HAL YANG SEHARUSNYA BIASA
Sabtu siang, Dims sudah berdiri di depan rumah ketika aku keluar.
Motor menyala. Helm satu tergantung di spion, satu lagi dipakai olehnya. Kaosnya kusut di bagian belakang, mungkin karena baru bangun atau memang dari tadi begitu.
Dia melihatku dari atas motor.
“Lama.”
“Aku baru keluar.”
“Makanya.”
“Lu datangnya kapan?”
“Baru.”
“Berarti kita sama-sama baru.”
Dims menatapku beberapa detik.
“Lu kalau pagi-pagi emang begini?”
“Ini siang.”
Dia melihat jam tangannya.
“Wah.”
“Apa?”
“Lebih parah.”
Aku mengambil helm dari jok belakang.
“Jadi ke mana?”
“Ke rumah Bang Ucup.”
“Ngapain?”
“Ambil barang.”
“Barang apa?”
“Barang gue.”
“Jawaban lu kalau disuruh bikin formulir pasti pendek-pendek.”
“Biar cepat.”
Aku memakai helm.
“Bang Ucup rumahnya yang mana?”
“Yang ada pohonnya.”
Aku menatapnya.
“Di sini semua rumah ada pohon.”
“Ya cari yang paling banyak.”
“Informasi lu membantu sekali.”
“Makanya ikut.”
Aku naik.
Motor bergerak keluar dari gang.
Di depan rumah sebelah, seorang ibu sedang menyiram tanaman. Selangnya bocor sedikit di bagian tengah, jadi air menyembur ke samping setiap kali dia membuka keran lebih besar. Seorang anak laki-laki berdiri tanpa sandal di dekat pagar, memegang plastik es yang sudah tinggal separuh.
“Pagi, Bu,” sapa Dims.
“Siang, Dims.”
“Bang Ucup di rumah?”
“Coba aja langsung.”
“Katanya pergi?”
“Ya kalau pergi berarti nggak di rumah.”
Dims menoleh sedikit ke arahku.
Aku menahan tawa.
Ibu itu ikut tersenyum.
“Masih di belakang, kayaknya.”
“Nah, itu baru jawaban.”
“Kenapa?”
“Biar nggak salah.”
“Lu juga sering salah.”
“Iya, Bu.”
Kami jalan lagi.
Gang itu tidak terlalu lebar. Dua motor masih bisa berpapasan kalau salah satunya mau sedikit naik ke pinggir. Di ujung gang ada warung kecil dengan meja kaca penuh gorengan. Seorang bapak sedang duduk membelakangi jalan sambil membaca sesuatu di ponselnya.
Begitu keluar ke jalan yang lebih besar, panas langsung terasa.
Aspal memantulkan cahaya. Di depan minimarket ada dua motor parkir sembarangan, salah satunya menutup setengah pintu masuk. Seorang kurir berdiri sambil melihat layar ponselnya.
“Mas!” teriak seseorang dari dalam toko.
Kurir itu menoleh.
“Ini punya siapa?”
“Yang tadi.”
“Yang tadi siapa?”
“Ya yang tadi.”
Kurir tertawa.
“Bang, saya bukan cenayang.”
Aku sempat melihat mereka dari kaca spion.
Dims berkata, “Orang sekarang kalau kasih petunjuk kayak main tebak-tebakan.”
“Lu juga.”
“Gue beda.”
“Bedanya?”
“Gue teman lu.”
“Berarti lebih parah.”
Dia tertawa.
Kami belok ke jalan yang lebih kecil.
Rumah Bang Ucup ternyata tidak punya pohon sebanyak yang dibayangkan Dims.
Cuma satu pohon mangga di depan pagar.
“Ini?”
“Iya.”
“Lu bilang paling banyak.”
“Dibanding rumah sebelah.”
“Rumah sebelah nggak ada.”
“Makanya paling banyak.”
Aku turun.
Bang Ucup sedang duduk di kursi plastik depan rumah. Di sampingnya ada dua kardus bekas air mineral dan sebuah kipas angin yang tutup depannya sudah dilepas.
“Assalamualaikum, Bang.”
“Waalaikumsalam.”
Bang Ucup melihat kami.
“Dims.”
“Bang.”
“Ini siapa?”
Dims menunjukku.
“Teman.”
Bang Ucup mengangguk kepadaku.
“Duduk dulu.”
