Langsung ke konten utama

ORANG YANG MENATAP BALIK

  ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...

TRUST ME? NO. WATCH ME.

 PROLOG

TRUST ME? NO. WATCH ME.

Aku pernah mengira orang yang paling sulit dipahami adalah orang yang banyak bicara.


Ternyata bukan.


Yang sulit justru orang yang jawabannya pendek.


“Udah.”


“Gak tahu.”


“Biasa.”


“Lupain aja.”


Empat kata yang bisa mengakhiri percakapan dengan rapi.


Aku tahu karena beberapa kali aku juga menggunakannya.

____________________________________________________________________


Sore itu aku duduk di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari jalan besar. Kursinya plastik. Meja-mejanya penuh bekas goresan. Kipas di langit-langit berputar sambil mengeluarkan suara tek... tek... tek... setiap beberapa detik.


Aku datang terlambat.


Temanku sudah hampir selesai makan.


“Lu dari mana?”


“Rumah.”


“Dari rumah selama itu?”


Aku duduk.


“Iya.”


Dia tertawa.


“Jawaban macam apa itu?”


“Pertanyaannya juga begitu.”


Dia menggeleng sambil mendorong satu gelas ke arahku.


“Minum.”


Aku meminumnya.


Dingin.


Terlalu manis.


Kami ngobrol soal kerjaan, uang, orang yang baru menikah, harga bensin, dan seorang teman lama yang sudah lama tidak muncul di grup.


Sampai namanya disebut.


Temanku langsung berubah nada.


“Orang itu jangan terlalu dipercaya.”


Aku berhenti mengunyah.


“Kenapa?”


“Ya... banyak cerita.”


“Cerita apa?”


Dia menatapku.


“Lu serius?”


Aku mengangguk.


“Serius.”


Dia mengambil sendok.


Mengaduk makanan yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk.


“Pokoknya ada aja.”


Aku menunggu.


Dia tidak melanjutkan.


“Terus?”


“Apanya?”


“Ceritanya.”


“Udah, nanti juga lu tahu.”


Aku tertawa kecil.


“Kalau nanti tahu, kenapa sekarang gue harus percaya?”


Dia menunjukku dengan sendok.


“Nah. Ini nih.”


“Apa?”


“Lu.”


“Aku kenapa?”


“Ribet.”


Aku kembali makan.


Percakapan pindah ke hal lain.


Selesai.


Setidaknya, hari itu.

____________________________________________________________________


Aku tidak terlalu ingat kapan kebiasaan memperhatikan hal-hal kecil mulai muncul.


Mungkin memang dari dulu.


Aku cuma baru sadar belakangan.


Misalnya, aku sering memperhatikan siapa yang datang lebih dulu ke sebuah ruangan.


Siapa yang langsung mencari orang tertentu.


Siapa yang memilih duduk dekat pintu.


Siapa yang tiba-tiba memainkan ponsel ketika sebuah nama disebut.


Hal-hal kecil.


Tidak selalu berarti apa-apa.


Sering kali memang tidak berarti apa-apa.


Seorang yang duduk dekat pintu mungkin cuma ingin pulang lebih cepat.


Orang yang melihat ponsel mungkin memang sedang menunggu pesan.


Aku pernah salah membaca semuanya.


Lumayan sering.


Suatu hari aku mengira seorang teman sedang menghindariku.


Ternyata dia sedang pusing.


Hari lain aku mengira seseorang marah karena cara bicaranya berubah.


Ternyata giginya sedang sakit.


Ada juga orang yang kukira tidak peduli.


Ternyata dia hanya tidak tahu harus berkata apa.


Sejak itu aku mulai berhenti memberi nama pada sesuatu terlalu cepat.


Kalau aku melihat seseorang pergi, ya dia pergi.


Kalau seseorang tidak menjawab, ya dia tidak menjawab.


Sisanya...


Hmm.


Belum tentu.

____________________________________________________________________


Beberapa minggu kemudian aku berada di sebuah ruangan yang cukup ramai.


Aku tidak mengenal semua orang di sana.


Sebagian saling menyapa.


Sebagian sibuk dengan telepon.


Ada yang tertawa terlalu keras.


Ada yang sejak tadi duduk sendiri.


Aku memilih kursi di bagian belakang.


Dari sana aku bisa melihat pintu.


Seorang laki-laki datang sekitar sepuluh menit setelah acara dimulai.


