ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...
Bab 3 — Tidak Semua Anak Bisa Bertumbuh di Tanah yang Sama
Aku tumbuh, tapi bukan di tanah yang subur.
Aku mekar, tapi dengan kelopak yang koyak oleh angin pertanyaan dan pandangan yang menghakimi.
Semua anak ingin tumbuh. Tapi tidak semua diberi tanah yang bisa menyuburkan. Ada yang tumbuh dalam dukungan, ada yang tumbuh dalam luka. Dan yang terakhir itu... adalah aku.
“Kamu kenapa sih jadi gini?”
Banyak yang bertanya. Tapi sedikit yang benar-benar ingin tahu jawabannya.
Aku tidak memilih menjadi seperti ini. Tidak memilih tanah yang kering dan keras. Tidak memilih bertumbuh dalam rumah yang retak, dalam lingkungan yang dingin, dalam situasi yang seringkali membuatku ingin menghilang.
Waktu kecil, aku hanya ingin dimengerti. Tapi yang kudapat seringkali adalah tuntutan. Tertib, rajin, pintar, patuh — semua itu seperti pupuk yang dipaksakan ke tanaman yang belum siap. Aku bukan tidak mau tumbuh. Tapi tanahku tidak sama.
Setiap anak membawa benihnya sendiri.
Ada yang cocok dengan sistem. Ada yang tidak.
Ada yang berbunga di taman sekolah. Ada yang hanya bisa tumbuh liar di pinggir jalan, tapi tetap indah jika dilihat dengan hati.
Aku pernah merasa gagal hanya karena aku tidak seperti anak-anak lain. Tapi sekarang aku tahu: bukan aku yang gagal, tapi mereka yang tidak menyediakan tanah yang cukup luas untuk semua jenis tanaman.
Tanahku penuh batu. Tapi dari situ aku belajar menggali.
Belajar bertahan. Belajar menyerap air dari hujan yang jarang. Belajar menyayangi diri walau tidak ada yang mengajarkan caranya.
Aku tumbuh dengan luka. Tapi luka itu tidak membuatku layu. Justru di situlah akarku menguat.
Aku tahu sekarang.
Kita tidak bisa menyamakan semua anak.
Tidak bisa mengukur semua dengan nilai rapor dan tingkah laku yang sopan.
Tidak bisa menilai dari seberapa cepat mereka paham pelajaran, tapi lupa melihat seberapa keras mereka bertahan hidup.
Beberapa anak mungkin tidak bisa menjelaskan rasa sakitnya dengan kata-kata. Tapi lihat cara mereka menatap, cara mereka diam, cara mereka masih berusaha hadir — di situ ada kekuatan yang tidak tertulis.
Aku adalah satu dari mereka.
Yang tak diberi tanah yang subur, tapi tetap tumbuh.
Meskipun pelan, meskipun sendiri, meskipun dalam sepi.
Kita semua hanya butuh satu hal:
Tanah yang menerima benih kita — apa pun bentuk dan waktu tumbuhnya.

Komentar
Posting Komentar