Langsung ke konten utama

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

AKU MULAI MENCATAT

AKU MULAI MENCATAT

Buku itu kutemukan pagi itu, waktu sedang mencari pulpen di laci meja. Sampulnya biru tua, ujungnya sudah mengelupas. Beberapa halaman belakang masih ada nomor telepon yang sudah tidak kuhubungi, dan satu daftar belanja yang entah dibuat kapan.

Ibu sedang di dapur.


“Mau nulis surat?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Nyatet.”


Ibu menoleh. “Nyatet apa? Punya utang?”

“Enggak juga.”

“Terus?”

Aku diam sebentar. “Takut lupa.”

“Kalau takut lupa, ya jangan lupa.”

“Kalau segampang itu, orang nggak perlu kalender, Bu.”

Ibu tertawa kecil, lalu kembali ke piring-piringnya. “Ya gimana. Ibu juga nggak bisa bantu soal itu.”

Aku membuka halaman kosong dan menulis tanggal.

Di bawahnya:

Kemarin — aku melihat bengkel Pak Hadi dalam keadaan tertutup.


Aku berhenti, membaca ulang. Kata melihat terasa lebih pas daripada langsung menulis bengkel itu tertutup. Aku tidak tahu kenapa, tapi kubiarkan.


Aku belum tahu buku ini nantinya cuma akan jadi tempat menyimpan ingatanku sendiri atau berpindah ke tangan orang lain. Untuk sementara, aku menulisnya seperti biasa saja. Tidak ada maksud tertentu.


Siang itu aku keluar membeli galon. Di pertigaan, seorang bapak yang biasa duduk di teras menyapa seperti biasa.


“Dari mana?”


“Beli galon.”


“Sendiri?”


“Iya.”


Dia memperhatikanku sebentar.


“Lu anaknya Pak Darmo, kan?”


Aku mengangguk. “Iya, Pak.”


“Oh.” Dia mengangguk lagi. “Pantes.”


Aku menunggu sebentar, tapi dia sudah kembali melihat jalan.


“Hati-hati di jalan.”


“Iya, Pak.”


Aku berjalan lagi sambil menggotong galon. Sempat terpikir untuk menanyakan pantes kenapa, tapi tangan penuh dan jalan masih lumayan jauh. Pikiran itu kutinggal di pertigaan.


Di warung, Dims sedang berdiri di depan etalase rokok.


“Lah, elu?”


“Lah, lu juga.”


“Beli apa?”


“Rokok.”


“Lu nggak ngerokok.”


“Buat orang.”


“Siapa?”


Dims memasukkan bungkus ke saku tanpa menjawab.

“Orang,” katanya akhirnya, seolah itu jawaban lengkap.

“Jawaban lu makin hari makin nggak berguna.”

“Yang penting benar.”


Dia mulai jalan, lalu berhenti sendiri dan menoleh.


“Eh. Lu lagi nyatet-nyatet apa sih belakangan ini? Ibu lu cerita.”

Aku sedikit kaget. “Ibu cerita ke lu?”

“Nggak langsung. Gue denger pas mampir tadi pagi.”


“Cuma catatan biasa.”


“Catatan apa?”


“Yang gue inget.”


Dims memandangku beberapa detik. Kali ini wajahnya tidak sepenuhnya bercanda.


“Bagus sih,” katanya. “Tapi jangan kebanyakan nyatet hal yang bukan urusan lu.”


“Maksudnya?”


“Ya udah. Nanti juga ngerti sendiri.”


Dia jalan lebih dulu. Aku membiarkannya.


Malamnya, buku kubuka lagi di kamar.


Aku menulis:


Bang Ucup punya urusan dengan Dims.


Aku coret.


Aku tidak melihat itu. Aku cuma mendengarnya dari percakapan mereka.


Di bawahnya kutulis lagi:


Istri Pak Hadi pernah menyebut soal motor.


Aku berhenti, lalu mencoretnya juga.


Aku mendengar seseorang menyebut motor Pak Hadi. Aku tidak tahu maksudnya.


Yang ini kubiarkan.


Di bawahnya:


Dims bilang “jangan kebanyakan nyatet hal yang bukan urusan lu.” Aku tidak tahu urusan siapa yang dia maksud.


