PERCAKAPAN DI TEMPAT YANG BIASA
Tukang cukur langganan Dims letaknya dekat pangkalan ojek, di antara warung kelontong dan bengkel kecil yang pintunya selalu terbuka meskipun sering tidak kelihatan ada orang bekerja di dalamnya. Tempatnya cuma punya satu kursi cukur, satu kipas angin berdiri yang kepalanya miring ke kanan, dan radio kecil di atas lemari kaca. Suaranya kadang tertutup dengung mesin cukur, kadang kalah oleh motor yang lewat di depan.
“Tipis aja, Bang,” kata Dims sambil duduk.
Tukang cukur mengangguk. Tangannya sudah mengambil sisir sebelum Dims selesai membenarkan posisi duduk.
Aku menempati bangku panjang dekat pintu. Di sampingku ada seorang bapak tua dengan koran terbuka di tangan. Dari tadi halaman yang dibacanya tidak berpindah.
“Pak, itu dari tadi halaman yang sama,” kataku.
Dia menurunkan koran sedikit. “Kena air.”
“Basah?”
“Dikit. Lagi dikeringin.” Dia mengangkat ujung kertasnya, memeriksa bagian yang terlipat, lalu melanjutkan membaca.
Radio di atas lemari tiba-tiba berganti lagu. Dari luar terdengar suara tukang ojek memanggil penumpang.
“Bang,” kata bapak itu kepada tukang cukur, “jalan depan gang jadi dibenerin kapan?”
Mesin cukur masih menyala.
“Katanya minggu depan.”
“Katanya siapa?”
Tukang cukur mengangkat bahu kecil. “Ya katanya.”
Bapak itu tertawa lewat hidung. “Jawaban paling aman.”
Dims membuka mata sebentar. “Emang rusak parah, Pak?”
“Belum sampai bikin orang masuk rumah sakit. Tapi tiap hujan jadi kolam kecil.” Bapak itu melipat korannya sedikit. “Dua tahun begitu.”
Aku melihat keluar. Dari tempat dudukku, lubang itu memang kelihatan. Tidak besar, tetapi posisinya pas di jalur roda motor. Di tepinya masih ada bekas cat putih yang sudah pudar, membentuk garis setengah lingkaran. Sepertinya dulu pernah ada sesuatu yang ditandai di sana.
“Dulu ada cone,” kata bapak itu.
“Yang oranye?” tanya Dims.
“Iya.”
“Sekarang?”
“Mana saya tahu.”
Tukang cukur mematikan mesin sebentar untuk mengganti sisir.
“Kayaknya dipindah,” katanya.
“Dipindah ke mana?” tanya Dims.
“Ya jangan tanya saya.”
Bapak itu tertawa. “Nah, itu baru jawaban jujur.”
Kami ikut tertawa kecil. Tidak ada yang membicarakannya lagi sampai sebuah motor lewat dan roda depannya masuk ke bagian jalan yang cekung.
Bruk.
Pengendaranya mengurangi gas sebentar, lalu terus jalan.
“Lihat?” kata bapak itu. “Masih bisa lewat.”
“Kalau begitu aman,” ujar Dims.
“Besok-besok motornya yang bilang aman.”
Dims tertawa. Tukang cukur cuma mengusap bagian belakang kepalanya dengan telapak tangan untuk mengecek panjang rambut.
“Pak sendiri udah lapor?” tanya Dims.
Bapak itu diam sebentar.
“Belum.”
“Nah.”
“Lu udah?”
“Belum juga.”
“Ya sama aja.”
Tukang cukur memasang kain penutup lagi di bahu Dims. “Kalau nunggu orang lain, ya sampai besok.”
Bapak itu menunjuk jalan dengan dagunya. “Saya kira sudah ada yang urus.”
“Semua juga kira begitu,” kata Dims.
Tidak ada yang menyambung.
Bapak itu kembali ke korannya. Tukang cukur kembali bekerja. Mesin menyala lagi, dan percakapan tentang jalan rusak selesai begitu saja, seperti banyak percakapan lain yang berhenti bukan karena tidak ada yang perlu dibicarakan, tetapi karena semua orang merasa sudah ada orang lain yang akan melanjutkannya.
Beberapa menit kemudian Dims bertanya, “Bang, Pak Hadi masih buka?”
Gerakan gunting tukang cukur melambat sebentar.
“Jarang kelihatan.”
“Bengkelnya?”
“Sering tutup siang belakangan.”
“Kenapa?”
“Enggak tahu.”
Bapak tua tadi menurunkan korannya lagi. “Katanya mau pindah.”
Dims menoleh. “Serius?”
“Denger-denger.”
“Ke mana?”
“Enggak tahu. Istrinya cerita di pasar, katanya nggak jauh.”
“Berarti tahu dong ke mana.”
“Ya kalau tahu saya bilang tahu.”
Dims terkekeh. Bapak itu ikut tersenyum.
