Langsung ke konten utama

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

HAL YANG SEHARUSNYA BIASA

HAL YANG SEHARUSNYA BIASA

Sabtu siang, Dims sudah berdiri di depan rumah ketika aku keluar.


Motor menyala. Helm satu tergantung di spion, satu lagi dipakai olehnya. Kaosnya kusut di bagian belakang, mungkin karena baru bangun atau memang dari tadi begitu.


Dia melihatku dari atas motor.


“Lama.”


“Aku baru keluar.”


“Makanya.”


“Lu datangnya kapan?”


“Baru.”


“Berarti kita sama-sama baru.”


Dims menatapku beberapa detik.


“Lu kalau pagi-pagi emang begini?”


“Ini siang.”


Dia melihat jam tangannya.


“Wah.”


“Apa?”


“Lebih parah.”


Aku mengambil helm dari jok belakang.


“Jadi ke mana?”


“Ke rumah Bang Ucup.”


“Ngapain?”


“Ambil barang.”


“Barang apa?”


“Barang gue.”


“Jawaban lu kalau disuruh bikin formulir pasti pendek-pendek.”


“Biar cepat.”


Aku memakai helm.


“Bang Ucup rumahnya yang mana?”


“Yang ada pohonnya.”


Aku menatapnya.


“Di sini semua rumah ada pohon.”


“Ya cari yang paling banyak.”


“Informasi lu membantu sekali.”


“Makanya ikut.”


Aku naik.


Motor bergerak keluar dari gang.


Di depan rumah sebelah, seorang ibu sedang menyiram tanaman. Selangnya bocor sedikit di bagian tengah, jadi air menyembur ke samping setiap kali dia membuka keran lebih besar. Seorang anak laki-laki berdiri tanpa sandal di dekat pagar, memegang plastik es yang sudah tinggal separuh.


“Pagi, Bu,” sapa Dims.


“Siang, Dims.”


“Bang Ucup di rumah?”


“Coba aja langsung.”


“Katanya pergi?”


“Ya kalau pergi berarti nggak di rumah.”


Dims menoleh sedikit ke arahku.


Aku menahan tawa.


Ibu itu ikut tersenyum.


“Masih di belakang, kayaknya.”


“Nah, itu baru jawaban.”


“Kenapa?”


“Biar nggak salah.”


“Lu juga sering salah.”


“Iya, Bu.”


Kami jalan lagi.


Gang itu tidak terlalu lebar. Dua motor masih bisa berpapasan kalau salah satunya mau sedikit naik ke pinggir. Di ujung gang ada warung kecil dengan meja kaca penuh gorengan. Seorang bapak sedang duduk membelakangi jalan sambil membaca sesuatu di ponselnya.


Begitu keluar ke jalan yang lebih besar, panas langsung terasa.


Aspal memantulkan cahaya. Di depan minimarket ada dua motor parkir sembarangan, salah satunya menutup setengah pintu masuk. Seorang kurir berdiri sambil melihat layar ponselnya.


“Mas!” teriak seseorang dari dalam toko.


Kurir itu menoleh.


“Ini punya siapa?”


“Yang tadi.”


“Yang tadi siapa?”


“Ya yang tadi.”


Kurir tertawa.


“Bang, saya bukan cenayang.”


Aku sempat melihat mereka dari kaca spion.


Dims berkata, “Orang sekarang kalau kasih petunjuk kayak main tebak-tebakan.”


“Lu juga.”


“Gue beda.”


“Bedanya?”


“Gue teman lu.”


“Berarti lebih parah.”


Dia tertawa.


Kami belok ke jalan yang lebih kecil.


Rumah Bang Ucup ternyata tidak punya pohon sebanyak yang dibayangkan Dims.


Cuma satu pohon mangga di depan pagar.


“Ini?”


“Iya.”


“Lu bilang paling banyak.”


“Dibanding rumah sebelah.”