Aku menatap kalimat itu sebentar.


Aneh juga. Baru mulai mencatat, sudah ada orang yang menyuruhku berhenti.


Aku menutup buku.


Besok paginya Dims datang seperti biasa. Klakson dua kali, pendek.


“Cepet!”


“Mau ke mana?”


“Biasa.”


“Biasa itu ke mana?”


“Ya biasa.”


“Lu kalau ditanya jawabnya kayak orang punya utang.”


“Lah, gue kan emang punya utang.”


Kami melewati bengkel Pak Hadi. Kali ini pintunya terbuka. Dari jalan aku bisa melihat Pak Hadi berdiri membelakangi kami, menghadap meja kerja.


Di atas meja ada timbangan kecil yang kemarin belum kulihat. Bentuknya seperti timbangan yang biasa dipakai di warung untuk menimbang bumbu atau gula. Pak Hadi meletakkan sesuatu di atasnya. Ada bagian yang berkilau sebentar ketika terkena cahaya dari pintu bengkel.


Aku menoleh sedikit lebih lama.


Motor sudah lewat.


“Dim,” kataku, “lu lihat itu nggak?”


“Apa?”


“Timbangan.”


“Timbangan apaan?”


“Di meja Pak Hadi tadi.”


Dims tidak menoleh.


“Nggak lihat.”

“Masa nggak lihat.”

“Gue fokus nyetir.”


Aku tidak menjawab.

Beberapa meter kemudian aku masih memikirkan timbangan itu. Kemarin aku melihat tas kain hitam di dekat meja Pak Hadi. Hari ini ada timbangan di tempat yang sama. Aku tidak tahu apakah keduanya berhubungan, dan untuk pertama kalinya aku merasa lebih baik membiarkan pertanyaan itu tetap begitu.


Setelah sampai, Dims pergi lebih dulu. Aku duduk di teras sebelum masuk rumah dan membuka buku.

Pagi ini aku melihat timbangan kecil di meja Pak Hadi. Ada sesuatu di atasnya yang tidak sempat kulihat jelas.


Aku membaca sekali lagi.

Tidak ada tambahan.

Ibu keluar membawa jemuran.


“Masih nyatet?”


“Masih.”


“Udah nemu apa?”

Aku menutup buku.


“Belum tahu ini nemu apa belum.”

Ibu mengangkat alis sebentar, lalu mulai menjemur pakaian. “Ya sudah.”


Dia tidak bertanya lagi.

Aku memperhatikannya mengambil satu pakaian, menggoyangkannya dua kali, lalu memasang penjepit. Setelah itu yang lain. Tangannya bergerak cepat, sudah hafal urutannya tanpa perlu melihat lama.


Aku membuka buku lagi.

Di halaman yang sama, kutulis satu kalimat kecil di bawah catatan tadi.

Kemarin ada tas hitam. Hari ini ada timbangan. Selebihnya belum tahu.


Aku berhenti.


Untuk pertama kalinya sejak buku itu kubuka, kalimat terakhir terasa cukup.

Aku menutupnya lagi.


Kalau suatu hari buku ini berpindah tangan, aku tidak tahu orang yang membacanya akan percaya atau tidak. Mungkin dia akan menganggap sebagian catatan ini penting, mungkin juga tidak.


Untuk sekarang, aku cuma ingin menyimpan apa yang sempat kulihat.


Tinta di halaman itu masih sedikit mengilap ketika buku kumasukkan kembali ke saku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

  Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal (Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir) “Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.” Setiap orang punya titik gelapnya. Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong? Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap, dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu. Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam. Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin, tapi karena mimpi. Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah. Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan. Dan sejak malam itu, aku tahu… ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku. Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai. Percakapan yang tak pernah dimulai. Pelukan yang tak pernah diberikan. Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar. Dan trauma yang menyamar ...