“Sebentar aja, Bang.”
“Ya duduk dulu.”
Kami duduk.
Bang Ucup melihat motor kami.
“Motor siapa?”
“Punya saya.”
“Beli?”
“Pinjam.”
“Dari siapa?”
“Teman.”
“Temannya siapa?”
Dims menunjukku.
Bang Ucup tertawa.
“Muter-muter lu.”
“Yang penting sampai.”
Aku ikut tertawa.
Bang Ucup berdiri dan masuk ke rumah.
Dari dalam terdengar suara perempuan.
“Ucup!”
“Iya!”
“Jangan lupa nanti!”
“Iya!”
“Jam berapa?”
“Yang tadi.”
“Jam berapa, Cup?”
“Jam empat!”
“Oh.”
Bang Ucup keluar lagi sambil membawa tas kain berwarna hitam.
“Nih.”
Dims langsung mengambilnya.
“Ini?”
“Iya.”
“Lengkap?”
Bang Ucup diam sebentar.
“Harusnya.”
Dims membuka tas.
Dia melihat isinya.
“Kurang.”
“Apa?”
“Yang kabel.”
Bang Ucup mengambil napas.
“Oh iya.”
Dia masuk lagi.
Aku melihat ke arah pintu.
Dari dalam terdengar suara perempuan tadi.
“Yang mana?”
“Kabel.”
“Kabel yang mana?”
“Ya kabelnya.”
“Ucup, kabel yang mana?”
Bang Ucup menjawab sesuatu yang tidak terdengar.
Kemudian suara perempuan itu terdengar lagi.
“Yang hitam?”
“Iya.”
“Yang pendek?”
“Iya.”
“Yang ujungnya bengkok?”
“Iya.”
Beberapa detik kemudian perempuan itu keluar membawa kabel.
Dia melihatku sebentar.
“Oh, ada orang.”
Bang Ucup mengambil kabel dari tangannya.
“Temannya Dims.”
Perempuan itu mengangguk.
“Teman?”
Dims langsung menjawab, “Iya, Bu.”
“Teman dekat?”
“Lumayan.”
Aku menoleh.
“Lumayan?”
Dims santai.
“Kenapa?”
“Enggak.”
Perempuan itu tersenyum.
“Kalau teman dekat biasanya tahu rumah.”
Dims menunjuk ke arah rumah.
“Sekarang tahu.”
“Baru sekarang?”
“Baru.”
Perempuan itu tertawa kecil lalu masuk lagi.
Bang Ucup memasukkan kabel ke dalam tas.
“Sudah.”
Dims berdiri.
“Berapa, Bang?”
“Apanya?”
“Yang kemarin.”
Bang Ucup melambaikan tangan.
“Udah.”
“Belum.”
“Udah, Dim.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau gitu gue transfer.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Bikin ribet.”
“Lah.”
Bang Ucup menepuk pundaknya.
“Sudah. Nanti aja.”
Dims terlihat mau membantah, tapi akhirnya diam.
Kami pamit.
Baru sampai depan pagar, terdengar suara dari dalam rumah.
“Cup!”
Bang Ucup berhenti.
“Apa?”
“Yang tadi jangan lupa bilang ke Pak Hadi.”
“Bilang apa?”
“Yang kemarin.”
“Yang mana?”
“Ya itu.”
Bang Ucup menoleh ke arah kami.
Dims juga menoleh.
Aku ikut menoleh.
Perempuan tadi berdiri di ambang pintu.
“Yang motor.”
Bang Ucup mengangguk.
“Oh.”
“Jangan lupa.”
“Iya.”
Kami berjalan ke motor.
Dims memasukkan tas ke jok.
Aku berdiri di sampingnya.
“Motor apa?”
“Mana?”
“Yang tadi.”
“Gue juga nggak tahu.”
“Lu tadi denger.”
“Denger.”
“Terus?”
“Ya denger.”
Aku menatapnya.
Dia menutup jok.
“Jangan mulai.”
“Aku belum mulai.”
“Wajah lu sudah.”
Aku tertawa.
“Bang Ucup punya urusan sama Pak Hadi?”
“Kayaknya.”
Aku mengangguk.
“Lu tahu?”
“Enggak.”
“Terus kenapa bilang kayaknya?”
“Karena memang kayaknya.”
“Logis juga.”
“Terima kasih.”
Kami naik motor.
