PROLOG
TRUST ME? NO. WATCH ME.
Aku pernah mengira orang yang paling sulit dipahami adalah orang yang banyak bicara.
Ternyata bukan.
Yang sulit justru orang yang jawabannya pendek.
“Udah.”
“Gak tahu.”
“Biasa.”
“Lupain aja.”
Empat kata yang bisa mengakhiri percakapan dengan rapi.
Aku tahu karena beberapa kali aku juga menggunakannya.
____________________________________________________________________
Sore itu aku duduk di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari jalan besar. Kursinya plastik. Meja-mejanya penuh bekas goresan. Kipas di langit-langit berputar sambil mengeluarkan suara tek... tek... tek... setiap beberapa detik.
Aku datang terlambat.
Temanku sudah hampir selesai makan.
“Lu dari mana?”
“Rumah.”
“Dari rumah selama itu?”
Aku duduk.
“Iya.”
Dia tertawa.
“Jawaban macam apa itu?”
“Pertanyaannya juga begitu.”
Dia menggeleng sambil mendorong satu gelas ke arahku.
“Minum.”
Aku meminumnya.
Dingin.
Terlalu manis.
Kami ngobrol soal kerjaan, uang, orang yang baru menikah, harga bensin, dan seorang teman lama yang sudah lama tidak muncul di grup.
Sampai namanya disebut.
Temanku langsung berubah nada.
“Orang itu jangan terlalu dipercaya.”
Aku berhenti mengunyah.
“Kenapa?”
“Ya... banyak cerita.”
“Cerita apa?”
Dia menatapku.
“Lu serius?”
Aku mengangguk.
“Serius.”
Dia mengambil sendok.
Mengaduk makanan yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk.
“Pokoknya ada aja.”
Aku menunggu.
Dia tidak melanjutkan.
“Terus?”
“Apanya?”
“Ceritanya.”
“Udah, nanti juga lu tahu.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau nanti tahu, kenapa sekarang gue harus percaya?”
Dia menunjukku dengan sendok.
“Nah. Ini nih.”
“Apa?”
“Lu.”
“Aku kenapa?”
“Ribet.”
Aku kembali makan.
Percakapan pindah ke hal lain.
Selesai.
Setidaknya, hari itu.
____________________________________________________________________
Aku tidak terlalu ingat kapan kebiasaan memperhatikan hal-hal kecil mulai muncul.
Mungkin memang dari dulu.
Aku cuma baru sadar belakangan.
Misalnya, aku sering memperhatikan siapa yang datang lebih dulu ke sebuah ruangan.
Siapa yang langsung mencari orang tertentu.
Siapa yang memilih duduk dekat pintu.
Siapa yang tiba-tiba memainkan ponsel ketika sebuah nama disebut.
Hal-hal kecil.
Tidak selalu berarti apa-apa.
Sering kali memang tidak berarti apa-apa.
Seorang yang duduk dekat pintu mungkin cuma ingin pulang lebih cepat.
Orang yang melihat ponsel mungkin memang sedang menunggu pesan.
Aku pernah salah membaca semuanya.
Lumayan sering.
Suatu hari aku mengira seorang teman sedang menghindariku.
Ternyata dia sedang pusing.
Hari lain aku mengira seseorang marah karena cara bicaranya berubah.
Ternyata giginya sedang sakit.
Ada juga orang yang kukira tidak peduli.
Ternyata dia hanya tidak tahu harus berkata apa.
Sejak itu aku mulai berhenti memberi nama pada sesuatu terlalu cepat.
Kalau aku melihat seseorang pergi, ya dia pergi.
Kalau seseorang tidak menjawab, ya dia tidak menjawab.
Sisanya...
Hmm.
Belum tentu.
____________________________________________________________________
Beberapa minggu kemudian aku berada di sebuah ruangan yang cukup ramai.
Aku tidak mengenal semua orang di sana.
Sebagian saling menyapa.
Sebagian sibuk dengan telepon.
Ada yang tertawa terlalu keras.
Ada yang sejak tadi duduk sendiri.
Aku memilih kursi di bagian belakang.