Beberapa orang langsung menyambutnya.


“Wah, akhirnya datang juga.”


Dia tertawa.


“Macet.”


“Biasa.”


Seseorang menarik kursi untuknya.


Dia duduk.


Tidak ada yang aneh.


Setidaknya saat itu.


Di sebelahku ada seorang laki-laki yang sejak tadi diam.


Dia memperhatikan orang yang baru datang tadi.


Kemudian berkata pelan,


“Dia memang selalu begitu.”


Aku menoleh.


“Begitu gimana?”


Dia tidak menjawab.


Tangannya mengambil botol minum.


Dibuka.


Diminum.


Ditutup lagi.


Aku menunggu.


“Udah,” katanya.


“Udah apanya?”


“Gak usah.”


Aku mengangguk.


Beberapa menit kemudian dia berdiri dan pindah tempat.


Aku masih duduk di sana.


Laki-laki yang tadi dibicarakan sedang tertawa bersama orang-orang lain.


Dari tempatku, dia terlihat biasa saja.


Mungkin memang begitu.

____________________________________________________________________


Malamnya aku menerima pesan dari seseorang yang sudah lama tidak menghubungiku.


Lu masih kenal dia?


Aku membaca sekali.


Kemudian dua kali.


Aku membalas:


Kenal. Kenapa?


Tidak ada jawaban.


Lima menit.


Sepuluh menit.


Satu jam.


Tidak ada.


Besok paginya baru muncul balasan.


Gak jadi.


Aku mengetik:


Oke.


Aku hampir menekan kirim.


Lalu menghapusnya.


Menulis lagi:


Kenapa kemarin nanya?


Kirim.


Tidak dibalas.


Sampai sekarang.

____________________________________________________________________


Ada banyak kejadian yang seperti itu.


Kecil.


Terpisah.


Tidak cukup penting untuk diceritakan kepada orang lain.


Seseorang berhenti mengikuti seseorang.


Satu nama tiba-tiba tidak pernah disebut lagi.


Sebuah percakapan berubah ketika orang ketiga datang.


Orang yang biasanya banyak bicara mendadak memilih diam.


Seseorang meminta maaf untuk sesuatu yang tidak pernah kutanyakan.


Ada yang berkata,


“Lu jangan ikut campur.”


Padahal aku bahkan belum bertanya.


Ada juga yang bilang,


“Semua orang tahu.”


Aku pernah menjawab,


“Semua orang siapa?”


Dia tertawa.


Aku tidak.

____________________________________________________________________


Aku mulai mencatat.


Bukan jurnal.


Bukan penyelidikan.


Cuma catatan kecil supaya aku tidak mengandalkan ingatan.


Tanggal.


Tempat.


Siapa yang hadir.


Apa yang benar-benar kulihat.


Apa yang hanya kudengar.


Kadang cuma satu kalimat.


Kadang satu nama.


Kadang:


Aku tidak tahu.


Aku suka kalimat itu.


Pendek.


Tidak perlu dibela.


Tidak perlu dibuat terdengar pintar.


Kalau memang tidak tahu, ya sudah.

____________________________________________________________________


Lalu suatu hari aku menemukan catatan lama.


Aku membacanya sambil duduk di lantai.


Ada satu kejadian yang ternyata sudah kuingat dengan cara yang berbeda.


Versi di kepalaku terasa jelas.


Versi di kertas membuatku berhenti.


Aku membaca ulang.


Sekali.


Dua kali.


Ternyata aku dulu menulis sesuatu yang sekarang sudah tidak kuingat sama sekali.


Aku mengambil pulpen.


Menulis di bawahnya:


Mungkin aku salah mengingat.


Aku hampir mencoret kalimat lama.


Tidak jadi.


Kuberi garis kecil di bawahnya.


Biarkan.


Mungkin catatan itu lebih jujur daripada ingatanku.


____________________________________________________________________


Sejak saat itu aku mulai memperhatikan satu hal lain.


Bukan kejadian.


Cara orang menceritakan kejadian.


Ada orang yang mengingat detail terkecil.


Ada yang hanya ingat hasil akhirnya.


Ada yang yakin sekali.


Ada yang setiap dua menit mengatakan,


“Kalau gak salah...”


Ada yang berkata,


“Gue ada di sana.”


Padahal setelah ditanya lebih jauh, ternyata dia datang setelah semuanya selesai.


Aku juga pernah seperti itu.