Aku bertanya, “Istrinya ngomong langsung?”
“Ke orang pasar.”
“Orang pasar yang mana?”
Bapak itu memandangku beberapa detik, lalu tertawa. “Nah, kalau sudah begitu saya juga nggak tahu.”
Tukang cukur tidak ikut tertawa. Dia hanya menyisir rambut Dims dari samping, lalu merapikan bagian dekat telinga. Setelah itu tangannya berhenti sebentar.
“Kalau ketemu orangnya, tanya langsung,” katanya.
Bapak tua mengangguk. “Itu baru paling gampang.”
Dims melihat dirinya di cermin. “Masalahnya orangnya susah ketemu.”
Tukang cukur kembali menyalakan mesin.
“Ya berarti belum waktunya ketemu.”
Dims menoleh sedikit, tetapi tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian rambutnya selesai. Tukang cukur membuka kain di bahunya, lalu menyapu sisa rambut yang menempel di leher dengan kuas kecil.
“Berapa, Bang?”
“Dua puluh.”
Dims membayar. Sebelum keluar, dia berdiri di depan cermin yang bagian bawahnya retak memanjang.
“Lumayan.”
Tukang cukur melirik lewat cermin. “Rambutnya?”
“Masih ada.”
“Ya syukur.”
Kami keluar.
Di depan toko, jalan berlubang tadi masih sama. Bekas cat putihnya hampir tidak kelihatan kalau tidak dicari. Sebuah motor melambat di depannya, sementara pengendara lain memilih mengambil sisi kanan jalan.
Dims memasang helm.
Aku baru mau naik ketika tukang cukur memanggil dari dalam.
“Dims.”
Dims menoleh.
“Kalau ketemu Pak Hadi, bilang jangan lupa.”
Dims diam sebentar.
“Yang mana?”
Tukang cukur sudah kembali mengambil sapu.
“Yang dia tahu.”
Dims masih berdiri di luar.
“Bang?”
Tidak ada jawaban.
Dia akhirnya mengangkat bahu dan memasang helm.
Aku tidak bertanya.
Kami berjalan menuju pertigaan. Baru beberapa meter, Dims berkata, “Lu dengar?”
“Dengar.”
“Soal Pak Hadi?”
“Iya.”
“Menurut lu?”
Aku melihat ke belakang sebentar. Tukang cukur sudah memanggil pelanggan berikutnya. Bapak tua tadi masih di bangku, korannya kembali terbuka.
“Belum tahu.”
“Tumben.”
“Apanya?”
“Biasanya lu punya dugaan.”
“Ada.”
“Apa?”
“Belum tahu.”
Dims tertawa. “Sama aja.”
Kami sampai di pertigaan. Dims berhenti di dekat warung kecil untuk membeli rokok. Aku berdiri di samping motor sambil melihat lalu lintas yang mulai ramai.
Seorang laki-laki lewat sambil membawa dua kantong plastik. Dari seberang jalan, seseorang memanggil namanya. Dia menoleh, mengangkat tangan, lalu terus berjalan.
Dims kembali membawa rokok.
“Lu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kirain ikut.”
“Ke mana?”
“Ya sana.”
Dia menunjuk jalan ke arah yang berbeda.
Aku memperhatikan arah jarinya.
“Pak Hadi?”
Dims memasukkan rokok ke saku.
“Kenapa?”
“Lu mau ke sana.”
“Terus?”
“Enggak.”
Dia menatapku sebentar, lalu tertawa kecil. “Lu sekarang kalau nanya setengah-setengah.”
“Biar lu yang lengkapin.”
“Jangan kebanyakan gaya.”
Dia menyalakan motor.
Aku mundur satu langkah.
Sebelum pergi, dia sempat berkata, “Kalau cuma denger-denger, jangan langsung percaya.”
“Gue tahu.”
“Bagus.”
Motor bergerak meninggalkan pertigaan.
Aku berdiri beberapa detik sebelum berjalan pulang.
Di kepala masih ada beberapa potongan percakapan dari tempat cukur tadi: jalan yang sudah lama rusak, cone yang pernah ada lalu hilang, kabar Pak Hadi yang mungkin benar dan mungkin juga tidak, serta kalimat terakhir tukang cukur yang terdengar seperti sesuatu yang sudah diketahui semua orang kecuali aku.
Di rumah, aku tidak langsung melakukan apa-apa.
Aku hanya membuka pintu, meletakkan kunci, lalu duduk.
Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi.
Pesan dari Dims.
> Jangan lupa besok.
Aku membaca pesan itu.
Tidak kubalas.
Beberapa saat kemudian aku mengetik:
> Yang mana?
Pesan terkirim.
Tidak ada jawaban.
Aku meletakkan ponsel di meja dan membiarkannya begitu saja.
Untuk hari itu, yang kutahu cuma satu: Pak Hadi memang sering tidak ada di bengkelnya. Selebihnya masih cerita orang.

Komentar
Posting Komentar