KEBETULAN PERTAMA
Besoknya aku bangun lebih siang dari biasanya. Tidak ada rencana khusus. Semalam aku sempat membalas pesan terakhir Dims dengan satu pertanyaan — “Yang mana?” — tapi dia tidak menjawab lagi sampai pagi.
Dari dapur terdengar suara piring beradu. Aku keluar kamar dan mendapati Ibu sedang menuang minyak ke botol kecil, konsentrasi penuh supaya tidak tumpah.
“Bangun juga.”
“Iya.”
“Tidurnya jam berapa?”
“Lupa.”
“Pantes.” Dia tidak menoleh, tapi aku tahu dia sudah menilai dari nada suaranya sendiri. Aku mengambil gelas, mengisinya dengan air. Di atas meja, kabel charger yang kupakai beberapa hari terakhir masih tergeletak — ujungnya sudah terkelupas sedikit, dan kalau ditekuk ke arah tertentu, pengisian masih bisa masuk.
“Charger lu masih begitu?”
“Masih bisa.”
“Kalau masih bisa, kenapa tiap ngecas harus dicari-cari posisinya?”
Aku tidak punya jawaban yang lebih baik dari diam. Ibu sudah melanjutkan sendiri. “Sekalian beli. Minyak sama sabun juga, yang biasa.”
“Charger yang murah aja?”
“Yang bisa dipakai.”
Aku tertawa kecil — itu ukuran yang nyaris mustahil dijelaskan ke penjual toko, tapi aku tidak membantah. Kuambil dompet, keluar sebelum daftar belanjaannya sempat bertambah.
Gang siang itu ramai seperti biasa — anak-anak, suara tukang sayur dari kejauhan, bapak-bapak di depan rumah menyiram tanaman yang sebenarnya tidak terlalu butuh disiram. Di warung depan, aku membeli minyak dan sabun. Uangku kurang dua ribu.
“Nanti kalau beli lagi, jangan lupa,” kata pemilik warung sambil mengambil selisihnya dari uang yang kusodorkan.
“Siap, Pak.” Aku memasukkan barang ke kantong plastik.
“Charger juga, katanya?”
“Di toko depan.”
“Ya jangan kayaknya. Kalau nggak ada, balik lagi.” Dia sudah hafal cara aku menjawab sebelum aku sempat bilang “kayaknya” sungguhan.
Toko charger ada dua puluh menit jalan kaki lewat jalan besar — motor sedang dipakai Ibu. Di tengah jalan aku lewat bengkel Pak Hadi. Pintunya tertutup. Aku memperlambat langkah sedikit, lalu jalan terus. Kemarin di tempat cukur orang-orang bilang bengkel itu sering tutup siang; hari ini kebetulan tutup lagi, dan aku tidak tahu seberapa sering yang mereka maksud dengan “sering.”
Di toko elektronik, pemiliknya memeriksa ujung kabel lamaku.
“Type-C. Mau yang biasa?”
“Yang penting bisa.”
Dia tersenyum tipis, seperti sudah mendengar kalimat itu ratusan kali. “Semua orang bilang begitu.” Dia ambilkan satu dari rak. Tiga puluh ribu. Aku bayar, lalu jalan pulang lewat rute yang sama.
Kali ini bengkel Pak Hadi terbuka.
Aku berhenti bukan karena berniat mampir — cuma baru sadar tadi tertutup, sekarang tidak. Dari dalam terdengar suara besi beradu. Pak Hadi jongkok di dekat sebuah motor, tangannya hitam oli.
“Mas?” Dia berdiri, mengusap tangan dengan kain yang warnanya sudah nyaris sama hitamnya. “Belanja?”
Aku angkat kantong plastik. “Iya.”
Dia tertawa kecil. “Kirain mau cari saya.”
“Kenapa semua orang mikir begitu, Pak?”
“Siapa?” Dia sudah berbalik ke arah meja kerja sebelum aku sempat menjawab. Mataku ikut ke arah itu — di dekat kaki meja ada tas kain hitam, terbuka sedikit. Ujung kabel menyembul dari celahnya, kulitnya terkelupas tidak rapi, bukan potongan bersih dari toko. Di sampingnya, hampir tersembunyi di balik kaki meja, ada timbangan kecil yang jarumnya masih bergoyang pelan, seperti baru saja dipakai.