“Rumah sebelah nggak ada.”


“Makanya paling banyak.”


Aku turun.


Bang Ucup sedang duduk di kursi plastik depan rumah. Di sampingnya ada dua kardus bekas air mineral dan sebuah kipas angin yang tutup depannya sudah dilepas.


“Assalamualaikum, Bang.”


“Waalaikumsalam.”


Bang Ucup melihat kami.


“Dims.”


“Bang.”


“Ini siapa?”


Dims menunjukku.


“Teman.”


Bang Ucup mengangguk kepadaku.


“Duduk dulu.”


“Sebentar aja, Bang.”


“Ya duduk dulu.”


Kami duduk.


Bang Ucup melihat motor kami.


“Motor siapa?”


“Punya saya.”


“Beli?”


“Pinjam.”


“Dari siapa?”


“Teman.”


“Temannya siapa?”


Dims menunjukku.


Bang Ucup tertawa.


“Muter-muter lu.”


“Yang penting sampai.”


Aku ikut tertawa.


Bang Ucup berdiri dan masuk ke rumah.


Dari dalam terdengar suara perempuan.


“Ucup!”


“Iya!”


“Jangan lupa nanti!”


“Iya!”


“Jam berapa?”


“Yang tadi.”


“Jam berapa, Cup?”


“Jam empat!”


“Oh.”


Bang Ucup keluar lagi sambil membawa tas kain berwarna hitam.


“Nih.”


Dims langsung mengambilnya.


“Ini?”


“Iya.”


“Lengkap?”


Bang Ucup diam sebentar.


“Harusnya.”


Dims membuka tas.


Dia melihat isinya.


“Kurang.”


“Apa?”


“Yang kabel.”


Bang Ucup mengambil napas.


“Oh iya.”


Dia masuk lagi.


Aku melihat ke arah pintu.


Dari dalam terdengar suara perempuan tadi.


“Yang mana?”


“Kabel.”


“Kabel yang mana?”


“Ya kabelnya.”


“Ucup, kabel yang mana?”


Bang Ucup menjawab sesuatu yang tidak terdengar.


Kemudian suara perempuan itu terdengar lagi.


“Yang hitam?”


“Iya.”


“Yang pendek?”


“Iya.”


“Yang ujungnya bengkok?”


“Iya.”


Beberapa detik kemudian perempuan itu keluar membawa kabel.


Dia melihatku sebentar.


“Oh, ada orang.”


Bang Ucup mengambil kabel dari tangannya.


“Temannya Dims.”


Perempuan itu mengangguk.


“Teman?”


Dims langsung menjawab, “Iya, Bu.”


“Teman dekat?”


“Lumayan.”


Aku menoleh.


“Lumayan?”


Dims santai.


“Kenapa?”


“Enggak.”


Perempuan itu tersenyum.


“Kalau teman dekat biasanya tahu rumah.”


Dims menunjuk ke arah rumah.


“Sekarang tahu.”


“Baru sekarang?”


“Baru.”


Perempuan itu tertawa kecil lalu masuk lagi.


Bang Ucup memasukkan kabel ke dalam tas.


“Sudah.”


Dims berdiri.


“Berapa, Bang?”


“Apanya?”


“Yang kemarin.”


Bang Ucup melambaikan tangan.


“Udah.”


“Belum.”


“Udah, Dim.”


“Serius?”


“Iya.”


“Kalau gitu gue transfer.”


“Jangan.”


“Kenapa?”


“Bikin ribet.”


“Lah.”


Bang Ucup menepuk pundaknya.


“Sudah. Nanti aja.”


Dims terlihat mau membantah, tapi akhirnya diam.


Kami pamit.


Baru sampai depan pagar, terdengar suara dari dalam rumah.


“Cup!”


Bang Ucup berhenti.


“Apa?”


“Yang tadi jangan lupa bilang ke Pak Hadi.”


