Langsung ke konten utama

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

PERCAKAPAN DI TEMPAT YANG BIASA

PERCAKAPAN DI TEMPAT YANG BIASA

Tukang cukur langganan Dims letaknya dekat pangkalan ojek, di antara warung kelontong dan bengkel kecil yang pintunya selalu terbuka meskipun sering tidak kelihatan ada orang bekerja di dalamnya. Tempatnya cuma punya satu kursi cukur, satu kipas angin berdiri yang kepalanya miring ke kanan, dan radio kecil di atas lemari kaca. Suaranya kadang tertutup dengung mesin cukur, kadang kalah oleh motor yang lewat di depan.

“Tipis aja, Bang,” kata Dims sambil duduk.

Tukang cukur mengangguk. Tangannya sudah mengambil sisir sebelum Dims selesai membenarkan posisi duduk.

Aku menempati bangku panjang dekat pintu. Di sampingku ada seorang bapak tua dengan koran terbuka di tangan. Dari tadi halaman yang dibacanya tidak berpindah.

“Pak, itu dari tadi halaman yang sama,” kataku.

Dia menurunkan koran sedikit. “Kena air.”

“Basah?”

“Dikit. Lagi dikeringin.” Dia mengangkat ujung kertasnya, memeriksa bagian yang terlipat, lalu melanjutkan membaca.

Radio di atas lemari tiba-tiba berganti lagu. Dari luar terdengar suara tukang ojek memanggil penumpang.

“Bang,” kata bapak itu kepada tukang cukur, “jalan depan gang jadi dibenerin kapan?”

Mesin cukur masih menyala.

“Katanya minggu depan.”

“Katanya siapa?”


Tukang cukur mengangkat bahu kecil. “Ya katanya.”

Bapak itu tertawa lewat hidung. “Jawaban paling aman.”

Dims membuka mata sebentar. “Emang rusak parah, Pak?”

“Belum sampai bikin orang masuk rumah sakit. Tapi tiap hujan jadi kolam kecil.” Bapak itu melipat korannya sedikit. “Dua tahun begitu.”

Aku melihat keluar. Dari tempat dudukku, lubang itu memang kelihatan. Tidak besar, tetapi posisinya pas di jalur roda motor. Di tepinya masih ada bekas cat putih yang sudah pudar, membentuk garis setengah lingkaran. Sepertinya dulu pernah ada sesuatu yang ditandai di sana.

“Dulu ada cone,” kata bapak itu.

“Yang oranye?” tanya Dims.

“Iya.”

“Sekarang?”

“Mana saya tahu.”

Tukang cukur mematikan mesin sebentar untuk mengganti sisir.


“Kayaknya dipindah,” katanya.

“Dipindah ke mana?” tanya Dims.

“Ya jangan tanya saya.”


Bapak itu tertawa. “Nah, itu baru jawaban jujur.”

Kami ikut tertawa kecil. Tidak ada yang membicarakannya lagi sampai sebuah motor lewat dan roda depannya masuk ke bagian jalan yang cekung.


Bruk.

Pengendaranya mengurangi gas sebentar, lalu terus jalan.

“Lihat?” kata bapak itu. “Masih bisa lewat.”

“Kalau begitu aman,” ujar Dims.


“Besok-besok motornya yang bilang aman.”

Dims tertawa. Tukang cukur cuma mengusap bagian belakang kepalanya dengan telapak tangan untuk mengecek panjang rambut.


“Pak sendiri udah lapor?” tanya Dims.

Bapak itu diam sebentar.

“Belum.”


“Nah.”

“Lu udah?”

“Belum juga.”

“Ya sama aja.”


Tukang cukur memasang kain penutup lagi di bahu Dims. “Kalau nunggu orang lain, ya sampai besok.”


Bapak itu menunjuk jalan dengan dagunya. “Saya kira sudah ada yang urus.”