Sebelum jalan, seorang anak kecil keluar dari rumah sebelah sambil membawa bola.
“Mas!”
Aku menoleh.
“Ya?”
“Motor Mas yang merah?”
Aku melihat motor yang kami pakai.
“Iya.”
“Boleh lihat?”
“Lihat aja.”
Dia mendekat, melihat bagian depan motor, lalu bertanya,
“Ini motor siapa?”
“Teman.”
“Temannya siapa?”
Aku menunjuk Dims.
“Dia.”
Anak itu melihat Dims.
Dims mengangkat tangan.
“Kenapa?”
“Kirain punya Mas.”
“Kenapa kirain?”
Anak itu mengangkat bahu.
“Ya kirain.”
Dia pergi lagi sambil membawa bolanya.
Dims menatapku.
“Lihat?”
“Apa?”
“Anak kecil aja bikin kesimpulan.”
“Dia cuma nanya.”
“Terus?”
“Ya nggak apa-apa.”
“Berarti aman.”
Kami jalan.
---
Sekitar setengah jam kemudian kami berhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan.
Bukan tempat yang ramai. Ada empat meja, satu televisi kecil yang menyala tanpa suara, dan kipas dinding yang berputar pelan. Di depan warung, seorang ibu sedang menggoreng bakwan.
“Bu, dua nasi.”
“Iya, Dek.”
“Yang satu nggak pakai sambal.”
“Lauknya?”
Dims menjawab, “Ayam.”
Aku berkata, “Telur.”
Ibu itu menunjuk ke etalase.
“Ambil sendiri, ya.”
Aku berdiri.
Di depan etalase ada beberapa lauk dalam wadah stainless. Ayam goreng tinggal tiga. Telur tinggal dua. Tempe masih banyak.
Aku mengambil telur.
Ketika kembali, Dims sudah bicara dengan seorang laki-laki yang baru datang.
“Lu di sini juga?”
“Laper.”
“Tumben.”
“Kenapa tumben?”
“Biasanya lu makan di rumah.”
“Biasanya.”
Laki-laki itu duduk.
Dia melihatku.
“Temannya Dims?”
“Iya.”
“Baru?”
“Lumayan.”
Dims tertawa.
“Dia dari tadi baru terus.”
Aku makan.
Tidak lama kemudian seorang perempuan masuk bersama anaknya.
“Bu, masih ada ayam?”
“Masih.”
“Dua.”
Ibu warung mengambil ayam.
Perempuan itu melihat ke meja kami.
“Dims?”
“Iya.”
“Lu nggak jadi?”
“Jadi apa?”
“Yang tadi.”
Dims menggaruk kepala.
“Belum.”
Perempuan itu mengangguk.
“Ya sudah.”
Dia membawa makanan ke meja belakang.
Aku melihat Dims.
Dia tidak menjelaskan.
Aku juga tidak bertanya.
Laki-laki di depan kami tiba-tiba berkata,
“Jadi?”
Dims menjawab, “Jadi.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Jangan berubah lagi.”
“Gue yang berubah?”
“Siapa tahu.”
Mereka tertawa.
Aku ikut tersenyum meskipun tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
Tidak lama kemudian ibu warung memanggil dari depan.
“Mas!”
Aku menoleh.
“Ya, Bu?”
“Yang tadi siapa?”
Aku melihat Dims.
Dims menunjuk laki-laki di meja kami.
“Dia.”
Ibu itu mengangguk.
“Bukan. Yang tadi datang sebelum dia.”
Tidak ada yang menjawab.
Ibu warung mengernyit.
“Yang pakai jaket hitam.”
Laki-laki di meja sebelah menyahut.
“Udah pulang, Bu.”
“Oh.”
Ibu warung kembali menggoreng.
Aku kembali makan.
Beberapa menit kemudian Dims berdiri.
“Gue ke depan sebentar.”
“Kenapa?”
“Bayar.”
“Sekalian.”
“Iya.”
Aku tetap duduk.
Di meja belakang, perempuan tadi sedang bicara dengan anaknya.
“Pelan-pelan makannya.”
Anaknya mengangguk.
“Ma, nanti kita jadi?”
“Nanti lihat dulu.”
“Katanya jadi.”
“Iya.”
“Berarti jadi?”
Perempuan itu diam sebentar.
“Jangan sekarang.”
Anaknya berhenti makan.