“Bilang apa?”


“Yang kemarin.”


“Yang mana?”


“Ya itu.”


Bang Ucup menoleh ke arah kami.


Dims juga menoleh.


Aku ikut menoleh.


Perempuan tadi berdiri di ambang pintu.


“Yang motor.”


Bang Ucup mengangguk.


“Oh.”


“Jangan lupa.”


“Iya.”


Kami berjalan ke motor.


Dims memasukkan tas ke jok.


Aku berdiri di sampingnya.


“Motor apa?”


“Mana?”


“Yang tadi.”


“Gue juga nggak tahu.”


“Lu tadi denger.”


“Denger.”


“Terus?”


“Ya denger.”


Aku menatapnya.


Dia menutup jok.


“Jangan mulai.”


“Aku belum mulai.”


“Wajah lu sudah.”


Aku tertawa.


“Bang Ucup punya urusan sama Pak Hadi?”


“Kayaknya.”


Aku mengangguk.


“Lu tahu?”


“Enggak.”


“Terus kenapa bilang kayaknya?”


“Karena memang kayaknya.”


“Logis juga.”


“Terima kasih.”


Kami naik motor.


Sebelum jalan, seorang anak kecil keluar dari rumah sebelah sambil membawa bola.


“Mas!”


Aku menoleh.


“Ya?”


“Motor Mas yang merah?”


Aku melihat motor yang kami pakai.


“Iya.”


“Boleh lihat?”


“Lihat aja.”


Dia mendekat, melihat bagian depan motor, lalu bertanya,


“Ini motor siapa?”


“Teman.”


“Temannya siapa?”


Aku menunjuk Dims.


“Dia.”


Anak itu melihat Dims.


Dims mengangkat tangan.


“Kenapa?”


“Kirain punya Mas.”


“Kenapa kirain?”


Anak itu mengangkat bahu.


“Ya kirain.”


Dia pergi lagi sambil membawa bolanya.


Dims menatapku.


“Lihat?”


“Apa?”


“Anak kecil aja bikin kesimpulan.”


“Dia cuma nanya.”


“Terus?”


“Ya nggak apa-apa.”


“Berarti aman.”


Kami jalan.



---


Sekitar setengah jam kemudian kami berhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan.


Bukan tempat yang ramai. Ada empat meja, satu televisi kecil yang menyala tanpa suara, dan kipas dinding yang berputar pelan. Di depan warung, seorang ibu sedang menggoreng bakwan.


“Bu, dua nasi.”


“Iya, Dek.”


“Yang satu nggak pakai sambal.”


“Lauknya?”


Dims menjawab, “Ayam.”


Aku berkata, “Telur.”


Ibu itu menunjuk ke etalase.


“Ambil sendiri, ya.”


Aku berdiri.


Di depan etalase ada beberapa lauk dalam wadah stainless. Ayam goreng tinggal tiga. Telur tinggal dua. Tempe masih banyak.


Aku mengambil telur.


Ketika kembali, Dims sudah bicara dengan seorang laki-laki yang baru datang.


“Lu di sini juga?”


“Laper.”


“Tumben.”


“Kenapa tumben?”


“Biasanya lu makan di rumah.”


“Biasanya.”


Laki-laki itu duduk.


Dia melihatku.


“Temannya Dims?”


“Iya.”


“Baru?”


“Lumayan.”


Dims tertawa.


“Dia dari tadi baru terus.”


Aku makan.


Tidak lama kemudian seorang perempuan masuk bersama anaknya.


“Bu, masih ada ayam?”


“Masih.”


“Dua.”


Ibu warung mengambil ayam.


Perempuan itu melihat ke meja kami.


“Dims?”


“Iya.”


“Lu nggak jadi?”


“Jadi apa?”


“Yang tadi.”


Dims menggaruk kepala.


“Belum.”


Perempuan itu mengangguk.


“Ya sudah.”