“Semua juga kira begitu,” kata Dims.


Tidak ada yang menyambung.


Bapak itu kembali ke korannya. Tukang cukur kembali bekerja. Mesin menyala lagi, dan percakapan tentang jalan rusak selesai begitu saja, seperti banyak percakapan lain yang berhenti bukan karena tidak ada yang perlu dibicarakan, tetapi karena semua orang merasa sudah ada orang lain yang akan melanjutkannya.


Beberapa menit kemudian Dims bertanya, “Bang, Pak Hadi masih buka?”

Gerakan gunting tukang cukur melambat sebentar.


“Jarang kelihatan.”


“Bengkelnya?”


“Sering tutup siang belakangan.”

“Kenapa?”


“Enggak tahu.”


Bapak tua tadi menurunkan korannya lagi. “Katanya mau pindah.”

Dims menoleh. “Serius?”


“Denger-denger.”

“Ke mana?”


“Enggak tahu. Istrinya cerita di pasar, katanya nggak jauh.”


“Berarti tahu dong ke mana.”

“Ya kalau tahu saya bilang tahu.”

Dims terkekeh. Bapak itu ikut tersenyum.

Aku bertanya, “Istrinya ngomong langsung?”

“Ke orang pasar.”


“Orang pasar yang mana?”

Bapak itu memandangku beberapa detik, lalu tertawa. “Nah, kalau sudah begitu saya juga nggak tahu.”


Tukang cukur tidak ikut tertawa. Dia hanya menyisir rambut Dims dari samping, lalu merapikan bagian dekat telinga. Setelah itu tangannya berhenti sebentar.


“Kalau ketemu orangnya, tanya langsung,” katanya.


Bapak tua mengangguk. “Itu baru paling gampang.”


Dims melihat dirinya di cermin. “Masalahnya orangnya susah ketemu.”


Tukang cukur kembali menyalakan mesin.


“Ya berarti belum waktunya ketemu.”


Dims menoleh sedikit, tetapi tidak menjawab.


Beberapa saat kemudian rambutnya selesai. Tukang cukur membuka kain di bahunya, lalu menyapu sisa rambut yang menempel di leher dengan kuas kecil.


“Berapa, Bang?”

“Dua puluh.”


Dims membayar. Sebelum keluar, dia berdiri di depan cermin yang bagian bawahnya retak memanjang.


“Lumayan.”


Tukang cukur melirik lewat cermin. “Rambutnya?”

“Masih ada.”

“Ya syukur.”


Kami keluar.


Di depan toko, jalan berlubang tadi masih sama. Bekas cat putihnya hampir tidak kelihatan kalau tidak dicari. Sebuah motor melambat di depannya, sementara pengendara lain memilih mengambil sisi kanan jalan.

Dims memasang helm.


Aku baru mau naik ketika tukang cukur memanggil dari dalam.


“Dims.”


Dims menoleh.


“Kalau ketemu Pak Hadi, bilang jangan lupa.”


Dims diam sebentar.


“Yang mana?”


Tukang cukur sudah kembali mengambil sapu.


“Yang dia tahu.”


Dims masih berdiri di luar.


“Bang?”


Tidak ada jawaban.


Dia akhirnya mengangkat bahu dan memasang helm.


Aku tidak bertanya.


Kami berjalan menuju pertigaan. Baru beberapa meter, Dims berkata, “Lu dengar?”


“Dengar.”


“Soal Pak Hadi?”


“Iya.”


“Menurut lu?”


Aku melihat ke belakang sebentar. Tukang cukur sudah memanggil pelanggan berikutnya. Bapak tua tadi masih di bangku, korannya kembali terbuka.


“Belum tahu.”


“Tumben.”


“Apanya?”


“Biasanya lu punya dugaan.”


“Ada.”


“Apa?”


“Belum tahu.”


Dims tertawa. “Sama aja.”


