AKU MULAI MENCATAT
Buku itu kutemukan pagi itu, waktu sedang mencari pulpen di laci meja. Sampulnya biru tua, ujungnya sudah mengelupas. Beberapa halaman belakang masih ada nomor telepon yang sudah tidak kuhubungi, dan satu daftar belanja yang entah dibuat kapan.
Ibu sedang di dapur.
“Mau nulis surat?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Nyatet.”
Ibu menoleh. “Nyatet apa? Punya utang?”
“Enggak juga.”
“Terus?”
Aku diam sebentar. “Takut lupa.”
“Kalau takut lupa, ya jangan lupa.”
“Kalau segampang itu, orang nggak perlu kalender, Bu.”
Ibu tertawa kecil, lalu kembali ke piring-piringnya. “Ya gimana. Ibu juga nggak bisa bantu soal itu.”
Aku membuka halaman kosong dan menulis tanggal.
Di bawahnya:
Kemarin — aku melihat bengkel Pak Hadi dalam keadaan tertutup.
Aku berhenti, membaca ulang. Kata melihat terasa lebih pas daripada langsung menulis bengkel itu tertutup. Aku tidak tahu kenapa, tapi kubiarkan.
Aku belum tahu buku ini nantinya cuma akan jadi tempat menyimpan ingatanku sendiri atau berpindah ke tangan orang lain. Untuk sementara, aku menulisnya seperti biasa saja. Tidak ada maksud tertentu.
Siang itu aku keluar membeli galon. Di pertigaan, seorang bapak yang biasa duduk di teras menyapa seperti biasa.
“Dari mana?”
“Beli galon.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Dia memperhatikanku sebentar.
“Lu anaknya Pak Darmo, kan?”
Aku mengangguk. “Iya, Pak.”
“Oh.” Dia mengangguk lagi. “Pantes.”
Aku menunggu sebentar, tapi dia sudah kembali melihat jalan.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, Pak.”
Aku berjalan lagi sambil menggotong galon. Sempat terpikir untuk menanyakan pantes kenapa, tapi tangan penuh dan jalan masih lumayan jauh. Pikiran itu kutinggal di pertigaan.
Di warung, Dims sedang berdiri di depan etalase rokok.
“Lah, elu?”
“Lah, lu juga.”
“Beli apa?”
“Rokok.”
“Lu nggak ngerokok.”
“Buat orang.”
“Siapa?”
Dims memasukkan bungkus ke saku tanpa menjawab.
“Orang,” katanya akhirnya, seolah itu jawaban lengkap.
“Jawaban lu makin hari makin nggak berguna.”
“Yang penting benar.”
Dia mulai jalan, lalu berhenti sendiri dan menoleh.
“Eh. Lu lagi nyatet-nyatet apa sih belakangan ini? Ibu lu cerita.”
Aku sedikit kaget. “Ibu cerita ke lu?”
“Nggak langsung. Gue denger pas mampir tadi pagi.”
“Cuma catatan biasa.”
“Catatan apa?”
“Yang gue inget.”
Dims memandangku beberapa detik. Kali ini wajahnya tidak sepenuhnya bercanda.
“Bagus sih,” katanya. “Tapi jangan kebanyakan nyatet hal yang bukan urusan lu.”
“Maksudnya?”
“Ya udah. Nanti juga ngerti sendiri.”
Dia jalan lebih dulu. Aku membiarkannya.
Malamnya, buku kubuka lagi di kamar.
Aku menulis:
Bang Ucup punya urusan dengan Dims.
Aku coret.
Aku tidak melihat itu. Aku cuma mendengarnya dari percakapan mereka.
Di bawahnya kutulis lagi:
Istri Pak Hadi pernah menyebut soal motor.
Aku berhenti, lalu mencoretnya juga.
Aku mendengar seseorang menyebut motor Pak Hadi. Aku tidak tahu maksudnya.
Yang ini kubiarkan.
Di bawahnya:
Dims bilang “jangan kebanyakan nyatet hal yang bukan urusan lu.” Aku tidak tahu urusan siapa yang dia maksud.
Aku menatap kalimat itu sebentar.
Aneh juga. Baru mulai mencatat, sudah ada orang yang menyuruhku berhenti.
Aku menutup buku.
Besok paginya Dims datang seperti biasa. Klakson dua kali, pendek.
“Cepet!”
“Mau ke mana?”
“Biasa.”
“Biasa itu ke mana?”
“Ya biasa.”
“Lu kalau ditanya jawabnya kayak orang punya utang.”
“Lah, gue kan emang punya utang.”
Kami melewati bengkel Pak Hadi. Kali ini pintunya terbuka. Dari jalan aku bisa melihat Pak Hadi berdiri membelakangi kami, menghadap meja kerja.
Di atas meja ada timbangan kecil yang kemarin belum kulihat. Bentuknya seperti timbangan yang biasa dipakai di warung untuk menimbang bumbu atau gula. Pak Hadi meletakkan sesuatu di atasnya. Ada bagian yang berkilau sebentar ketika terkena cahaya dari pintu bengkel.
Aku menoleh sedikit lebih lama.
Motor sudah lewat.
“Dim,” kataku, “lu lihat itu nggak?”
“Apa?”
“Timbangan.”
“Timbangan apaan?”
“Di meja Pak Hadi tadi.”
Dims tidak menoleh.
“Nggak lihat.”
“Masa nggak lihat.”
“Gue fokus nyetir.”
Aku tidak menjawab.
Beberapa meter kemudian aku masih memikirkan timbangan itu. Kemarin aku melihat tas kain hitam di dekat meja Pak Hadi. Hari ini ada timbangan di tempat yang sama. Aku tidak tahu apakah keduanya berhubungan, dan untuk pertama kalinya aku merasa lebih baik membiarkan pertanyaan itu tetap begitu.
Setelah sampai, Dims pergi lebih dulu. Aku duduk di teras sebelum masuk rumah dan membuka buku.
Pagi ini aku melihat timbangan kecil di meja Pak Hadi. Ada sesuatu di atasnya yang tidak sempat kulihat jelas.
Aku membaca sekali lagi.
Tidak ada tambahan.
Ibu keluar membawa jemuran.
“Masih nyatet?”
“Masih.”
“Udah nemu apa?”
Aku menutup buku.
“Belum tahu ini nemu apa belum.”
Ibu mengangkat alis sebentar, lalu mulai menjemur pakaian. “Ya sudah.”
Dia tidak bertanya lagi.
Aku memperhatikannya mengambil satu pakaian, menggoyangkannya dua kali, lalu memasang penjepit. Setelah itu yang lain. Tangannya bergerak cepat, sudah hafal urutannya tanpa perlu melihat lama.
Aku membuka buku lagi.
Di halaman yang sama, kutulis satu kalimat kecil di bawah catatan tadi.
Kemarin ada tas hitam. Hari ini ada timbangan. Selebihnya belum tahu.
Aku berhenti.
Untuk pertama kalinya sejak buku itu kubuka, kalimat terakhir terasa cukup.
Aku menutupnya lagi.
Kalau suatu hari buku ini berpindah tangan, aku tidak tahu orang yang membacanya akan percaya atau tidak. Mungkin dia akan menganggap sebagian catatan ini penting, mungkin juga tidak.
Untuk sekarang, aku cuma ingin menyimpan apa yang sempat kulihat.
Tinta di halaman itu masih sedikit mengilap ketika buku kumasukkan kembali ke saku.

Komentar
Posting Komentar