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual Di pantai ini, ombak tinggi menukik curam, Menatap pulau di seberang, bisakah aku sampai ke sana? Di bawah langit yang berkilau, perjalanan ini tiada ujung, Aku mencari cinta, tak sekadar asmara, namun makna mendalam. Kenangan muncul, kau di dalamnya, Namamu entah bagaimana kuingat, Bermain di rumahmu, berenang di kolam jernih, Di lapangan luas, kita berlari, seakan berlari di atas air. Pertemuan dan perpisahan, hatiku selalu bertanya, Adakah cinta sejati yang melampaui batas dunia fana ini? Bertahun-tahun aku berjalan, bertemu banyak wajah, Namun selalu ada kekosongan, sunyi yang membayang. Kekasih yang kutemui, seolah hanya bayang-bayang, Hingga suatu malam, aku menemukan cahaya yang menenangkan, Saat pertama kali kusadari hadirat-Mu, Ada kehangatan yang merasuk, tak seperti yang lain. Dalam keremangan hatiku, Engkau datang sebagai penuntun, Mengisi relung terdalam dengan cinta yang tak pernah pudar. Kerinduan yang lama terpendam,...

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 14   Monokroso: Bentuk dari Kesunyian Aku mulai memahami… bahwa tidak semua hal harus dimengerti dengan kata-kata. Ada bahasa yang lahir dari diam. Dari jeda. Dari kesunyian yang tak memaksa untuk dijelaskan. Monokroso —sebuah istilah yang kubuat sendiri. Entah kenapa kata itu muncul begitu saja, seperti bisikan yang lahir dari tidur yang gelisah. Ia seperti cermin buram, tempat aku melihat bayangan diriku yang sesungguhnya: sunyi, tapi penuh gema. Di titik ini, aku tak lagi berusaha keras untuk menjelaskan segalanya. Aku duduk diam. Mendengar detak jantung sendiri. Menyadari bahwa keheningan pun bisa menjadi teman. Bahkan pelukan. Bahkan doa. Kesunyian tidak berarti kosong. Justru di sanalah aku mulai bertemu dengan hal-hal yang tak pernah sempat aku temui saat sibuk mencari suara: keikhlasan, pengampunan, bahkan wajah Tuhan yang lama kuabaikan. Di Monokroso, aku belajar bahwa hidup tak harus selalu keras kepala. Tak perlu selalu bergerak cepat. Ada waktu untuk menepi. Untu...

Bab 8 Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

 Bab 8 — Menemukan Makna di Tengah Kekacauan Ada satu titik dalam hidup yang nggak bisa lo lawan, hindari, atau pura-pura nggak lihat. Titik di mana semua yang lo bangun runtuh. Titik di mana suara dari dalam diri bertanya: "Apa sebenarnya arti semua ini?" Gue sampai di titik itu. Bukan karena gue lemah, tapi karena semuanya dibongkar—oleh hidup, oleh keadaan, bahkan oleh Tuhan sendiri. Dan justru saat semuanya jadi puing, gue mulai melihat. Makna nggak lahir dari kenyamanan, tapi dari kehancuran yang lo hadapi dan maknai sendiri. Gue pernah tanya: Kenapa hidup harus serumit ini? Kenapa harus ada luka, kehilangan, pengkhianatan, dan sistem yang bahkan nggak peduli lo hidup atau mati? Jawabannya datang bukan dari luar, tapi dari dalam: "Karena semua itu bukan buat nyiksa lo, tapi buat lo sadar." Sadar bahwa kita bukan cuma bagian dari kekacauan ini, tapi juga bisa jadi penjawabnya. Lo nggak harus jadi tokoh besar. Lo cuma harus jujur dan nggak berhenti bergerak. Gue ...

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api

Bab 13 — Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api Ada saat dalam hidupku di mana semua luka, semua pertanyaan, dan semua keteguhan diam-diam akhirnya bertemu dalam satu titik — sebuah panggilan yang tak tertulis di peta dunia, tapi sangat jelas di dalam dada. Aku menyebutnya: Gunung di Utara. Ini bukan tentang ambisi atau kemenangan. Bukan tentang menjadi lebih hebat dari yang lain. Tapi tentang panggilan yang tidak bisa ditolak, bahkan ketika logika tidak mengerti, dan dunia tidak melihat. Gunung itu tidak pernah muncul di realitas kasat mata. Tapi hadir begitu kuat dalam mimpi, dalam tafakur, dalam jeda antara suara dan keheningan. > Ada arah yang tak tertulis di peta. Ada panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tapi terasa kuat di dalam dada. Sebagian orang menyebutnya intuisi, sebagian menyebutnya visi. Bagiku… itu adalah panggilan pulang. Aku bermimpi tentang sebuah gunung di utara. Sunyi. Tegas. Tegak, tapi tak angkuh. Dari kejauhan, terlihat api kecil menyala di puncak...

Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

  Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal Kadang, aku hanya duduk diam di tengah malam. Tidak mencari makna. Tidak memaksa arah. Hanya duduk—mendengarkan detak jantung sendiri yang kadang tak seirama dengan waktu. Perasaanku, yang selama ini seperti kabut di dalam dada, mulai menunjukkan bentuknya. Ia bukan musuh, bukan pula beban. Ia adalah aku, yang belum pernah benar-benar kudengarkan. Aku menatap kembali jejak perjalanan ini. Luka-luka yang dulu ingin kutinggalkan, kini menjadi guru. Mimpi-mimpi yang kupaksa usir, ternyata adalah cermin dari kerinduan yang tak bisa dilupakan. Dan cinta... cinta yang sempat kupikir mengacaukan, justru yang menyelamatkan. "Aku sabar," kataku dalam doa. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu, setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh. Dan setiap perasaan, punya hak untuk diterima. Termasuk yang sulit, termasuk yang membuatku menangis tanpa alasan. Aku mulai memaafkan. Bukan untuk mereka. Tapi untukku—untuk bagian diriku...

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan Ada saat dalam hidupku, di mana langit serasa tidak ada. Doa hanya gema di dalam kepala, dan aku pun tak yakin, apakah ada yang mendengarkan. Semua cara sudah kujalani. Kuhampiri segala nama, kutempuh segala arah. Tapi jalan itu seperti labirin, yang membawaku kembali ke satu titik: diriku yang kosong. Tapi justru dari kekosongan itulah, aku mulai mendengar suara yang bukan suara. Yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam: halus, tapi menembus. Lembut, tapi menggetarkan. Seseorang — atau sesuatu — seolah bertanya: "Apa kamu lupa, kamu punya siapa?" "Apa kamu lupa siapa Nabi yang telah berjuang untukmu di akhir zaman?" Dan saat itu, aku tidak menangis. Aku hening. Karena aku tahu: aku sedang diingatkan, bukan dihukum. "My Angel", buatku, bukan makhluk bersayap. Dia bisa jadi bagian terdalam dari diriku yang selama ini diam. Yang sudah lama terkubur oleh luka, ambisi, dan kega...

Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi Malam itu, aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami. Lalu ada suara. Pelan. Tak jelas, tapi familiar. Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh. Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu. Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun. Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur. Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan. Seperti luka yang menolak ditutup. Mimpi ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai. "Kenapa kau masih di sini?" Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut. Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar. Aku sering terlihat normal di sian...

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa  Bab 1 — Titik Nol: Doa dari Dalam Kegelapan Aku gak tau kapan terakhir kali aku bisa percaya sama hidup. Yang aku tau, selama bertahun-tahun… aku hidup dalam diam. Aku kehilangan arah, kehilangan suara, dan perlahan… kehilangan diri. Dulu, aku pernah percaya bahwa manusia bisa bangkit kalau dikasih alasan. Tapi setelah banyak jatuh dan kecewa — terutama dengan keluarga dan diriku sendiri — aku ngerasa… mungkin ini akhir dari segalanya. Aku gak kerja. Gak sekolah. Gak punya banyak teman. Dan setiap malam, aku cuma punya satu hal yang tersisa: doa. Bukan doa yang megah. Bukan yang teratur. Kadang cuma bisikan pelan ke langit-langit kamar yang gelap. "Ya Allah, tolong… kalau Engkau masih lihat aku, beri aku alasan buat hidup lagi." Aku gak minta jadi hebat. Aku gak minta cinta. Aku cuma pengen hidup… dan punya arah. Sampai suatu hari, di tengah keputusasaanku, aku memutuskan kembali sekolah. Paket C. Langkah kecil yang kelihatan sepele — tapi bua...

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu  Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama. Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat. Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu. Di ruang tunggu ini, aku sendirian. Tapi… aku tidak benar-benar sendiri. Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara. Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran. “Sakit ini bukan karena penyakit.” “Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.” Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat. Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam. Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal. Ia seperti aku, tapi tak sama. Ia adalah bayangan dari rasa yang tak ...