Dia membawa makanan ke meja belakang.


Aku melihat Dims.


Dia tidak menjelaskan.


Aku juga tidak bertanya.


Laki-laki di depan kami tiba-tiba berkata,


“Jadi?”


Dims menjawab, “Jadi.”


“Beneran?”


“Iya.”


“Jangan berubah lagi.”


“Gue yang berubah?”


“Siapa tahu.”


Mereka tertawa.


Aku ikut tersenyum meskipun tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.


Tidak lama kemudian ibu warung memanggil dari depan.


“Mas!”


Aku menoleh.


“Ya, Bu?”


“Yang tadi siapa?”


Aku melihat Dims.


Dims menunjuk laki-laki di meja kami.


“Dia.”


Ibu itu mengangguk.


“Bukan. Yang tadi datang sebelum dia.”


Tidak ada yang menjawab.


Ibu warung mengernyit.


“Yang pakai jaket hitam.”


Laki-laki di meja sebelah menyahut.


“Udah pulang, Bu.”


“Oh.”


Ibu warung kembali menggoreng.


Aku kembali makan.


Beberapa menit kemudian Dims berdiri.


“Gue ke depan sebentar.”


“Kenapa?”


“Bayar.”


“Sekalian.”


“Iya.”


Aku tetap duduk.


Di meja belakang, perempuan tadi sedang bicara dengan anaknya.


“Pelan-pelan makannya.”


Anaknya mengangguk.


“Ma, nanti kita jadi?”


“Nanti lihat dulu.”


“Katanya jadi.”


“Iya.”


“Berarti jadi?”


Perempuan itu diam sebentar.


“Jangan sekarang.”


Anaknya berhenti makan.


Aku tidak tahu kenapa.


Aku juga tidak tahu apakah dia benar-benar sedang bertanya soal sesuatu yang penting atau sekadar ingin tahu rencana pulang.


Dims kembali.


“Kenapa bengong?”


“Enggak.”


“Lu kalau bilang enggak—”


“Gue tahu.”


Dia duduk.


Beberapa detik kemudian laki-laki tadi bertanya kepadanya,


“Lu sudah ngomong?”


“Belum.”


“Kenapa?”


“Belum ketemu.”


“Ketemu siapa?”


Dims melihatku sebentar.


Lalu menjawab,


“Nanti.”


Laki-laki itu mengangguk.


Tidak bertanya lagi.


Kami menyelesaikan makan.


Sebelum pergi, aku berdiri dan mengambil helm.


Di depan warung, perempuan tadi sudah lebih dulu keluar bersama anaknya.


Anaknya berlari kecil menuju motor.


Perempuan itu memanggil,


“Dek, jangan ke jalan.”


Anaknya berhenti.


Aku dan Dims berjalan melewati mereka.


Tiba-tiba perempuan itu berkata,


“Mas.”


Aku berhenti.


“Iya, Bu?”


“Mas Dims tadi bilang sesuatu ke Mas?”


Aku melihat Dims.


Dims juga melihatnya.


“Enggak.”


Perempuan itu mengangguk.


“Oh.”


Hanya itu.


Dia kembali memasukkan makanan ke dalam tas plastik.


Kami berjalan lagi.


Setelah agak jauh, aku bertanya,


“Dia tadi nanya apa?”


Dims tidak langsung menjawab.


“Entah.”


“Lu kenal?”


“Kenal.”


“Terus?”


“Terus apa?”


“Ya itu.”


“Lu mau tahu?”


Aku mengangkat bahu.


“Kalau memang perlu.”


Dims tertawa.


“Kalimat lu sekarang makin aneh.”


“Kenapa?”


“Dulu kalau penasaran, lu tanya.”


“Sekarang juga.”


“Beda.”


“Apa?”


“Sekarang lu pakai rem.”


Aku tersenyum.


“Bagus dong.”


“Kadang.”


Kami sampai di pertigaan.


