Langsung ke konten utama

Postingan

Bab 5 – 6 Malam Doa dan Alkohol

Bab 5 – 6 Malam Doa dan Alkohol Gue pernah takut rasa ini bikin gue salah langkah. Dan malam itu... gue gak jatuh karena benci. Gue jatuh karena terlalu rindu untuk jujur. Itu malam yang gak direncanakan. Temen-temen SMK gue ngajak kumpul. Udah hampir tujuh tahun gak ketemu. Waktu itu gue ngerasa, "ah, sekalian ngobrol, ketawa, mungkin bisa ngelepas sedikit beban." Gelas demi gelas... gue gak niat mabuk. Gue cuma... ikut. Menghargai. Tapi yang gue gak siap, bukan rasa alkoholnya, tapi gelombang rasa yang muncul setelahnya. Di tengah keramaian tawa, gue malah keinget Kak Raya. Bukan cuma wajahnya, tapi makna kehadirannya. Gue merasa kayak: “Gue gak bisa lagi pura-pura. Rasa ini harus keluar. Sekarang.” Gue buka HP. Gue ngetik. Pelan-pelan. Gak dramatis. Gak lebay. Tapi... jujur. Gue bilang semua: Bahwa dia adalah bagian dari doa gue. Bahwa rasa ini bukan sekadar suka, tapi bentuk syukur dan hormat. Bahwa kalau Tuhan kasih kesempatan, gue mau memperjuangkan dengan ca...

Bab 7 — 8 Melepaskan dengan Doa

Bab 7 — 8 Melepaskan dengan Doa Setelah membaca pesan itu, gue gak langsung hancur. Gak ada dramatisasi. Yang ada cuma... diam. Gue buka jendela kamar. Langit sore itu tenang. Dan di dalam diri gue, ada yang pelan-pelan berubah bentuk. Rasa itu masih ada. Tapi gak lagi berontak. Gak lagi minta dipahami. Dia jadi doa. Bukan doa untuk minta bersama. Tapi doa agar dia bahagia. Doa agar gue kuat. Dan doa agar cinta ini... tetap murni meskipun gak tersambut. Hari-hari setelahnya gue isi dengan lagu. Bukan buat viral. Bukan buat nunjukin rasa. Tapi buat menjaga api kecil yang dulu dia nyalakan — biar gak mati, meskipun gak lagi dia tiup. Lagu “Muliakan Cinta” dan “Di Keabadian” lahir bukan karena gue pengen dikenang, tapi karena gue gak bisa bohongin cinta yang pernah hadir dan bikin gue pulih. Setiap liriknya, adalah bentuk dari rasa yang udah gak minta balasan... tapi tetap ingin dikenang sebagai hal yang suci. Gue mulai posting pelan-pelan. Gak banyak kata. Gak kode lagi. Cuma si...

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

  Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal (Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir) “Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.” Setiap orang punya titik gelapnya. Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong? Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap, dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu. Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam. Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin, tapi karena mimpi. Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah. Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan. Dan sejak malam itu, aku tahu… ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku. Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai. Percakapan yang tak pernah dimulai. Pelukan yang tak pernah diberikan. Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar. Dan trauma yang menyamar ...

Bagian 1 – Perjalanan Dalam Diri Bab 2: Luka yang Menyapa dalam Diam

  Bagian 1 – Perjalanan Dalam Diri Bab 2: Luka yang Menyapa dalam Diam “Bukan karena aku tak ingin bercerita, tapi karena aku sendiri tak tahu harus mulai dari mana.” Diam itu bukan hening. Ia seperti seseorang yang duduk di sampingmu, tapi tak pernah benar-benar hadir. Luka itu datang bukan seperti hujan—yang kau tahu akan basah. Tapi seperti kabut, menyusup perlahan, tanpa bunyi, sampai kamu tak bisa melihat dirimu sendiri. Aku masih ingat, waktu aku kecil dan dunia terasa terlalu besar. Ada rasa asing di dada setiap kali aku masuk sekolah, setiap kali orang tuaku bicara tapi tak benar-benar mendengarku. Aku seperti hidup di antara orang-orang yang sibuk menata rumah, tapi lupa bahwa aku juga sedang bertumbuh di dalamnya. Saat itulah luka pertama datang. Ia menyapa tanpa suara. Menumpuk hari demi hari. Sampai aku lupa, bagaimana rasanya jadi anak-anak yang utuh. Kadang aku ingin marah, tapi tak ada yang bisa kupukul selain udara. Kadang aku ingin menangis, tapi tak ada yang bisa ...

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu

Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu  Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama. Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat. Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu. Di ruang tunggu ini, aku sendirian. Tapi… aku tidak benar-benar sendiri. Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara. Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran. “Sakit ini bukan karena penyakit.” “Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.” Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat. Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam. Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal. Ia seperti aku, tapi tak sama. Ia adalah bayangan dari rasa yang tak ...

Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi Malam itu, aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami. Lalu ada suara. Pelan. Tak jelas, tapi familiar. Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh. Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu. Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun. Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur. Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan. Seperti luka yang menolak ditutup. Mimpi ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai. "Kenapa kau masih di sini?" Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut. Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar. Aku sering terlihat normal di sian...

Bab 5 Ia yang Berdiri di Tengah Luka

Bab 5 Ia yang Berdiri di Tengah Luka Aku membuka mata, tapi dunia terasa kabur. Malam yang panjang telah usai, dan meski aku terbangun, seakan masih ada bayang-bayang yang mengikatku pada mimpi. Aku duduk, mencoba merasakan kehadiran diriku di sini, di ruang ini, tetapi ada sebuah ruang kosong yang begitu nyata. Rasa itu seperti berjalan tanpa tujuan, menabrak setiap sudut ruang yang seharusnya memberi tempat untuk aku kembali berdiri. Setiap helaan napas terasa berat, setiap detik berlalu dengan sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab: Apa yang sedang aku cari? Aku telah mencoba mencari jalan keluar, mencoba membebaskan diri dari beban masa lalu yang terus datang dalam bentuk mimpi dan kenangan, namun seolah ada sesuatu yang terus menarikku kembali. Lalu, saat itu, aku mendengarnya. Bukan suara dari luar, bukan suara yang datang dari mimpi atau bahkan dari orang lain.  Itu adalah suara yang berasal dari dalam diriku sendiri. Suara yang dalam dan penuh makna, yang mengingatkan...