“Itu tas siapa, Pak?”
“Oh.” Dia melihat sekilas, lalu menendang pelan bagian bawahnya menjauh dari jalan. “Punya saya.”
“Buat apa, Pak?”
“Macam-macam.” Dia sudah kembali membungkuk ke arah motor, seolah pertanyaan itu sudah cukup dijawab.
Aku memperhatikan sudut bengkel — ada gulungan kabel lain diikat tali, sebagian baru, sebagian kusam dan kotor, beberapa potong pendek tergeletak dekat meja.
“Banyak juga, Pak.”
“Namanya bengkel.”
“Iya, sih.”
Dia tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kenapa?”
“Enggak apa-apa, Pak.” Aku hampir berbalik pergi, lalu teringat sesuatu dari percakapan di tempat cukur. “Katanya mau pindah?”
Tangannya berhenti sebentar di baut yang sedang dikencangkan.
“Siapa bilang?”
“Orang.”
“Orang lagi.” Dia melanjutkan kerjanya tanpa menoleh. “Belum. Kalau nanti pindah, saya bilang ke orang yang perlu tahu.”
Aku tidak tanya siapa itu. Aku pamit. Baru dua langkah, dia memanggil.
“Mas.”
Aku menoleh.
“Kalau ketemu Dims, bilang saya belum lupa.”
“Yang mana, Pak?”
Dia tersenyum, tidak menjawab langsung.
“Dia tahu.”
Lalu dia kembali membungkuk ke motornya, seolah kalimat itu sudah cukup lengkap untuk siapa pun yang perlu mengerti.
Aku jalan pulang. Baru sampai pertigaan, ponselku bergetar.
Lu di mana?
Keluar.
Sama siapa?
Aku berhenti jalan sebentar.
Sendiri.
Tidak ada balasan setelah itu. Aku masukkan ponsel ke saku, jalan beberapa meter, lalu mengeluarkannya lagi hanya untuk membaca ulang tiga baris itu. Tidak ada yang aneh kalau dibaca satu-satu.
Aku masukkan lagi.
Di rumah, Ibu sedang melipat pakaian di ruang tengah.
“Charger?”
Aku serahkan kantongnya. Dia buka kemasan, colokkan ke ponsel. Tidak menyala. Dicoba lagi. Tetap tidak.
“Balikin,” katanya, tanpa perlu bertanya lebih jauh.
“Yang lama masih ada.”
Aku ambil kabel lama dari meja, pasang dengan posisi yang sudah hafal di luar kepala. Lampu kecil berkedip, tanda mengisi.
Di kamar, aku duduk di tepi kasur, membuka galeri ponsel. Beberapa foto lewat begitu saja — makanan, jalan, langit sore — sampai aku berhenti di satu foto jalan kecil. Bengkel Pak Hadi di sisi kanan, pintu tertutup, tanggal yang tidak terbaca meski diperbesar dua kali.
Aku taruh galeri itu di sebelah jendela percakapan dengan Dims.
Ketemu?
Ketemu siapa?
Pak Hadi.
Kebetulan ketemu.
Dia bilang apa?
Aku ketik beberapa kata, hapus, ketik ulang. Akhirnya kukirim yang paling sederhana.
Nggak banyak.
Tiga titik muncul sebentar di layar. Hilang. Muncul lagi.
Oke.
Aku membaca tiga baris balasan itu sampai hurufnya berhenti terasa seperti kalimat, cuma bentuk. Jempolku berhenti di atas layar, tidak mengetik apa-apa lagi.
Di luar, suara motor lewat, melambat sebentar di tikungan, lalu hilang.
Aku matikan layar. Kamar jadi gelap sebentar sebelum mataku terbiasa. Dan dalam gelap itu, yang muncul bukan wajah Pak Hadi, bukan juga wajah Dims.
Cuma tas hitam itu.
Berat sebelah.
Diam di lantai seperti barang biasa yang kebetulan ada di sana.
Aku nyalakan layar lagi, cuma untuk melihat jam.
Belum larut.
Rasanya sudah.

Komentar
Posting Komentar