Jadi aku tidak terlalu cepat percaya pada siapa pun.


Termasuk diriku sendiri.

____________________________________________________________________


Aku tidak sedang mencari sebuah rahasia.


Setidaknya waktu itu aku belum tahu bahwa aku sedang menuju ke mana.


Hidupku tetap berjalan.


Bangun.


Makan.


Kerja.


Pulang.


Membalas pesan.


Lupa membalas pesan lain.


Ketemu orang.


Menghindari orang.


Tertawa pada hal yang tidak lucu.


Kesal karena hal yang sebenarnya sepele.


Kadang merasa sudah memahami sesuatu.


Besoknya sadar aku cuma sok tahu.


Tidak ada musik latar.


Tidak ada tanda khusus.


Tidak ada seseorang yang datang lalu menyerahkan sebuah rahasia kepadaku.


Tidak ada alasan untuk percaya bahwa sesuatu yang besar sedang dimulai.


Kalau ada yang bilang saat itu bahwa beberapa kejadian kecil yang kuanggap sepele akan terus muncul di kepalaku bertahun-tahun kemudian, mungkin aku akan tertawa.


Aku mungkin tetap tertawa sekarang.

____________________________________________________________________


Yang berubah cuma satu.


Aku mulai melihat lagi.


Bukan melihat lebih banyak.


Melihat lagi.


Pada percakapan yang pernah kulewati.


Pada orang yang pernah kuanggap sudah kupahami.


Pada keputusan yang dulu terlihat sederhana.


Pada cerita yang terlalu cepat dipercaya.


Pada hal-hal yang semua orang sebut biasa.


Kadang aku menemukan sesuatu.


Kadang tidak.


Kadang aku hanya menemukan bahwa dugaanku sendiri ternyata salah.


Dan itu pun informasi.

____________________________________________________________________

Kalau kau membaca ini lalu merasa sudah tahu siapa aku, simpan dulu kesimpulanmu.


Kalau kau merasa ada sesuatu yang sedang kusembunyikan, mungkin ada.


Kalau kau merasa tidak ada apa-apa, mungkin memang begitu.


Aku tidak akan membantumu memilih.


Aku hanya akan menunjukkan apa yang terjadi sejauh yang mampu kulihat.


Sisanya akan muncul sedikit demi sedikit.


Orang-orang akan bicara.


Mereka akan diam.


Mereka akan mengingat.


Mereka akan lupa.


Mereka akan punya alasan.


Kadang alasan itu masuk akal.


Kadang tidak.


Kadang sebuah keputusan baru terlihat berbeda setelah kita tahu apa yang terjadi sesudahnya.


Dan kadang...


kita baru sadar sedang melihat sesuatu setelah semuanya terlanjur lewat.


Jadi kalau nanti kau menemukan sesuatu yang terasa ganjil, jangan buru-buru menyimpulkan.


Lihat lagi.


Kalau perlu, kembali.


Baca lagi.


Mungkin kau melewatkan sesuatu.


Mungkin aku yang melewatkannya.


Mungkin kita berdua.

____________________________________________________________________

Namaku akan muncul nanti.


Cerita ini juga akan membawa kita ke tempat-tempat yang awalnya mungkin tidak terasa saling berhubungan.


Aku tidak tahu apakah semuanya akan tersambung.


Aku tidak mau memaksanya.


Untuk sekarang, cukup satu hal.


Aku akan menceritakan apa yang kulihat.


Apa yang kudengar akan tetap menjadi apa yang kudengar.


Kalau aku menduga sesuatu, itu dugaan.


Kalau aku tidak tahu, aku akan membiarkannya tetap kosong.


Dan kalau suatu hari aku ternyata salah...

ya.

Kita lihat nanti.


TRUST ME? NO.

WATCH ME.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

  Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal (Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir) “Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.” Setiap orang punya titik gelapnya. Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong? Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap, dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu. Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam. Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin, tapi karena mimpi. Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah. Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan. Dan sejak malam itu, aku tahu… ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku. Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai. Percakapan yang tak pernah dimulai. Pelukan yang tak pernah diberikan. Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar. Dan trauma yang menyamar ...