Kami sampai di pertigaan. Dims berhenti di dekat warung kecil untuk membeli rokok. Aku berdiri di samping motor sambil melihat lalu lintas yang mulai ramai.


Seorang laki-laki lewat sambil membawa dua kantong plastik. Dari seberang jalan, seseorang memanggil namanya. Dia menoleh, mengangkat tangan, lalu terus berjalan.


Dims kembali membawa rokok.


“Lu mau ke mana?”

“Pulang.”

“Kirain ikut.”

“Ke mana?”

“Ya sana.”


Dia menunjuk jalan ke arah yang berbeda.

Aku memperhatikan arah jarinya.

“Pak Hadi?”

Dims memasukkan rokok ke saku.


“Kenapa?”

“Lu mau ke sana.”

“Terus?”

“Enggak.”


Dia menatapku sebentar, lalu tertawa kecil. “Lu sekarang kalau nanya setengah-setengah.”

“Biar lu yang lengkapin.”

“Jangan kebanyakan gaya.”

Dia menyalakan motor.


Aku mundur satu langkah.


Sebelum pergi, dia sempat berkata, “Kalau cuma denger-denger, jangan langsung percaya.”


“Gue tahu.”

“Bagus.”


Motor bergerak meninggalkan pertigaan.


Aku berdiri beberapa detik sebelum berjalan pulang.


Di kepala masih ada beberapa potongan percakapan dari tempat cukur tadi: jalan yang sudah lama rusak, cone yang pernah ada lalu hilang, kabar Pak Hadi yang mungkin benar dan mungkin juga tidak, serta kalimat terakhir tukang cukur yang terdengar seperti sesuatu yang sudah diketahui semua orang kecuali aku.


Di rumah, aku tidak langsung melakukan apa-apa.


Aku hanya membuka pintu, meletakkan kunci, lalu duduk.


Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi.


Pesan dari Dims.

> Jangan lupa besok.


Aku membaca pesan itu.

Tidak kubalas.


Beberapa saat kemudian aku mengetik:

> Yang mana?

Pesan terkirim.

Tidak ada jawaban.


Aku meletakkan ponsel di meja dan membiarkannya begitu saja.

Untuk hari itu, yang kutahu cuma satu: Pak Hadi memang sering tidak ada di bengkelnya. Selebihnya masih cerita orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

  Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal (Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir) “Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.” Setiap orang punya titik gelapnya. Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong? Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap, dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu. Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam. Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin, tapi karena mimpi. Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah. Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan. Dan sejak malam itu, aku tahu… ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku. Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai. Percakapan yang tak pernah dimulai. Pelukan yang tak pernah diberikan. Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar. Dan trauma yang menyamar ...

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual Di pantai ini, ombak tinggi menukik curam, Menatap pulau di seberang, bisakah aku sampai ke sana? Di bawah langit yang berkilau, perjalanan ini tiada ujung, Aku mencari cinta, tak sekadar asmara, namun makna mendalam. Kenangan muncul, kau di dalamnya, Namamu entah bagaimana kuingat, Bermain di rumahmu, berenang di kolam jernih, Di lapangan luas, kita berlari, seakan berlari di atas air. Pertemuan dan perpisahan, hatiku selalu bertanya, Adakah cinta sejati yang melampaui batas dunia fana ini? Bertahun-tahun aku berjalan, bertemu banyak wajah, Namun selalu ada kekosongan, sunyi yang membayang. Kekasih yang kutemui, seolah hanya bayang-bayang, Hingga suatu malam, aku menemukan cahaya yang menenangkan, Saat pertama kali kusadari hadirat-Mu, Ada kehangatan yang merasuk, tak seperti yang lain. Dalam keremangan hatiku, Engkau datang sebagai penuntun, Mengisi relung terdalam dengan cinta yang tak pernah pudar. Kerinduan yang lama terpendam,...