Aku tidak tahu kenapa.
Aku juga tidak tahu apakah dia benar-benar sedang bertanya soal sesuatu yang penting atau sekadar ingin tahu rencana pulang.
Dims kembali.
“Kenapa bengong?”
“Enggak.”
“Lu kalau bilang enggak—”
“Gue tahu.”
Dia duduk.
Beberapa detik kemudian laki-laki tadi bertanya kepadanya,
“Lu sudah ngomong?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Belum ketemu.”
“Ketemu siapa?”
Dims melihatku sebentar.
Lalu menjawab,
“Nanti.”
Laki-laki itu mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Kami menyelesaikan makan.
Sebelum pergi, aku berdiri dan mengambil helm.
Di depan warung, perempuan tadi sudah lebih dulu keluar bersama anaknya.
Anaknya berlari kecil menuju motor.
Perempuan itu memanggil,
“Dek, jangan ke jalan.”
Anaknya berhenti.
Aku dan Dims berjalan melewati mereka.
Tiba-tiba perempuan itu berkata,
“Mas.”
Aku berhenti.
“Iya, Bu?”
“Mas Dims tadi bilang sesuatu ke Mas?”
Aku melihat Dims.
Dims juga melihatnya.
“Enggak.”
Perempuan itu mengangguk.
“Oh.”
Hanya itu.
Dia kembali memasukkan makanan ke dalam tas plastik.
Kami berjalan lagi.
Setelah agak jauh, aku bertanya,
“Dia tadi nanya apa?”
Dims tidak langsung menjawab.
“Entah.”
“Lu kenal?”
“Kenal.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Ya itu.”
“Lu mau tahu?”
Aku mengangkat bahu.
“Kalau memang perlu.”
Dims tertawa.
“Kalimat lu sekarang makin aneh.”
“Kenapa?”
“Dulu kalau penasaran, lu tanya.”
“Sekarang juga.”
“Beda.”
“Apa?”
“Sekarang lu pakai rem.”
Aku tersenyum.
“Bagus dong.”
“Kadang.”
Kami sampai di pertigaan.
Sebelum berpisah, Dims berkata,
“Besok jangan lupa.”
“Apa?”
“Yang tadi.”
Aku melihatnya.
“Yang mana?”
Dia tertawa.
“Nah.”
Dia pergi.
Aku berdiri sebentar di pinggir jalan.
Motor-motor lewat. Sebuah angkot berhenti terlalu dekat dengan trotoar. Sopirnya membunyikan klakson dua kali, padahal tidak ada yang menghalangi.
Aku pulang.
Malamnya, sekitar pukul sebelas, ponselku berbunyi.
Pesan dari Dims.
> Besok jadi.
Aku membalas:
> Jadi apa?
Lama.
Kemudian:
> Udah.
Aku tersenyum.
> Informasi lu lengkap banget.
Tidak ada balasan.
Aku meletakkan ponsel di meja.
Beberapa menit kemudian masuk satu pesan lagi.
> Jangan bilang siapa-siapa dulu.
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Jempolku bergerak ke kolom balasan.
Aku hampir mengetik:
> Tentang apa?
Tapi tidak jadi.
Ponsel kutaruh kembali.
Besok, kalau memang perlu tahu, mungkin aku akan tahu.
Kalau tidak, ya sudah.
Pagi harinya aku baru sadar ada satu hal yang sebenarnya cukup aneh.
Sepanjang hari kemarin, hampir semua orang berbicara seolah-olah aku sudah tahu sesuatu.
Padahal tidak.
Dan yang lebih aneh lagi, aku juga beberapa kali melakukan hal yang sama.
Aku menjawab seolah-olah mengerti.
Mengangguk ketika orang lain mengangguk.
Tertawa ketika orang lain tertawa.
Membiarkan satu kalimat lewat karena rasanya terlalu kecil untuk ditanyakan.
Mungkin memang begitu cara banyak hal menjadi biasa.
Bukan karena semuanya masuk akal.
Kadang cuma karena semua orang sudah keburu berjalan.
Dan kalau kita ikut berjalan, rasanya memang tidak ada yang perlu dihentikan.
Setidaknya sampai suatu hari ada yang berhenti.
Lalu semua orang baru sadar bahwa selama ini mereka berjalan ke arah yang sama.
Atau mungkin tidak.
Aku belum tahu.

Komentar
Posting Komentar