ORANG YANG MENATAP BALIK Kipas di kamar Ibu mati sejak semalam. Kata Ibu, semua cara sudah dicoba: ganti stopkontak, goyang-goyang kabel, sampai menepuk badan kipas dua kali seperti membangunkan orang yang pura-pura tidur. Pagi itu kipasnya sudah tergeletak di meja makan dengan kabel melilit di badan. Ibu menyodorkannya kepadaku sebelum rotiku habis. “Bawa ke Pak Hadi.” Aku berhenti mengunyah. “Ke Pak Hadi?” “Siapa lagi yang dekat? Kemarin Bu Isah juga ngasih setrikanya ke sana. Katanya sepuluh menit jadi.” Bu Isah yang belum lama ini bilang jangan terlalu sering ke sana. Aku tidak menyebut itu. “Kenapa? Kamu ada urusan sama Pak Hadi?” “Enggak.” “Ya sudah. Bawa.” Kipasnya ternyata lebih berat dari kelihatannya. Baling-balingnya terus menyodok daguku setiap kali aku melewati lubang jalan. Pintu bengkel terbuka seperti biasa. Dari jalan, kelihatan Pak Hadi duduk di bangku pendek menghadap meja kerja, kacamatanya melorot ke ujung hidung, solder di tangan kanan. Di bangku plastik dek...
Di Ujung Malam, Sebelum Hari Berganti
Langit malam sudah gelap sempurna. Jam di layar ponsel hampir menunjukkan pukul 23.59 WIB. Tapi di kepala, suara-suara masih ramai. Ekspektasi, tuntutan, kata-kata yang berulang kali diucapkan—seolah lebih keras dari detak jarum jam.
Di satu sisi, ada aku. Berusaha, mencoba, jatuh, bangkit lagi. Di sisi lain, ada mereka. Melihatku dari kejauhan, tapi dengan pandangan yang berbeda. Bukan seperti apa adanya aku, tapi seperti apa yang mereka ingin aku jadi.
Aku ingin menjelaskan. Aku ingin mereka melihat. Tapi seberapa keras aku berbicara, seolah suara mereka selalu lebih nyaring. Aku tersesat di antara realita dan ekspektasi yang mereka bangun sendiri. Aku berjalan, tapi langkahku tertahan. Aku berbicara, tapi kata-kataku tenggelam dalam kebanggaan mereka akan cerita-cerita lama.
Jadi malam itu, sebelum hari berganti, aku menulis. Bukan dengan amarah, tapi dengan kelelahan. Bukan dengan kebencian, tapi dengan kesadaran. Jika mereka hanya ingin bicara tanpa mendengar, mungkin saatnya aku berhenti berharap.
"Untukmu Tuan" lahir dari sini—dari titik di mana aku memilih menuliskan segalanya daripada terus menyimpannya sendiri. Sebuah lagu, sebuah perasaan, dan mungkin... sebuah keputusan.
Berikut Puisinya:
Tidak semulus itu jalanku—
kau lukiskan di udara dengan penggaris logam,
seolah hidup ini angka mati
yang bisa kau jumlah, kau kurangi, kau kunci.
Semua harapanmu itu semu:
bayangan yang kau tempel di dinding kamarku
sebagai pengganti jendela.
Jika sejenak kau coba menyelam
ke dalam sungai yang kau sebut "kesalahan"—
di sana, di antara bebatuan yang kau tuduh menghalang,
kutemukan arus yang menari
dengan bahasa sendiri.
Tapi kau hanya berdiri di tepian,
terpesona oleh cerita-cerita yang kau banggakan:
legenda tentang "kesempurnaan"
yang bahkan tak kau miliki.
Kini terlalu banyak coretan:
tinta merahmu mengeras jadi jeruji,
penghapusmu mengikis detak jantungku.
Biarkan aku menelan kekacauan ini—
mengunyahnya jadi peta buta,
menyusur labirin tanpa lampu,
dan menemukan langit
di antara retakan tanah yang kau sebut "kegagalan".
Tuan,
kita tak sedang bermain catur.
Aku bukan bidak yang kau geser sesuka hati.
Di sini, di sudut ruang yang kau abaikan,
kubakar semua skenariomu—
asapnya menari, lalu menjelma puisi.
Komentar
Posting Komentar