Sebelum berpisah, Dims berkata,


“Besok jangan lupa.”


“Apa?”


“Yang tadi.”


Aku melihatnya.


“Yang mana?”


Dia tertawa.


“Nah.”


Dia pergi.


Aku berdiri sebentar di pinggir jalan.


Motor-motor lewat. Sebuah angkot berhenti terlalu dekat dengan trotoar. Sopirnya membunyikan klakson dua kali, padahal tidak ada yang menghalangi.


Aku pulang.


Malamnya, sekitar pukul sebelas, ponselku berbunyi.


Pesan dari Dims.


> Besok jadi.




Aku membalas:


> Jadi apa?




Lama.


Kemudian:


> Udah.




Aku tersenyum.


> Informasi lu lengkap banget.




Tidak ada balasan.


Aku meletakkan ponsel di meja.


Beberapa menit kemudian masuk satu pesan lagi.


> Jangan bilang siapa-siapa dulu.




Aku membaca pesan itu sekali.


Lalu sekali lagi.


Jempolku bergerak ke kolom balasan.


Aku hampir mengetik:


> Tentang apa?




Tapi tidak jadi.


Ponsel kutaruh kembali.


Besok, kalau memang perlu tahu, mungkin aku akan tahu.


Kalau tidak, ya sudah.


Pagi harinya aku baru sadar ada satu hal yang sebenarnya cukup aneh.


Sepanjang hari kemarin, hampir semua orang berbicara seolah-olah aku sudah tahu sesuatu.


Padahal tidak.


Dan yang lebih aneh lagi, aku juga beberapa kali melakukan hal yang sama.


Aku menjawab seolah-olah mengerti.


Mengangguk ketika orang lain mengangguk.


Tertawa ketika orang lain tertawa.


Membiarkan satu kalimat lewat karena rasanya terlalu kecil untuk ditanyakan.


Mungkin memang begitu cara banyak hal menjadi biasa.


Bukan karena semuanya masuk akal.


Kadang cuma karena semua orang sudah keburu berjalan.


Dan kalau kita ikut berjalan, rasanya memang tidak ada yang perlu dihentikan.


Setidaknya sampai suatu hari ada yang berhenti.


Lalu semua orang baru sadar bahwa selama ini mereka berjalan ke arah yang sama.


Atau mungkin tidak.


Aku belum tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

  Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal (Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir) “Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.” Setiap orang punya titik gelapnya. Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong? Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap, dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu. Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam. Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin, tapi karena mimpi. Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah. Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan. Dan sejak malam itu, aku tahu… ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku. Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai. Percakapan yang tak pernah dimulai. Pelukan yang tak pernah diberikan. Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar. Dan trauma yang menyamar ...

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual Di pantai ini, ombak tinggi menukik curam, Menatap pulau di seberang, bisakah aku sampai ke sana? Di bawah langit yang berkilau, perjalanan ini tiada ujung, Aku mencari cinta, tak sekadar asmara, namun makna mendalam. Kenangan muncul, kau di dalamnya, Namamu entah bagaimana kuingat, Bermain di rumahmu, berenang di kolam jernih, Di lapangan luas, kita berlari, seakan berlari di atas air. Pertemuan dan perpisahan, hatiku selalu bertanya, Adakah cinta sejati yang melampaui batas dunia fana ini? Bertahun-tahun aku berjalan, bertemu banyak wajah, Namun selalu ada kekosongan, sunyi yang membayang. Kekasih yang kutemui, seolah hanya bayang-bayang, Hingga suatu malam, aku menemukan cahaya yang menenangkan, Saat pertama kali kusadari hadirat-Mu, Ada kehangatan yang merasuk, tak seperti yang lain. Dalam keremangan hatiku, Engkau datang sebagai penuntun, Mengisi relung terdalam dengan cinta yang tak pernah pudar. Kerinduan yang lama terpendam,...