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual

Di Bawah Langit Berkilau: Sebuah Perjalanan Spiritual Di pantai ini, ombak tinggi menukik curam, Menatap pulau di seberang, bisakah aku sampai ke sana? Di bawah langit yang berkilau, perjalanan ini tiada ujung, Aku mencari cinta, tak sekadar asmara, namun makna mendalam. Kenangan muncul, kau di dalamnya, Namamu entah bagaimana kuingat, Bermain di rumahmu, berenang di kolam jernih, Di lapangan luas, kita berlari, seakan berlari di atas air. Pertemuan dan perpisahan, hatiku selalu bertanya, Adakah cinta sejati yang melampaui batas dunia fana ini? Bertahun-tahun aku berjalan, bertemu banyak wajah, Namun selalu ada kekosongan, sunyi yang membayang. Kekasih yang kutemui, seolah hanya bayang-bayang, Hingga suatu malam, aku menemukan cahaya yang menenangkan, Saat pertama kali kusadari hadirat-Mu, Ada kehangatan yang merasuk, tak seperti yang lain. Dalam keremangan hatiku, Engkau datang sebagai penuntun, Mengisi relung terdalam dengan cinta yang tak pernah pudar. Kerinduan yang lama terpendam,...

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 14   Monokroso: Bentuk dari Kesunyian Aku mulai memahami… bahwa tidak semua hal harus dimengerti dengan kata-kata. Ada bahasa yang lahir dari diam. Dari jeda. Dari kesunyian yang tak memaksa untuk dijelaskan. Monokroso —sebuah istilah yang kubuat sendiri. Entah kenapa kata itu muncul begitu saja, seperti bisikan yang lahir dari tidur yang gelisah. Ia seperti cermin buram, tempat aku melihat bayangan diriku yang sesungguhnya: sunyi, tapi penuh gema. Di titik ini, aku tak lagi berusaha keras untuk menjelaskan segalanya. Aku duduk diam. Mendengar detak jantung sendiri. Menyadari bahwa keheningan pun bisa menjadi teman. Bahkan pelukan. Bahkan doa. Kesunyian tidak berarti kosong. Justru di sanalah aku mulai bertemu dengan hal-hal yang tak pernah sempat aku temui saat sibuk mencari suara: keikhlasan, pengampunan, bahkan wajah Tuhan yang lama kuabaikan. Di Monokroso, aku belajar bahwa hidup tak harus selalu keras kepala. Tak perlu selalu bergerak cepat. Ada waktu untuk menepi. Untu...

Bab 8 Menemukan Makna di Tengah Kekacauan

 Bab 8 — Menemukan Makna di Tengah Kekacauan Ada satu titik dalam hidup yang nggak bisa lo lawan, hindari, atau pura-pura nggak lihat. Titik di mana semua yang lo bangun runtuh. Titik di mana suara dari dalam diri bertanya: "Apa sebenarnya arti semua ini?" Gue sampai di titik itu. Bukan karena gue lemah, tapi karena semuanya dibongkar—oleh hidup, oleh keadaan, bahkan oleh Tuhan sendiri. Dan justru saat semuanya jadi puing, gue mulai melihat. Makna nggak lahir dari kenyamanan, tapi dari kehancuran yang lo hadapi dan maknai sendiri. Gue pernah tanya: Kenapa hidup harus serumit ini? Kenapa harus ada luka, kehilangan, pengkhianatan, dan sistem yang bahkan nggak peduli lo hidup atau mati? Jawabannya datang bukan dari luar, tapi dari dalam: "Karena semua itu bukan buat nyiksa lo, tapi buat lo sadar." Sadar bahwa kita bukan cuma bagian dari kekacauan ini, tapi juga bisa jadi penjawabnya. Lo nggak harus jadi tokoh besar. Lo cuma harus jujur dan nggak berhenti bergerak. Gue ...

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api

Bab 13 — Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api Ada saat dalam hidupku di mana semua luka, semua pertanyaan, dan semua keteguhan diam-diam akhirnya bertemu dalam satu titik — sebuah panggilan yang tak tertulis di peta dunia, tapi sangat jelas di dalam dada. Aku menyebutnya: Gunung di Utara. Ini bukan tentang ambisi atau kemenangan. Bukan tentang menjadi lebih hebat dari yang lain. Tapi tentang panggilan yang tidak bisa ditolak, bahkan ketika logika tidak mengerti, dan dunia tidak melihat. Gunung itu tidak pernah muncul di realitas kasat mata. Tapi hadir begitu kuat dalam mimpi, dalam tafakur, dalam jeda antara suara dan keheningan. > Ada arah yang tak tertulis di peta. Ada panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tapi terasa kuat di dalam dada. Sebagian orang menyebutnya intuisi, sebagian menyebutnya visi. Bagiku… itu adalah panggilan pulang. Aku bermimpi tentang sebuah gunung di utara. Sunyi. Tegas. Tegak, tapi tak angkuh. Dari kejauhan, terlihat api kecil menyala di puncak...

Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

  Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal Kadang, aku hanya duduk diam di tengah malam. Tidak mencari makna. Tidak memaksa arah. Hanya duduk—mendengarkan detak jantung sendiri yang kadang tak seirama dengan waktu. Perasaanku, yang selama ini seperti kabut di dalam dada, mulai menunjukkan bentuknya. Ia bukan musuh, bukan pula beban. Ia adalah aku, yang belum pernah benar-benar kudengarkan. Aku menatap kembali jejak perjalanan ini. Luka-luka yang dulu ingin kutinggalkan, kini menjadi guru. Mimpi-mimpi yang kupaksa usir, ternyata adalah cermin dari kerinduan yang tak bisa dilupakan. Dan cinta... cinta yang sempat kupikir mengacaukan, justru yang menyelamatkan. "Aku sabar," kataku dalam doa. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu, setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh. Dan setiap perasaan, punya hak untuk diterima. Termasuk yang sulit, termasuk yang membuatku menangis tanpa alasan. Aku mulai memaafkan. Bukan untuk mereka. Tapi untukku—untuk bagian diriku...

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan

🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan Ada saat dalam hidupku, di mana langit serasa tidak ada. Doa hanya gema di dalam kepala, dan aku pun tak yakin, apakah ada yang mendengarkan. Semua cara sudah kujalani. Kuhampiri segala nama, kutempuh segala arah. Tapi jalan itu seperti labirin, yang membawaku kembali ke satu titik: diriku yang kosong. Tapi justru dari kekosongan itulah, aku mulai mendengar suara yang bukan suara. Yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam: halus, tapi menembus. Lembut, tapi menggetarkan. Seseorang — atau sesuatu — seolah bertanya: "Apa kamu lupa, kamu punya siapa?" "Apa kamu lupa siapa Nabi yang telah berjuang untukmu di akhir zaman?" Dan saat itu, aku tidak menangis. Aku hening. Karena aku tahu: aku sedang diingatkan, bukan dihukum. "My Angel", buatku, bukan makhluk bersayap. Dia bisa jadi bagian terdalam dari diriku yang selama ini diam. Yang sudah lama terkubur oleh luka, ambisi, dan kega...

Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi Malam itu, aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami. Lalu ada suara. Pelan. Tak jelas, tapi familiar. Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh. Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu. Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun. Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur. Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan. Seperti luka yang menolak ditutup. Mimpi ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai. "Kenapa kau masih di sini?" Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut. Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar. Aku sering terlihat normal di sian...

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa

Menyalakan Doa, Melepaskan Rasa  Bab 1 — Titik Nol: Doa dari Dalam Kegelapan Aku gak tau kapan terakhir kali aku bisa percaya sama hidup. Yang aku tau, selama bertahun-tahun… aku hidup dalam diam. Aku kehilangan arah, kehilangan suara, dan perlahan… kehilangan diri. Dulu, aku pernah percaya bahwa manusia bisa bangkit kalau dikasih alasan. Tapi setelah banyak jatuh dan kecewa — terutama dengan keluarga dan diriku sendiri — aku ngerasa… mungkin ini akhir dari segalanya. Aku gak kerja. Gak sekolah. Gak punya banyak teman. Dan setiap malam, aku cuma punya satu hal yang tersisa: doa. Bukan doa yang megah. Bukan yang teratur. Kadang cuma bisikan pelan ke langit-langit kamar yang gelap. "Ya Allah, tolong… kalau Engkau masih lihat aku, beri aku alasan buat hidup lagi." Aku gak minta jadi hebat. Aku gak minta cinta. Aku cuma pengen hidup… dan punya arah. Sampai suatu hari, di tengah keputusasaanku, aku memutuskan kembali sekolah. Paket C. Langkah kecil yang kelihatan sepele — tapi bua...

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu  Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama. Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat. Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu. Di ruang tunggu ini, aku sendirian. Tapi… aku tidak benar-benar sendiri. Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara. Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran. “Sakit ini bukan karena penyakit.” “Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.” Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat. Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam. Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal. Ia seperti aku, tapi tak sama. Ia adalah bayangan dari rasa yang tak ...