Dari sana aku bisa melihat pintu.
Seorang laki-laki datang sekitar sepuluh menit setelah acara dimulai.
Beberapa orang langsung menyambutnya.
“Wah, akhirnya datang juga.”
Dia tertawa.
“Macet.”
“Biasa.”
Seseorang menarik kursi untuknya.
Dia duduk.
Tidak ada yang aneh.
Setidaknya saat itu.
Di sebelahku ada seorang laki-laki yang sejak tadi diam.
Dia memperhatikan orang yang baru datang tadi.
Kemudian berkata pelan,
“Dia memang selalu begitu.”
Aku menoleh.
“Begitu gimana?”
Dia tidak menjawab.
Tangannya mengambil botol minum.
Dibuka.
Diminum.
Ditutup lagi.
Aku menunggu.
“Udah,” katanya.
“Udah apanya?”
“Gak usah.”
Aku mengangguk.
Beberapa menit kemudian dia berdiri dan pindah tempat.
Aku masih duduk di sana.
Laki-laki yang tadi dibicarakan sedang tertawa bersama orang-orang lain.
Dari tempatku, dia terlihat biasa saja.
Mungkin memang begitu.
____________________________________________________________________
Malamnya aku menerima pesan dari seseorang yang sudah lama tidak menghubungiku.
Lu masih kenal dia?
Aku membaca sekali.
Kemudian dua kali.
Aku membalas:
Kenal. Kenapa?
Tidak ada jawaban.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Tidak ada.
Besok paginya baru muncul balasan.
Gak jadi.
Aku mengetik:
Oke.
Aku hampir menekan kirim.
Lalu menghapusnya.
Menulis lagi:
Kenapa kemarin nanya?
Kirim.
Tidak dibalas.
Sampai sekarang.
____________________________________________________________________
Ada banyak kejadian yang seperti itu.
Kecil.
Terpisah.
Tidak cukup penting untuk diceritakan kepada orang lain.
Seseorang berhenti mengikuti seseorang.
Satu nama tiba-tiba tidak pernah disebut lagi.
Sebuah percakapan berubah ketika orang ketiga datang.
Orang yang biasanya banyak bicara mendadak memilih diam.
Seseorang meminta maaf untuk sesuatu yang tidak pernah kutanyakan.
Ada yang berkata,
“Lu jangan ikut campur.”
Padahal aku bahkan belum bertanya.
Ada juga yang bilang,
“Semua orang tahu.”
Aku pernah menjawab,
“Semua orang siapa?”
Dia tertawa.
Aku tidak.
____________________________________________________________________
Aku mulai mencatat.
Bukan jurnal.
Bukan penyelidikan.
Cuma catatan kecil supaya aku tidak mengandalkan ingatan.
Tanggal.
Tempat.
Siapa yang hadir.
Apa yang benar-benar kulihat.
Apa yang hanya kudengar.
Kadang cuma satu kalimat.
Kadang satu nama.
Kadang:
Aku tidak tahu.
Aku suka kalimat itu.
Pendek.
Tidak perlu dibela.
Tidak perlu dibuat terdengar pintar.
Kalau memang tidak tahu, ya sudah.
____________________________________________________________________
Lalu suatu hari aku menemukan catatan lama.
Aku membacanya sambil duduk di lantai.
Ada satu kejadian yang ternyata sudah kuingat dengan cara yang berbeda.
Versi di kepalaku terasa jelas.
Versi di kertas membuatku berhenti.
Aku membaca ulang.
Sekali.
Dua kali.
Ternyata aku dulu menulis sesuatu yang sekarang sudah tidak kuingat sama sekali.
Aku mengambil pulpen.
Menulis di bawahnya:
Mungkin aku salah mengingat.
Aku hampir mencoret kalimat lama.
Tidak jadi.
Kuberi garis kecil di bawahnya.
Biarkan.
Mungkin catatan itu lebih jujur daripada ingatanku.
____________________________________________________________________
Sejak saat itu aku mulai memperhatikan satu hal lain.
Bukan kejadian.
Cara orang menceritakan kejadian.
Ada orang yang mengingat detail terkecil.
