JANGAN DIBESAR-BESARKAN
Pagi itu aku mencari pulpen yang kemarin kupakai untuk menulis di buku biru. Tidak ketemu. Aku bongkar laci, angkat tumpukan kertas, bahkan sempat membuka tempat pensil yang jarang kupakai. Pulpen itu ternyata ada di bawah buku catatan.
Ibu melihat dari pintu.
“Nyari apa?”
“Pulpen.”
“Dari tadi?”
“Iya.”
“Yang di tanganmu?”
Aku melihat tangan sendiri. Pulpen yang kucari ternyata sudah kugenggam.
Ibu tertawa. “Nah. Kadang yang dicari memang sudah ada.”
“Kadang yang nyari juga nggak sadar.”
“Makanya jangan dibesar-besarkan.”
Aku ikut tertawa, lalu memasukkan pulpen ke saku.
Kalimat itu terdengar biasa. Aku tidak memikirkannya lagi sampai siang.
Di warung, Dims sedang duduk sambil memainkan tutup botol di atas meja. Begitu aku datang, dia langsung menggeser kursi dengan kakinya.
“Duduk.”
“Ada apa?”
“Enggak ada apa-apa.”
“Terus kenapa manggil?”
“Siapa yang manggil?”
“Lu.”
“Oh.” Dia mengangguk santai. “Ya udah, duduk aja.”
Aku duduk.
Pemilik warung menaruh dua gelas teh di meja sebelah. Salah satunya langsung diambil orang yang baru datang.
“Masih ada?”
“Ada.”
“Yang kemarin?”
“Yang mana?”
“Ya yang itu.”
Pemilik warung diam sebentar. “Kalau yang itu, tanya dia.”
Orang tadi melihat ke arah Dims. Dims pura-pura sibuk melihat ponselnya.
Aku menoleh ke Dims. Dia menutup layar. “Kenapa?”
“Enggak.”
“Lu kalau ngelihat orang jangan kayak mau menginterogasi.”
“Gue cuma lihat.”
“Nah. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku tersenyum. “Kenapa hari ini semua orang ngomong begitu?”
“Ngomong apa?”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Dims mengangkat bahu. “Ya kadang emang nggak perlu dibesar-besarkan.”
Aku belum sempat menjawab ketika pemilik warung memanggilnya.
“Dims.”
“Apa?”
“Kalau ketemu Pak Hadi, bilang barangnya jangan kelamaan.”
Dims tidak langsung menjawab.
“Barang apa?”
Pemilik warung menatapnya.
“Ya barang yang kemarin.”
Dims menghela napas pendek. “Iya.”
Aku tetap penasaran. Tapi aku sudah mulai tahu, ada pertanyaan yang kalau dikeluarkan justru membuat percakapan berubah. Orang yang tadinya santai bisa mendadak berhati-hati. Orang yang tadinya bicara bisa memilih diam. Jawaban yang muncul setelah didesak kadang malah lebih jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi aku diam dan menghabiskan teh.
Aku tidak punya urusan dengan siapa pun di sana selain urusanku sendiri. Kalau Dims punya urusan dengan Pak Hadi, itu urusan Dims. Kalau orang-orang di warung punya cerita yang tidak selesai, aku tidak perlu ikut menjadi bagian dari cerita itu hanya supaya semuanya terasa lengkap.
Pulang dari warung, aku lewat gang kecil di belakang rumah Bu Isah. Dia sedang menyapu halaman dan berhenti sebentar waktu melihatku.
“Dek.”
“Iya, Bu?”
“Katanya kamu sering mampir ke bengkel Pak Hadi.”
Aku agak kaget. “Siapa yang bilang, Bu?”
“Nggak tahu. Denger-denger aja dari orang.”
“Denger dari siapa?”
Bu Isah menyandarkan sapunya ke pagar. “Lupa. Pokoknya ada yang cerita.”
“Cerita apa?”