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 14   Monokroso: Bentuk dari Kesunyian Aku mulai memahami… bahwa tidak semua hal harus dimengerti dengan kata-kata. Ada bahasa yang lahir dari diam. Dari jeda. Dari kesunyian yang tak memaksa untuk dijelaskan. Monokroso —sebuah istilah yang kubuat sendiri. Entah kenapa kata itu muncul begitu saja, seperti bisikan yang lahir dari tidur yang gelisah. Ia seperti cermin buram, tempat aku melihat bayangan diriku yang sesungguhnya: sunyi, tapi penuh gema. Di titik ini, aku tak lagi berusaha keras untuk menjelaskan segalanya. Aku duduk diam. Mendengar detak jantung sendiri. Menyadari bahwa keheningan pun bisa menjadi teman. Bahkan pelukan. Bahkan doa. Kesunyian tidak berarti kosong. Justru di sanalah aku mulai bertemu dengan hal-hal yang tak pernah sempat aku temui saat sibuk mencari suara: keikhlasan, pengampunan, bahkan wajah Tuhan yang lama kuabaikan. Di Monokroso, aku belajar bahwa hidup tak harus selalu keras kepala. Tak perlu selalu bergerak cepat. Ada waktu untuk menepi. Untu...

Bab 8 Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

 Bab 8 — Menemukan Makna di Tengah Kekacauan Ada satu titik dalam hidup yang nggak bisa lo lawan, hindari, atau pura-pura nggak lihat. Titik di mana semua yang lo bangun runtuh. Titik di mana suara dari dalam diri bertanya: "Apa sebenarnya arti semua ini?" Gue sampai di titik itu. Bukan karena gue lemah, tapi karena semuanya dibongkar—oleh hidup, oleh keadaan, bahkan oleh Tuhan sendiri. Dan justru saat semuanya jadi puing, gue mulai melihat. Makna nggak lahir dari kenyamanan, tapi dari kehancuran yang lo hadapi dan maknai sendiri. Gue pernah tanya: Kenapa hidup harus serumit ini? Kenapa harus ada luka, kehilangan, pengkhianatan, dan sistem yang bahkan nggak peduli lo hidup atau mati? Jawabannya datang bukan dari luar, tapi dari dalam: "Karena semua itu bukan buat nyiksa lo, tapi buat lo sadar." Sadar bahwa kita bukan cuma bagian dari kekacauan ini, tapi juga bisa jadi penjawabnya. Lo nggak harus jadi tokoh besar. Lo cuma harus jujur dan nggak berhenti bergerak. Gue ...

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api

Bab 13 — Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api Ada saat dalam hidupku di mana semua luka, semua pertanyaan, dan semua keteguhan diam-diam akhirnya bertemu dalam satu titik — sebuah panggilan yang tak tertulis di peta dunia, tapi sangat jelas di dalam dada. Aku menyebutnya: Gunung di Utara. Ini bukan tentang ambisi atau kemenangan. Bukan tentang menjadi lebih hebat dari yang lain. Tapi tentang panggilan yang tidak bisa ditolak, bahkan ketika logika tidak mengerti, dan dunia tidak melihat. Gunung itu tidak pernah muncul di realitas kasat mata. Tapi hadir begitu kuat dalam mimpi, dalam tafakur, dalam jeda antara suara dan keheningan. > Ada arah yang tak tertulis di peta. Ada panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tapi terasa kuat di dalam dada. Sebagian orang menyebutnya intuisi, sebagian menyebutnya visi. Bagiku… itu adalah panggilan pulang. Aku bermimpi tentang sebuah gunung di utara. Sunyi. Tegas. Tegak, tapi tak angkuh. Dari kejauhan, terlihat api kecil menyala di puncak...

Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

  Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal Kadang, aku hanya duduk diam di tengah malam. Tidak mencari makna. Tidak memaksa arah. Hanya duduk—mendengarkan detak jantung sendiri yang kadang tak seirama dengan waktu. Perasaanku, yang selama ini seperti kabut di dalam dada, mulai menunjukkan bentuknya. Ia bukan musuh, bukan pula beban. Ia adalah aku, yang belum pernah benar-benar kudengarkan. Aku menatap kembali jejak perjalanan ini. Luka-luka yang dulu ingin kutinggalkan, kini menjadi guru. Mimpi-mimpi yang kupaksa usir, ternyata adalah cermin dari kerinduan yang tak bisa dilupakan. Dan cinta... cinta yang sempat kupikir mengacaukan, justru yang menyelamatkan. "Aku sabar," kataku dalam doa. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu, setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh. Dan setiap perasaan, punya hak untuk diterima. Termasuk yang sulit, termasuk yang membuatku menangis tanpa alasan. Aku mulai memaafkan. Bukan untuk mereka. Tapi untukku—untuk bagian diriku...

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan Ada saat dalam hidupku, di mana langit serasa tidak ada. Doa hanya gema di dalam kepala, dan aku pun tak yakin, apakah ada yang mendengarkan. Semua cara sudah kujalani. Kuhampiri segala nama, kutempuh segala arah. Tapi jalan itu seperti labirin, yang membawaku kembali ke satu titik: diriku yang kosong. Tapi justru dari kekosongan itulah, aku mulai mendengar suara yang bukan suara. Yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam: halus, tapi menembus. Lembut, tapi menggetarkan. Seseorang — atau sesuatu — seolah bertanya: "Apa kamu lupa, kamu punya siapa?" "Apa kamu lupa siapa Nabi yang telah berjuang untukmu di akhir zaman?" Dan saat itu, aku tidak menangis. Aku hening. Karena aku tahu: aku sedang diingatkan, bukan dihukum. "My Angel", buatku, bukan makhluk bersayap. Dia bisa jadi bagian terdalam dari diriku yang selama ini diam. Yang sudah lama terkubur oleh luka, ambisi, dan kega...

Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi Malam itu, aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami. Lalu ada suara. Pelan. Tak jelas, tapi familiar. Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh. Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu. Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun. Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur. Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan. Seperti luka yang menolak ditutup. Mimpi ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai. "Kenapa kau masih di sini?" Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut. Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar. Aku sering terlihat normal di sian...

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa  Bab 1 — Titik Nol: Doa dari Dalam Kegelapan Aku gak tau kapan terakhir kali aku bisa percaya sama hidup. Yang aku tau, selama bertahun-tahun… aku hidup dalam diam. Aku kehilangan arah, kehilangan suara, dan perlahan… kehilangan diri. Dulu, aku pernah percaya bahwa manusia bisa bangkit kalau dikasih alasan. Tapi setelah banyak jatuh dan kecewa — terutama dengan keluarga dan diriku sendiri — aku ngerasa… mungkin ini akhir dari segalanya. Aku gak kerja. Gak sekolah. Gak punya banyak teman. Dan setiap malam, aku cuma punya satu hal yang tersisa: doa. Bukan doa yang megah. Bukan yang teratur. Kadang cuma bisikan pelan ke langit-langit kamar yang gelap. "Ya Allah, tolong… kalau Engkau masih lihat aku, beri aku alasan buat hidup lagi." Aku gak minta jadi hebat. Aku gak minta cinta. Aku cuma pengen hidup… dan punya arah. Sampai suatu hari, di tengah keputusasaanku, aku memutuskan kembali sekolah. Paket C. Langkah kecil yang kelihatan sepele — tapi bua...

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu  Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama. Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat. Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu. Di ruang tunggu ini, aku sendirian. Tapi… aku tidak benar-benar sendiri. Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara. Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran. “Sakit ini bukan karena penyakit.” “Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.” Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat. Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam. Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal. Ia seperti aku, tapi tak sama. Ia adalah bayangan dari rasa yang tak ...