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 14   Monokroso: Bentuk dari Kesunyian Aku mulai memahami… bahwa tidak semua hal harus dimengerti dengan kata-kata. Ada bahasa yang lahir dari diam. Dari jeda. Dari kesunyian yang tak memaksa untuk dijelaskan. Monokroso —sebuah istilah yang kubuat sendiri. Entah kenapa kata itu muncul begitu saja, seperti bisikan yang lahir dari tidur yang gelisah. Ia seperti cermin buram, tempat aku melihat bayangan diriku yang sesungguhnya: sunyi, tapi penuh gema. Di titik ini, aku tak lagi berusaha keras untuk menjelaskan segalanya. Aku duduk diam. Mendengar detak jantung sendiri. Menyadari bahwa keheningan pun bisa menjadi teman. Bahkan pelukan. Bahkan doa. Kesunyian tidak berarti kosong. Justru di sanalah aku mulai bertemu dengan hal-hal yang tak pernah sempat aku temui saat sibuk mencari suara: keikhlasan, pengampunan, bahkan wajah Tuhan yang lama kuabaikan. Di Monokroso, aku belajar bahwa hidup tak harus selalu keras kepala. Tak perlu selalu bergerak cepat. Ada waktu untuk menepi. Untu...

Bab 8 Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

 Bab 8 — Menemukan Makna di Tengah Kekacauan Ada satu titik dalam hidup yang nggak bisa lo lawan, hindari, atau pura-pura nggak lihat. Titik di mana semua yang lo bangun runtuh. Titik di mana suara dari dalam diri bertanya: "Apa sebenarnya arti semua ini?" Gue sampai di titik itu. Bukan karena gue lemah, tapi karena semuanya dibongkar—oleh hidup, oleh keadaan, bahkan oleh Tuhan sendiri. Dan justru saat semuanya jadi puing, gue mulai melihat. Makna nggak lahir dari kenyamanan, tapi dari kehancuran yang lo hadapi dan maknai sendiri. Gue pernah tanya: Kenapa hidup harus serumit ini? Kenapa harus ada luka, kehilangan, pengkhianatan, dan sistem yang bahkan nggak peduli lo hidup atau mati? Jawabannya datang bukan dari luar, tapi dari dalam: "Karena semua itu bukan buat nyiksa lo, tapi buat lo sadar." Sadar bahwa kita bukan cuma bagian dari kekacauan ini, tapi juga bisa jadi penjawabnya. Lo nggak harus jadi tokoh besar. Lo cuma harus jujur dan nggak berhenti bergerak. Gue ...

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api

Bab 13 — Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api Ada saat dalam hidupku di mana semua luka, semua pertanyaan, dan semua keteguhan diam-diam akhirnya bertemu dalam satu titik — sebuah panggilan yang tak tertulis di peta dunia, tapi sangat jelas di dalam dada. Aku menyebutnya: Gunung di Utara. Ini bukan tentang ambisi atau kemenangan. Bukan tentang menjadi lebih hebat dari yang lain. Tapi tentang panggilan yang tidak bisa ditolak, bahkan ketika logika tidak mengerti, dan dunia tidak melihat. Gunung itu tidak pernah muncul di realitas kasat mata. Tapi hadir begitu kuat dalam mimpi, dalam tafakur, dalam jeda antara suara dan keheningan. > Ada arah yang tak tertulis di peta. Ada panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tapi terasa kuat di dalam dada. Sebagian orang menyebutnya intuisi, sebagian menyebutnya visi. Bagiku… itu adalah panggilan pulang. Aku bermimpi tentang sebuah gunung di utara. Sunyi. Tegas. Tegak, tapi tak angkuh. Dari kejauhan, terlihat api kecil menyala di puncak...

Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

  Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal Kadang, aku hanya duduk diam di tengah malam. Tidak mencari makna. Tidak memaksa arah. Hanya duduk—mendengarkan detak jantung sendiri yang kadang tak seirama dengan waktu. Perasaanku, yang selama ini seperti kabut di dalam dada, mulai menunjukkan bentuknya. Ia bukan musuh, bukan pula beban. Ia adalah aku, yang belum pernah benar-benar kudengarkan. Aku menatap kembali jejak perjalanan ini. Luka-luka yang dulu ingin kutinggalkan, kini menjadi guru. Mimpi-mimpi yang kupaksa usir, ternyata adalah cermin dari kerinduan yang tak bisa dilupakan. Dan cinta... cinta yang sempat kupikir mengacaukan, justru yang menyelamatkan. "Aku sabar," kataku dalam doa. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu, setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh. Dan setiap perasaan, punya hak untuk diterima. Termasuk yang sulit, termasuk yang membuatku menangis tanpa alasan. Aku mulai memaafkan. Bukan untuk mereka. Tapi untukku—untuk bagian diriku...

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan Ada saat dalam hidupku, di mana langit serasa tidak ada. Doa hanya gema di dalam kepala, dan aku pun tak yakin, apakah ada yang mendengarkan. Semua cara sudah kujalani. Kuhampiri segala nama, kutempuh segala arah. Tapi jalan itu seperti labirin, yang membawaku kembali ke satu titik: diriku yang kosong. Tapi justru dari kekosongan itulah, aku mulai mendengar suara yang bukan suara. Yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam: halus, tapi menembus. Lembut, tapi menggetarkan. Seseorang — atau sesuatu — seolah bertanya: "Apa kamu lupa, kamu punya siapa?" "Apa kamu lupa siapa Nabi yang telah berjuang untukmu di akhir zaman?" Dan saat itu, aku tidak menangis. Aku hening. Karena aku tahu: aku sedang diingatkan, bukan dihukum. "My Angel", buatku, bukan makhluk bersayap. Dia bisa jadi bagian terdalam dari diriku yang selama ini diam. Yang sudah lama terkubur oleh luka, ambisi, dan kega...

Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi Malam itu, aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami. Lalu ada suara. Pelan. Tak jelas, tapi familiar. Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh. Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu. Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun. Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur. Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan. Seperti luka yang menolak ditutup. Mimpi ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai. "Kenapa kau masih di sini?" Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut. Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar. Aku sering terlihat normal di sian...

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa  Bab 1 — Titik Nol: Doa dari Dalam Kegelapan Aku gak tau kapan terakhir kali aku bisa percaya sama hidup. Yang aku tau, selama bertahun-tahun… aku hidup dalam diam. Aku kehilangan arah, kehilangan suara, dan perlahan… kehilangan diri. Dulu, aku pernah percaya bahwa manusia bisa bangkit kalau dikasih alasan. Tapi setelah banyak jatuh dan kecewa — terutama dengan keluarga dan diriku sendiri — aku ngerasa… mungkin ini akhir dari segalanya. Aku gak kerja. Gak sekolah. Gak punya banyak teman. Dan setiap malam, aku cuma punya satu hal yang tersisa: doa. Bukan doa yang megah. Bukan yang teratur. Kadang cuma bisikan pelan ke langit-langit kamar yang gelap. "Ya Allah, tolong… kalau Engkau masih lihat aku, beri aku alasan buat hidup lagi." Aku gak minta jadi hebat. Aku gak minta cinta. Aku cuma pengen hidup… dan punya arah. Sampai suatu hari, di tengah keputusasaanku, aku memutuskan kembali sekolah. Paket C. Langkah kecil yang kelihatan sepele — tapi bua...

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu  Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama. Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat. Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu. Di ruang tunggu ini, aku sendirian. Tapi… aku tidak benar-benar sendiri. Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara. Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran. “Sakit ini bukan karena penyakit.” “Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.” Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat. Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam. Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal. Ia seperti aku, tapi tak sama. Ia adalah bayangan dari rasa yang tak ...