“Ya cuma itu. Kamu sering ke sana.”
“Terus kenapa, Bu?”
Dia mengangkat bahu.
“Nggak kenapa-kenapa. Cuma jangan terlalu sering aja. Nanti dikira macam-macam.”
“Dikira macam-macam sama siapa?”
“Ya orang-orang.”
Aku menunggu sebentar. Tidak ada tambahan.
Bu Isah mengambil sapunya lagi dan mulai menyapu seperti percakapan tadi sudah selesai.
Aku berjalan lagi sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar bicara dengan Bu Isah soal bengkel Pak Hadi.
Tidak pernah.
Bengkel Pak Hadi terbuka ketika aku lewat. Aku melirik ke dalam sebentar. Tas kain hitam yang kemarin kulihat tidak ada di lantai. Timbangan kecil masih berada di meja. Di dekatnya ada beberapa potongan kabel dan benda-benda kecil yang sulit kukenali dari jalan.
Aku berhenti.
Lalu berjalan lagi.
Tidak ada yang terjadi.
Setidaknya dari tempatku berdiri.
Sampai di rumah, aku membuka buku biru. Tanganku sempat berhenti di atas halaman kosong. Aku hampir menulis tentang bengkel, tas, timbangan, percakapan di warung, dan sekarang Bu Isah.
Hampir.
Lalu kutulis:
Bengkel Pak Hadi terbuka hari ini.
Aku berhenti sebentar.
Di bawahnya:
Di warung, Dims diminta menyampaikan sesuatu kepada Pak Hadi. Bu Isah bilang orang-orang sudah membicarakan aku yang sering ke sana, tapi dia sendiri tidak ingat dari siapa dia dengar.
Aku membaca ulang.
Kali ini tidak kutambahkan dugaan apa pun.
Mungkin memang begitu seharusnya mencatat sesuatu: menyimpan apa yang terjadi sebelum kepala sendiri buru-buru menyelesaikannya.
Kalau aku menulis terlalu banyak, sesuatu yang kecil bisa kelihatan besar. Satu kalimat bisa membuat percakapan biasa terlihat seperti petunjuk. Satu benda bisa berubah menjadi bukti hanya karena kutaruh bersebelahan dengan benda lain. Satu kebetulan bisa terasa seperti pola kalau terlalu lama dipandangi.
Aku menutup buku.
Beberapa menit kemudian kubuka lagi.
Di halaman berikutnya kutulis:
Jangan dibesar-besarkan.
Aku tersenyum sendiri.
Lucu juga.
Judul itu terdengar seperti nasihat.
Padahal mungkin cuma peringatan.
Atau mungkin aku memang sedang mencari sesuatu yang tidak ada.
Aku menatap halaman itu lagi. Ada hal yang mulai terasa berbeda. Bukan pada apa yang kulihat, melainkan pada caraku mulai menunggu sesuatu terjadi.
Aku coret kalimat terakhir.
Terlalu jauh.
Kutulis lagi:
Besok belum tentu ada apa-apa.
Kali ini kubiarkan.
Buku kututup.
Di luar, suara orang memanggil seseorang dari ujung gang. Ada motor berhenti, kemudian pergi lagi. Ibu sedang berbicara dengan tetangga. Seseorang tertawa.
Semuanya terdengar biasa.
Dan mungkin memang biasa.
Aku berdiri di dekat jendela beberapa saat, lalu kembali mengambil buku itu. Halaman terakhir masih kosong.
Aku menulis satu kalimat lagi, lebih kecil dari yang sebelumnya:
Kalau nanti ternyata ada sesuatu, aku tetap ingin tahu kapan aku mulai melihatnya—bukan kapan aku mulai mengira-ngiranya.
Tinta di ujung kalimat itu masih basah ketika buku kututup.
Kali ini aku tidak mencoba menambahkan apa-apa.

Komentar
Posting Komentar