ORANG YANG MENATAP BALIK
Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis.
“Bawa ke Pak Hadi.”
Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?”
“Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.”
Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu.
“Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?”
“Enggak.”
“Ya sudah. Bawa.”
Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dekat pintu duduk seorang anak kecil, memegang kerupuk yang hampir sebesar mukanya.
Anak itu melihatku lebih dulu.
“Pak, ada yang ngintip.”
“Ngintip apa?” Pak Hadi tidak menoleh.
“Itu. Kakak yang suka berhenti.”
Pak Hadi mengangkat kepala, melihatku beberapa detik, lalu tertawa pendek. “Ha. Namanya lewat, Dek. Anak kecil ya begitu, semua yang berhenti dikira ngintip.”
“Saya nggak berhenti lama, Pak.”
“Lama,” kata anak itu sambil menggigit kerupuknya. “Kemarin. Sampai Bapak batuk.”
Pak Hadi terbatuk dua kali, seolah mau membuktikan. Aku maju dan menaruh kipas di meja, supaya tidak perlu memutuskan harus tertawa atau menunduk. Kemarin aku merasa cuma berhenti sebentar. Ternyata ada yang menganggapnya cukup lama untuk diingat.
“Mati total atau nyala-mati?” Pak Hadi sudah memutar kipas itu di tangannya.
“Mati total.”
“Dicoba di stopkontak lain?”
“Sudah. Ibu bahkan nepuk-nepuk.”
“Nepuk itu jurus orang sabar.” Dia membalik badan kipas, menekan kabel dekat colokan dengan ibu jari, lalu tersenyum sendiri. “Nah. Kabelnya yang capek, bukan kipasnya. Putus di dalam, kulitnya masih utuh jadi nggak kelihatan.”
Dia mengambil sepotong kabel dari tumpukan di ujung meja dan mengupas ujungnya dengan tang, gerakannya cepat seperti orang yang sudah melakukan hal sama ribuan kali. Timbangan kecil itu masih ada di sebelah tumpukan, piringnya bersih mengilap.
“Buat nimbang baut,” kata Pak Hadi, padahal aku tidak bertanya. “Orang sekarang belinya eceran, maunya pas.”
“Oh.”
“Ha.”
Dia menarik buku nota lusuh dari bawah meja dan menulis dengan pulpen yang tintanya hampir habis, menekan-nekan kertas supaya tulisannya keluar. Dari tempatku berdiri, aku bisa membaca tulisan yang menghadap ke arahku. Setrika — Bu Isah. Rantai — Dims. Lalu baris baru: Kipas — rumah Pak Darmo.
Bukan namaku. Cuma rumah, dan nama bapakku.
“Terus terang ya, Dek,” katanya sambil memasang kabel baru ke colokan, “Bapak dulu kira kamu orang kelurahan.”
“Kelurahan?”
“Atau yang disuruh pemilik ruko sini ngecek-ngecek. Cara lewatnya pelan, nengok-nengok. Orang biasa mah lewat aja.” Dia tertawa lagi, tetapi kali ini tawanya cepat selesai. “Terus Dims mampir tadi pagi, katanya bukan. Katanya kamu memang begitu.”
“Begitu gimana?”
“Ya begitu.” Dia menyodorkan obeng ke arahku. “Dek, tolong ambilin yang gagangnya merah. Di laci itu.”
Obengnya memang ada di laci, gagangnya memang merah. Begitu alat itu berpindah ke tangannya, kipas di meja menyala. Baling-balingnya berputar pelan, lalu kencang, meniup kertas di ujung meja sampai anak kecil itu menjerit senang.
“Berapa, Pak?”
“Dua puluh lima.”
Kutaruh uang di meja. Pak Hadi mendorongnya balik sedikit ketika melihat pecahan yang kuberikan, lalu menerima setelah kuhitung ulang. Semuanya selesai dengan rapi: kipas jadi, uang dibayar, salam untuk rumah sudah dititipkan. Aku sudah memutar badan setengah ketika mulutku bergerak lebih dulu daripada rencanaku.
“Pak. Dims pernah bilang saya ke sini sore itu, menjelang magrib. Saya nggak ingat. Waktu itu saya ngapain?”
Tangan Pak Hadi sudah meraih kain lap, mulutnya hampir menyuruhku mengambilkan sesuatu lagi. Lalu dia berhenti. Lap itu diletakkan kembali. Anak kecil tadi juga berhenti mengunyah.