Ada yang hanya ingat hasil akhirnya.
Ada yang yakin sekali.
Ada yang setiap dua menit mengatakan,
“Kalau gak salah...”
Ada yang berkata,
“Gue ada di sana.”
Padahal setelah ditanya lebih jauh, ternyata dia datang setelah semuanya selesai.
Aku juga pernah seperti itu.
Jadi aku tidak terlalu cepat percaya pada siapa pun.
Termasuk diriku sendiri.
____________________________________________________________________
Aku tidak sedang mencari sebuah rahasia.
Setidaknya waktu itu aku belum tahu bahwa aku sedang menuju ke mana.
Hidupku tetap berjalan.
Bangun.
Makan.
Kerja.
Pulang.
Membalas pesan.
Lupa membalas pesan lain.
Ketemu orang.
Menghindari orang.
Tertawa pada hal yang tidak lucu.
Kesal karena hal yang sebenarnya sepele.
Kadang merasa sudah memahami sesuatu.
Besoknya sadar aku cuma sok tahu.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada tanda khusus.
Tidak ada seseorang yang datang lalu menyerahkan sebuah rahasia kepadaku.
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa sesuatu yang besar sedang dimulai.
Kalau ada yang bilang saat itu bahwa beberapa kejadian kecil yang kuanggap sepele akan terus muncul di kepalaku bertahun-tahun kemudian, mungkin aku akan tertawa.
Aku mungkin tetap tertawa sekarang.
____________________________________________________________________
Yang berubah cuma satu.
Aku mulai melihat lagi.
Bukan melihat lebih banyak.
Melihat lagi.
Pada percakapan yang pernah kulewati.
Pada orang yang pernah kuanggap sudah kupahami.
Pada keputusan yang dulu terlihat sederhana.
Pada cerita yang terlalu cepat dipercaya.
Pada hal-hal yang semua orang sebut biasa.
Kadang aku menemukan sesuatu.
Kadang tidak.
Kadang aku hanya menemukan bahwa dugaanku sendiri ternyata salah.
Dan itu pun informasi.
____________________________________________________________________
Kalau kau membaca ini lalu merasa sudah tahu siapa aku, simpan dulu kesimpulanmu.
Kalau kau merasa ada sesuatu yang sedang kusembunyikan, mungkin ada.
Kalau kau merasa tidak ada apa-apa, mungkin memang begitu.
Aku tidak akan membantumu memilih.
Aku hanya akan menunjukkan apa yang terjadi sejauh yang mampu kulihat.
Sisanya akan muncul sedikit demi sedikit.
Orang-orang akan bicara.
Mereka akan diam.
Mereka akan mengingat.
Mereka akan lupa.
Mereka akan punya alasan.
Kadang alasan itu masuk akal.
Kadang tidak.
Kadang sebuah keputusan baru terlihat berbeda setelah kita tahu apa yang terjadi sesudahnya.
Dan kadang...
kita baru sadar sedang melihat sesuatu setelah semuanya terlanjur lewat.
Jadi kalau nanti kau menemukan sesuatu yang terasa ganjil, jangan buru-buru menyimpulkan.
Lihat lagi.
Kalau perlu, kembali.
Baca lagi.
Mungkin kau melewatkan sesuatu.
Mungkin aku yang melewatkannya.
Mungkin kita berdua.
____________________________________________________________________
Namaku akan muncul nanti.
Cerita ini juga akan membawa kita ke tempat-tempat yang awalnya mungkin tidak terasa saling berhubungan.
Aku tidak tahu apakah semuanya akan tersambung.
Aku tidak mau memaksanya.
Untuk sekarang, cukup satu hal.
Aku akan menceritakan apa yang kulihat.
Apa yang kudengar akan tetap menjadi apa yang kudengar.
Kalau aku menduga sesuatu, itu dugaan.
Kalau aku tidak tahu, aku akan membiarkannya tetap kosong.
Dan kalau suatu hari aku ternyata salah...
ya.
Kita lihat nanti.
TRUST ME? NO.
WATCH ME.

Komentar
Posting Komentar