.”
“Jam berapa, Bang?”
“Ya pagi.”
Aku melihat Dims.
Dia menahan senyum.
“Kenapa?” tanyaku.
“Enggak.”
Laki-laki itu berdiri.
“Lu kemarin datang sini, kan?”
Aku menunjuk diri sendiri.
“Gue?”
“Iya.”
Aku berpikir.
“Kayaknya enggak.”
“Datang.”
Dims langsung berkata, “Dia memang datang.”
Aku menoleh.
“Kapan?”
“Siang.”
“Lu ikut?”
“Enggak.”
“Terus lu tahu?”
“Dari orang.”
“Siapa?”
Dims diam.
Laki-laki itu ikut diam.
Aku melihat keduanya.
“Kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa,” kata Dims.
Laki-laki itu mengambil kain lap.
“Namanya juga lupa.”
Aku tidak menjawab.
Kami pamit.
Di perjalanan pulang, aku mencoba mengingat bengkel tadi.
Aku tidak pernah merasa pernah datang ke sana.
Tapi ada sesuatu yang terasa familiar.
Bukan tempatnya.
Suara kompresor.
Bau oli.
Kursi plastik di dekat pintu.
Sebuah kalender lama yang menggantung miring.
Aku seperti pernah melihat semuanya.
Atau mungkin aku cuma baru melihatnya dan otakku sedang mencoba membuatnya terasa pernah ada.
Aku tidak tahu.
Sore harinya Ibu sedang melipat pakaian di ruang tengah.
“Dek.”
“Iya?”
“Kemarin kamu pulang jam berapa?”
Aku berhenti.
“Kenapa?”
“Ditanya.”
“Sekitar sebelas.”
“Sebelas lewat?”
“Kayaknya.”
“Jam sebelas kurang?”
“Enggak tahu.”
Ibu melipat satu kaus.
“Bukannya jam sepuluh?”
Aku menatapnya.
“Katanya Ibu tadi sebelas.”
“Ibu nggak bilang sebelas.”
Aku diam.
Ibu tersenyum kecil.
“Makanya kalau ditanya jangan asal jawab.”
“Aku kira sebelas.”
“Kamu lihat jam?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Ya kira-kira.”
Ibu mengangguk.
“Berarti bukan ingat.”
“Terus apa?”
“Nebak.”
Aku tertawa.
“Ibu sekarang pintar.”
“Dari dulu.”
“Baru kelihatan.”
“Ya kamu yang baru lihat.”
Aku mengambil pakaian yang sudah dilipat dan membawanya ke kamar.
Di depan pintu, aku berhenti.
Kalimat itu terasa biasa.
Tapi entah kenapa aku mengingatnya.
Ya kamu yang baru lihat.
Malamnya aku membuka ponsel.
Pesan Dims masih ada.
Besok jadi.
Udah.
Jangan bilang siapa-siapa dulu.
Aku membaca percakapan itu lagi.
Kali ini aku tidak merasa penasaran.
Aku malah mencoba mengingat kapan sebenarnya aku membaca pesan pertama.
Di ruang tengah?
Di kamar?
Di jalan?
Sebelum tidur?
Aku tidak tahu.
Aku melihat jam.
Lalu mencoba mengingat apa yang kulakukan setelah membaca pesan itu.
Tidak ada.
Atau ada.
Aku ingat meletakkan ponsel.
Aku ingat berdiri.
Aku ingat mengambil minum.
Setelah itu?
Kosong.
Bukan kosong seperti tidak terjadi apa-apa.
Lebih seperti ada bagian yang tidak pernah kusimpan.
Aku membuka galeri.
Foto terakhir kemarin diambil pukul 16.37.
Foto itu cuma gambar jalan.
Entah kenapa aku mengambilnya.
Aku memperbesar.
Tidak ada apa-apa.
Jalan.
Motor.
Pohon.
Tiang listrik.
Bayangan seseorang di pinggir foto.
Aku memperkecil lagi.
Aku tidak mengenali bayangan itu.
Mungkin aku.
Mungkin orang lain.
Aku membuka foto berikutnya.
Tidak ada.