“Kamu beneran nggak ingat,” katanya, “atau lagi mancing biar saya yang cerita?”
“Beneran nggak ingat, Pak.”
Dia memandangku cukup lama tanpa tertawa. Kacamatanya masih di ujung hidung, tetapi matanya terbuka penuh di atas bingkai. Aku baru sadar bahwa selama ini aku lebih sering memperhatikan apa yang dikerjakannya daripada memperhatikan bagaimana dia melihatku.
“Sore,” katanya akhirnya. “Menjelang azan. Kamu duduk di kursi depan situ, minta air putih, saya kasih. Kamu tanya Dims sudah ke sini apa belum. Saya bilang belum. Terus kamu diam lama, ngeliatin jalan. Saya ke belakang sebentar, pas balik kamu sudah nggak ada.”
Dia mengangkat bahu. “Gelasnya masih di kursi. Airnya masih penuh.”
Aku menengok kursi dekat pintu. Catnya terkelupas di sisi kiri, satu kakinya diganjal potongan kayu. Kursi itu cuma kursi. Aku tahu bentuknya, tetapi tidak punya ingatan pernah duduk di sana.
“Kalau kamu ingat,” kata Pak Hadi, “bilang saya.”
“Kakak nanyain siapa?” Anak kecil itu menoleh kepadaku. “Dims yang rantainya bunyi?”
“Ssst. Makan kerupukmu.”
Aku pamit. Di pintu, aku menoleh sekali lagi. Pak Hadi sudah membungkuk ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan seperti percakapan tadi tidak perlu dibawa ke mana-mana. Kain lap yang sempat ia letakkan masih terlipat rapi di sisi meja.
Sorenya Dims datang tanpa klakson. Dia duduk di anak tangga teras, membuka bungkus kacang, dan baru bicara setelah mengunyah cukup lama.
“Lu ke bengkel tadi?”
“Anter kipas Ibu.”
“Gue tahu. Anak kerupuk itu udah cerita ke satu gang. Katanya ada kakak yang ngintip tapi bawa kipas.”
“Gue nggak ngintip.”
“Gue juga bilang gitu. Tapi kesaksian lu kalah sama kesaksian anak kecil.” Dia melempar kacang ke mulut. “Pesan dari warung udah gue sampein ke Pak Hadi, omong-omong.”
“Terus?”
“Dia bilang iya.”
“Cuma itu?”
“Lu mau dia bikin pidato?”
Aku tertawa. Dims diam sebentar sebelum meneruskan, kali ini lebih pelan. “Lu sekarang ke mana-mana bawa buku. Orang jadi mikir lu lagi ngumpulin sesuatu.”
“Ngumpulin apa?”
“Nah, itu dia. Anak warung bilang lu wartawan. Ada yang bilang lu bikin skripsi. Bu Isah bilang lu disuruh orang. Pak Hadi bilang lu orang kelurahan.”
“Terus lu bilang apa?”
“Gue bilang lu cuma kurang kerjaan.”
“Makasih.”
“Itu pembelaan terbaik yang gue punya.” Dia membersihkan tangan ke celana. “Lucunya, nggak ada yang nanya langsung ke lu. Mereka udah punya jawabannya masing-masing.”
Aku memandangi kulit kacang di anak tangga. Karena pagi tadi sudah terlanjur bertanya sekali, aku bertanya lagi.
“Pak Hadi bilang sore itu gue nanyain lu.”
Dims berhenti mengunyah. Cuma sebentar, tetapi cukup untuk membuatku memperhatikan.
“Ya mungkin. Lu kan sering nanyain gue. Gue sampai hafal bunyinya.” Dia tertawa, sedikit terlambat. “Gue nggak ikut waktu itu. Kalau gue ada di sana, lu nggak perlu nanyain gue ke Pak Hadi.”
“Terus kenapa gue nyari lu di sana?”
“Kenapa lu nanya ke gue? Yang nyari kan lu.” Dia berdiri dan menepuk-nepuk celananya. “Dulu lu cerewet. Sekarang lu detail. Gue masih nyari di mana lu naruh yang cerewet.”
Motornya pergi dengan satu klakson pendek. Aku masih duduk di tangga, mengingat versi-versi yang baru kudengar: orang kelurahan, wartawan, mahasiswa yang mengerjakan skripsi, orang suruhan, orang kurang kerjaan. Tidak satu pun terasa seperti diriku, meski mungkin setiap orang yang menyebutnya punya alasan sendiri.
Aku juga punya versi tentang Pak Hadi: tas hitam, potongan kabel, timbangan kecil. Aku belum pernah menanyakan semuanya kepadanya. Selama ini aku merasa cukup dengan melihat, menyimpan, lalu membiarkan pikiran bekerja sendiri. Ternyata orang lain juga melakukan hal serupa kepadaku, hanya saja aku tidak tahu apa yang mereka lihat.
Sebelum magrib, aku membuka buku biru. Biasanya isinya apa yang kulihat, apa yang kudengar, dan apa yang kukira. Kali ini kutulis yang paling mudah dulu.
Pak Hadi mengira aku orang kelurahan. Orang warung mengira aku wartawan.
Dua baris itu kupandangi cukup lama. Baru kali ini buku ini berisi diriku dari sudut pandang orang lain, dan tulisan itu terasa lebih asing daripada catatan tentang bengkel mana pun. Lalu kutulis bagian yang lebih sulit.
Pak Hadi bilang aku datang menjelang azan, duduk di kursi depan, minta air putih, lalu menanyakan Dims. Menurutnya, gelas itu masih penuh ketika aku pergi.
Kubuka galeri. Foto pukul 16.37 itu masih ada: jalan, motor, pohon, tiang listrik, dan bayangan di pinggir bingkai yang dulu kuperbesar karena tidak kukenali. Kuperbesar lagi. Bayangan itu tetap tidak jelas; bisa orang, bisa tiang, bisa sesuatu yang hanya tampak seperti bentuk manusia di sudut foto.
Dari waktu foto itu diambil sampai Pak Hadi mengingatku di kursinya, ada bagian yang belum bisa kujelaskan. Sesudah aku pergi dari bengkel, ada bagian lain yang hanya bisa kuceritakan melalui ingatan orang lain. Pak Hadi memegang satu potongan. Aku masih belum tahu di mana potongan lainnya.
Di bawah catatan tadi kutulis:
Pak Hadi mencatatku sebagai “rumah Pak Darmo”. Aku mencatat Pak Hadi sebagai—
Pulpennya berhenti di situ. Aku menunggu kata berikutnya, tetapi tidak datang. Kalimat itu kubiarkan tanpa titik.
Selepas magrib, lampu teras tidak mau menyala. Ibu menyuruhku mengganti bohlam, jadi aku berdiri di atas kursi plastik dengan bohlam baru di saku, menunggu yang lama selesai kuputar lepas.
Dari ketinggian itu ujung gang kelihatan jelas. Lampu jalan di sana baru menyala setengah, kuning pucat. Di bawahnya ada seseorang berdiri.
Dia tidak bergerak. Tinggi, kupikir. Atau mungkin biasa saja; saat kulihat lagi, ukuran tubuhnya sulit kutentukan. Seperti orang yang sedang menunggu seseorang yang belum datang. Pakaiannya gelap, tetapi aku tidak bisa memastikan warnanya. Wajahnya menghadap ke sini, atau ke rumah sebelah. Dari jarak itu, yang bisa kupastikan hanya satu: ada seseorang di sana, dan aku merasa sedang diperhatikan.
Sebuah motor melintas, menyapu gang dengan lampunya. Aku berkedip.
“Nyari apa di atas situ?”
Ibu berdiri di bawah kursi sambil memegang gelas. Aku turun pelan.
“Ada orang di ujung gang.”
Ibu menyipitkan mata ke arah sana. “Orang? Bukannya itu tiang listrik sama gerobak yang biasa parkir di situ?” Ia mengambil bohlam lama dari tanganku, lalu mengangkatnya ke cahaya. “Kamu sudah makan belum? Mukamu kayak orang kurang nasi.”
“Belum.”
“Nah.”
Aku menengok sekali lagi sebelum masuk. Tiang listrik. Gerobak dengan terpal biru terikat miring. Ibu menekan saklar, dan lampu teras menyala kuning, terang, terlalu dekat untuk menerangi ujung gang.
“Besok beliin bohlam satu lagi,” katanya. “Yang ini cadangan terakhir.”
“Iya, Bu.”
Aku masuk untuk mengambil piring. Di meja, kipas yang tadi diperbaiki berputar menghadap dinding. Kertas belanjaan yang tergeletak di dekatnya bergerak sedikit setiap kali baling-baling menyapu udara.
Aku berdiri sebentar, melihat kipas itu bekerja, lalu mengambil piring seperti biasa.

Komentar
Posting Komentar