Berikutnya lagi.
Tidak ada.
Aku berhenti.
Ternyata aku tidak punya foto setelah pukul 16.37 sampai pagi.
Padahal ponselku selalu bersamaku.
Aku menutup galeri.
Kemudian membuka lagi.
Seolah-olah foto tambahan akan muncul kalau aku mencoba untuk kedua kalinya.
Tetap tidak ada.
Besoknya Dims datang pagi-pagi.
“Lu semalam tidur jam berapa?”
“Enggak tahu.”
“Tumben jujur.”
“Gue sering jujur.”
“Kalau lu lupa, iya.”
Aku duduk di teras.
Dims berdiri sambil memainkan kunci motor.
“Lu inget kemarin sore?”
“Sebagian.”
“Bagian mana?”
Aku menyebutkan yang kuingat.
Bengkel.
Toko.
Pulang.
Pesan.
Dims mengangguk.
“Terus?”
“Terus apa?”
“Lu pergi lagi.”
Aku menatapnya.
“Ke mana?”
Dims tidak langsung menjawab.
“Lu serius nggak inget?”
“Iya.”
“Gue kira lu pura-pura.”
“Kenapa gue harus pura-pura?”
“Entahlah.”
Dia duduk di kursi sebelah.
Beberapa saat kami diam.
“Lu kemarin ke tempat Pak Hadi,” katanya.
Aku mengerutkan kening.
“Pak Hadi?”
“Iya.”
“Yang soal motor?”
“Iya.”
“Aku nggak ingat.”
Dims melihat ke jalan.
“Ya sudah.”
“Jam berapa?”
“Menjelang magrib.”
Aku mencoba mengingat.
Ada suara motor.
Ada jalan sempit.
Ada seseorang membuka pagar.
Ada—
Aku berhenti.
“Siapa yang buka pagar?”
Dims menoleh.
“Pak Hadi.”
Aku mengangguk pelan.
Kemudian aku sadar ada sesuatu yang aneh.
Aku tahu pagar itu.
Aku tahu bentuknya.
Aku bahkan seperti ingat suara engselnya.
Tapi aku tidak ingat pernah berdiri di depannya.
“Lu yakin gue datang?”
“Yakin.”
“Lu ikut?”
“Enggak.”
“Terus siapa yang ikut?”
Dims mengangkat bahu.
“Gue kira lu ingat.”
Aku tertawa kecil.
“Lucu.”
“Apanya?”
“Dari kemarin semua orang mengira gue ingat.”
Dims ikut tersenyum.
“Ya mungkin lu memang sering lupa.”
“Mungkin.”
Dia berdiri.
“Kalau gitu jangan dipikirin.”
Aku melihatnya.
“Kenapa?”
“Bisa jadi memang nggak penting.”
Dims berjalan ke pagar.
Sebelum pergi dia berhenti.
“Eh.”
“Apa?”
“Lu tadi bilang siapa yang buka pagar?”
“Pak Hadi.”
Dims mengangguk.
“Berarti masih ada yang lu ingat.”
“Sebagian.”
“Ya sudah.”
Dia pergi.
Aku tetap duduk.
Beberapa menit kemudian Ibu keluar membawa jemuran.
“Dek.”
“Iya?”
“Kamu kenapa dari tadi duduk?”
“Lagi inget-inget.”
“Ngapain?”
“Lupa.”
Ibu tertawa.
“Kalau lupa ya sudah.”
Aku ikut tertawa.
Tapi kali ini aku tidak langsung mengangguk.
Aku melihat jalan di depan rumah.
Ada orang lewat.
Ada motor.
Ada suara pedagang.
Ada anak kecil berlari mengejar sesuatu.
Semuanya berjalan seperti biasa.
Aku mencoba mengingat kemarin.
Tidak berhasil.
Aku mengambil ponsel.
Membuka catatan baru.
Kuketik:
Kemarin.
Aku berhenti.
Di bawahnya kutulis:
Aku tidak ingat persis.
Lalu aku menatap kalimat itu cukup lama.
Untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba mengisi bagian yang kosong.

Komentar
Posting Komentar